Hitchhiker Indonesia (HHI), LAUTKU sayang, Rp 0,-

Makassar: Pohon Kering Ala Korea di Pulau Lae-lae

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Perjalanan tak terkira untuk jiwa yang haus Indonesia.
Tsaaahhh…. Gaya benar bahasanya. Etapi serius kok. Perjalanan ke timur Indonesia ini, kusebut sebagai Rp 0,- si Hitchhiker Indonesia. Kenapa? Karena semuanya serba gratis! Kok bisa? Iya donk…. Kesempatan, keberuntungan dan rezeki itu, alhamdulillah mengiringi saya beberapa tahun belakangan ini.
Yuk ahhh.. Ejie mau cerita nihhh..
(doc Ka Agus Sulaiman)
(doc Ka Agus Sulaiman)
***

Before:
/samalona-the-tosca-beach/

Foto-foto bisa lihat di:
https://www.facebook.com/ejie.belula.jie/media_set?set=a.276810959103079.63982.100003225317995&type=3

Makassar
September 2012

Pagi yang cerah kembali berpihak pada kami, rombongan yang akan melaut di kepulauan spearmonde, Makassar. Mereka terdiri dari Kapten Joni beserta beberapa perwira dan crew KRI Surabaya 591. Selain itu, teman-teman Sail Morotai 2012 yang tidak ikut berkeliling di saat waktu santai untuk pelesir pun ikut dalam rombongan haus keindahan bawah laut itu, termasuk aku.

(doc Ka Agus Sulaiman)
(doc Ka Agus Sulaiman)

Hari itu, rombongan tersebut, mendatangi satu dari tiga pulau yang akan disinggahi untuk melihat-lihat dan mencari spot cantik snorkeling dan diving. Dari sandar kapal di Dermaga Petikemas Makassar, kami berangkat menuju Pulau Lae-lae menggunakan boat milik KRI Surabaya 591. Adeuuhh… Ejie lupa namanya. Terbuat dengan bahan menyerupai karet berwarna hitam dengan bangku 2-2. Total bangku sih 10, tapi untuk 15 orang, muat sih di boat itu. Jangan dikira boat kecil itu jalannya pelan. Salah banget deh. Boat ini bisa membuat kami berteriak-teriak senang saking kencangnya. Kalah euy kalau main banana boat. Untungnya sih, per bangku ada pegangan di depannya, jadi aman. Resiko buat yang tidak kebagian bangku dan duduk ngejogrok di pinggiran atau di depan kemudi boat.

Udara di laut pagi itu segar. Aroma laut dengan berjuta ikan di dalamnya, menyambut kami dengan ceria. Seceria wajah penasaran kami mengenai pulau yang kami singgahi.

(doc Zela)
(doc Zela)

***

Pulau berpasir putih ini, dapat dijangkau menggunakan speedboat atau perahu nelayan dengan waktu sekitar 15 menit. Penyewaan speedboat ada di dermaga depan Benteng Fort. Pulau kecil dengan 400 keluarga ini memiliki luas 6,5 ha dan berhadapan dengan Pantai Losari.

(doc Zela)
(doc Zela)

Kebanyakan warna laut di Makassar ini hampir serupa. Biru, hijau dengan gradasi toscanya. Cantik dan segar di mata! Bakalan betah sih kalau memandang pantai-pantai indah di Makassar.

Karena waktu tidak banyak, kami tidak terlalu mengeksplor pulau tersebut. Katanya sih disana ada situs peninggalan sejarah berupa terowongan bawah tanah. Sayang tidak menjadi perhatian pemerintah hingga akhirnya tutup dikarenakan sampah dari warga itu sendiri.

Berbicara mengenai sampah, sepertinya, pulau kecil ini memang perlu perhatian. Karena ketika kami tiba di dermaganya, saja, sudah terlihat sampah yang bertebaran di bawah tangga. Yang terlihat sih, sampah plastik makanan dan terpal rusak yang mungkin dipakai untuk menutupi kapal yang bersandar. Ahhh… sayang sekali ya? Padahal jika saja kebersihan dijaga, tentu peminat yang datang kesana banyak dan bisa juga sebagai penambah penghasilan penduduk setempat kan dengan menjual hasil tangkapan mereka berupa ikan laut? Karena ternyata di Pulau Lae-lae ini, beberapa penduduknya juga menjual ikan bakar olahan mereka sendiri, lho?

Ikan bakar olahan penduduk Pulau Lae-lae. (doc pribadi)
Ikan bakar olahan penduduk Pulau Lae-lae.
(doc pribadi)

Waktu itu, Ejie ngga sengaja melewati seorang ibu yang sedang mengipas-ngipasin ikan yang dibakar. Sedikit mengobrol dan lupa namanya, Ejie tanya, apakah ikan itu dijual atau dikonsumsi sendiri?

