Profile

Surat Cinta dari Tanah (yang katanya) Surga, Bag.1 – Oleh Githa Ghie

Githa Anathasia
13.11 (1 jam yang lalu)

ke saya

———- Forwarded message ———-
From: Githa Anathasia <githa.ghie@gmail.com>
Date: Wed, 15 Jan 2014 12:38:32 +0700
Subject: Surat Cinta dari Tanah (yang katanya) Surga, Bag.1
To:

***

Tanpa bermaksud mengurangi apa yang Mamah Gigith inginkan, Ejie memberikan sedikit bagian pembuka di awal ini.

Berikut adalah penuturan dari kisah Mamah Gigith (panggilan untuk githa.ghie), yang saat ini sedang bertugas mengajar anak-anak di Raja Ampat.

Ejie yang kangen pada semangatnya, ceritanya, serta ledekannya, tadi sempat juga berbicara meskipun hanya sebatas pada dunia maya, via postingan foto yang ada di timelinenya. Oia, percakapan kami bisa dilihat pada link berikut www.facebook.com/photo

Mamah Gigith menitipkan tulisannya untuk kumasukkan dalam blogku ini dengan seizinnya dan agar di link ke blognya juga, karena di tempatnya tidak mempunyai cukup daya untuk fasilitas internet. Terkadang untuk mendapatkan sinyal, ia harus ke Waisai.

Ejie juga melakukan editing hanya pada bagian MERAPIKAN PARAGRAF, SPASI, pemenggalan kalimat dan merapikan huruf kecil ke huruf besar saja, supaya enak dibaca. Proses editing ini tanpa menggangu 1 huruf, kata, maupun kalimatnya agar pesan yang ingin disampaikan itu, nyambung ke pembaca yang dituju.

So, i dedicated it for Ghie, her nice husband, her lovely daughter and the blog http://womaninspira.blogspot.com/

***

Githa and her student @ Raja Ampat, Indonesia. Love their smilling. Keep on that, dear mom ;) (doc Ghie)
Githa and her student @ Raja Ampat, Indonesia. Love their smilling. Keep on that, dear mom πŸ˜‰
(doc Ghie)

Dear teman- teman volunteer,

Hai apa kabar semuanya. Semoga baik – baik saja ya. Salam lestari bagi kalian semua dari tanah (yang katanya) surga ini, Raja Ampat.

Saya bertugas di sini, sebagai Community Development Manager dari Barefoot Conservation. Sebuah lembaga non-profit , bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup yang fokus di bidang penelitian dan pendampingan Β masyarakat di sekitar site penelitian. Yang kami teliti saat ini adalah Manta Ray (bekerja sama dengan Aquatic Alliance), Marine Conservation dan Awareness Project (Coral Survey, and Fish Survey) di beberapa site, antara lain :
Pulau Arborek (base camp kami), sekitaran Pulau Kri, dan bagian Barat pulau Mansuar.

Untuk pendampingan masyarakat, banyak hal yang ingin kami lakukan disini. Banyaaaaakkk sekali. Tapi, apa daya kami hanya bisa lakukan sebagian, tapi juga berusaha untuk lakukan sisanya di jelang waktu mendatang.

Salah satunya adalah mengajar. Mengajar adalah bagian yang paling menyenangkan bagi kami. Saat ini kami mengajar di tiga lokasi. Pulau Yanbuba, Pulau Yanbekwan, dan terakhir yang berada di site kami yakni di Pulau Arborek.

Selain memberikan edukasi pengenalan mengenai kelautan, kami juga turut mengajarkan basic pengenalan huruf, angka, baik dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Pasti bingung deh, kok ada basic huruf dan angka juga ?

Ya, kalian pasti gak percaya kan. Ada sekolah kok disini. Di Yanbuba dan Arborek, ada SD Inpres. Di Yenbekwan juga. Tapiiiii, yang gak ada adalah guru”nya. Atau berkurangnya jatah harian anak- anak untuk belajar. Seperti contoh, sewaktu pemerintah menetapkan bahwa jadwal sekolah dimulai di tanggal 7 Januari kemarin, tapi begitu kami sampai di sekolah tidak ada satupun guru atau murid yang hadir. Alasannya, guru-gurunya masih liburan. Hahhahaa… keren yaaa (-__-“)

Raja Ampat, memang menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia, bahkan di dunia. Begitu kata teman-teman ku disini yang berasal dari negara lain. Tapi, kalau kita sendiri sebagai bangsa Indonesia melihat keadaan disini, dari aspek sosial, pendidikan, infrastruktur , kesehatan, sangat dibawah standar rata-rata. Sudah beberapa kali kami disini harus melayani masalah kesehatan warga di pulau Arborek (site kami) dikarenakan suster yang harusnya bertugas di Puskesmas, hanya bertahan maksimal 1 bulan saja bekerja disini, entah apa alasannya.