Menurut ibu (muda) itu, jika tangkapan banyak dan ada wisatawan yang ingin ikan bakar, mereka menjualnya. Tentu aroma ikan bakar akan terasa sedap kan bila dinikmati setelah puas snorkelingan di sekitarnya? Dan mereka akan ada di sudut-sudut strategis tempat wiasatawan menikmati alam Pulau Lae-lae.

Ehh, meski pulaunya kecil, disana banyak kok warung yang menjajakan makanan dan minuman. Harganya juga ngga mahal menjulang tinggi. Cukup terjangkau di kantong, karena kami yang sudah berminggu-minggu berada di lautan, langsung menyerbu sebuah warung untuk jajan makanan kecil. Wahahahaaa….. maklumlah, stok isi kantin di kapal sudah menipis dan kami haus jajan, demikian pun aku!
*dasar Ejie noraaaaakkkk 😛

Jika saja penduduk disana diberi pembelajaran serta pengetahuan untuk mengolah kekayaan yang mereka miliki untuk menambah hasil olahan mereka, tentu kesejahteraan disana akan lebih baik. Walaupun sebenarnya kehidupan disana juga standar saja sih. Tapi alangkah lebih baiknya jika ada yang mau membagikan pengetahuannya kepada mereka, kan?

FYI, disana sudah ada listrik, namun sayang, belum ada penginapan untuk wisatawan yang mau bermalam di pulau tersebut. Jadi kalau berkunjung, sebaiknya memang menyewa perahu atau speedboat saja jika tidak lama berkunjungnya. Kalau ingin plus snorkelingan menikmati pemandangan bawah laut, dinegosiasikan dengan pemilik perahu.

Informasi lagi, di pulau ini juga belum ada penyewaan alat-alat snorkeling. Sebaiknya ya bawa milik sendiri saja agar tidak repot mencari penyewaan alat. Karena untuk latihan menyelam maupun sekadar snorkelingan, disana airnya juga jernih, kok. Jangan takut dengan bulu babi, saolnya sangat jarang ditemukan.

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Rombongan kami terus berjalan hingga menemui satu spot yang menurutku serasa berada di Korea atau Jepang yah? Memang sih, Ejie belum pernah kesana langsung, tapi kalau membaca dan menonton televisi yang menyuguhkan gambar-gambar layaknya pemadangan yang ada di depan Ejie, pantas kan?

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Bagaimana tidak dikatakan pantas, jika pohon-pohon kering dengan sedikit dedaunan berwarna hijau yang tampak dari kacamata minus Ejie itu, jajaran pepohonannya tersebut begitu cantik? Jajaran pohon-pohon itu, membuat berjuta kalimat untuk menggambarkannya dalam bentuk tulisan terekam dalam benakku.

Ahhh… jika saja Ejie tidak dipanggil-panggil Komandan Joni dan teman-teman untuk segera pergi dari sana, pastilah bisa lama Ejie menatap pepohonan kering itu. Sukkaaaaaaaaa 😉

Selain deretan pohon kering itu, menurut informasi yang Ejie peroleh dari bapak yang ada disana, dan hasil bacaan di sudut-terindah-di-pulau-lae-lae, ada juga spot cantik lainnya berupa batu pemecah ombak berbentuk segitiga.

***

Ceritanya hanya sedikit, soalnya kami tidak bisa berlama-lama di Pulau Lae-lae. Kami harus mengejar survey snorkeling dan diving di 2 pulau lainnya, yakni Pulau Khayangan dan Pulau samalona-the-tosca-beach/.

Jadi, sampai jumpa di cerita berikutnya ya teman-teman… Semangat berkelana! #gaya (jie)

***

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Iklan

6 tanggapan untuk “Makassar: Pohon Kering Ala Korea di Pulau Lae-lae”

    1. hai heniii.. salam kenal.

      manado ke makassar bukannya ngga terlalu jauh ya?
      coba kesana saja. malah sih lebih seru sm suami biar tambah lengket kan kl traveling sm suami? hehehee

      iya, foto di pohon2 itu emg tjakeph, hen.. 🙂

      1. Dari ujung ke ujung sih. Klo ga salah 1,5 jam. Udh pernah ke sana transit doang 😀 😀 suami yg udh pernah ke sana pas diklat. Pengen jg ke pantai Losari. Tetangga d Manado bnyk yg sering nyetel lagu Pantai Losari 😀

      2. ehm… kl losari, ejie no komeng deh, hen…

        tp utk pantai2nya, ejie suggessssssttt… biar makin enceeeess buat kesana
        *wiiinnkk… kabooorrr ahaahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s