Korupsi, kerap terjadi di sini. Kami, memang lembaga asing tapi kami bekerja secara non profit. Keuntungan kami lari kepada kepentingan warga lokal saja. Banyak sekali orang-orang yang mengatasnamakan pemerintah menarik biaya (tak terduga) kepada kami. Bilang untuk ijin lah, untuk operasional lah, banyak pokoknya. Seolah- olah mereka yang berkuasa disini.

Bahkan untuk kepentingan mengajar saja, kami harus (sedikit) berdebat dengan (orang yang mengaku) guru disini. Alasannya, kami belum diberi ijin oleh Kepala Sekolah yang menjabat. Padahal, kami sudah ijin berkali-kali dan diberikan keleluasaan mengajar. Kami mengalah saja, akhirnya kami mengajar di ruangan yang menjadi ruangan tidur kami (semacam barak) atau kadang menggunakan ruang informasi desa.

Saat ini kami membutuhkan buku-buku tulis, dan alat tulis (pensil) untuk anak-anak didik kami. Oh iya, disini tim mengajar ada saya dan Claire, serta saya juga membantu mengenai pengolahan sampah disini. Tim yang lain bertugas sebagai tim peneliti khusus kelautan.

Bila ada teman – teman yang bisa membantu saya untuk menyediakan buku-buku tulis, dan alat tulis serta buku bacaan anak-anak (bergambar lebih baik) untuk anak-anak usia 4 – 7 tahun. Tolong kabari saya segera ya.

Serta bila ada salah satu dari kalian berkenan menjadi volunteer untuk guru (yang memang bisa mengajar), sila kabari saya ya ke : githa.ghie@gmail.com

Lalu, untuk pengiriman buku tulis, buku bacaan, dan alat tulis silahkan ke (kami menggunakan alamat rekan kami yang berdomisili di Sorong, karena tidak ada jasa pengiriman di Waisai):

UP : Githa Anathasia / Simon Baden – Barefoot Conservation

PT.Intraco Dharma Ekatama

Jalan Rajawali No.66, Sorong – Papua – Indonesia

Barefoot wall (doc Ghie)
Barefoot wall
(doc Ghie)

Terima kasih ya teman-teman. Banyak cerita yang sebenarnya ingin daku share. Tapi, apa daya kami disini hanya bisa mendapatkan sinyal bila kami berada di Waisai.

Peluk cium dari jauh …


Salam Lestari,

*Githa Anathasia *

*Sustainable Tourism Practicioner and Consultant*

*Founder of Travel Addict <http://www.wetraveladdict.blogspot.com> – Eco
Travel Producer *
M : +62 812 962 77746 / +62 857 1429 6216 | Twitter : @GithaisGhie
<https://twitter.com/GithaisGhie>| FB : Githa Ghie Anathasia I Skype :
githa.anathasia I LinkedIn : Githa
Anathasia<http://id.linkedin.com/pub/githa-anathasia/23/505/86b/>
www.womaninspira.blogspot.com

*”A wise traveler never despises his own country.” – Carlo Gordon *
* Please don’t print this e-mail unless you really need too.


Salam Lestari,

*Githa Anathasia *

*Sustainable Tourism Practicioner and Consultant*

*Founder of Travel Addict <http://www.wetraveladdict.blogspot.com> – Eco
Travel Producer *
M : +62 812 962 77746 / +62 857 1429 6216 | Twitter : @GithaisGhie
<https://twitter.com/GithaisGhie>| FB : Githa Ghie Anathasia I Skype :
githa.anathasia I LinkedIn : Githa
Anathasia<http://id.linkedin.com/pub/githa-anathasia/23/505/86b/>
www.womaninspira.blogspot.com

*”A wise traveler never despises his own country.” – Carlo Gordon *
* Please don’t print this e-mail unless you really need too.

@ the school (doc Ghie)
@ the school
(doc Ghie)
Iklan

5 tanggapan untuk “Surat Cinta dari Tanah (yang katanya) Surga, Bag.1 – Oleh Githa Ghie”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s