cerita jiwa

The Wedding: Hari Bahagia [Kisah Pengantin-2]

Aku segera turun dari mobil dan berlari mengikuti Benny, adik lelaki Katin ke dalam rumah. Bergegas mengganti pakaian yang pantas dan mencari tampilan simpel agar bebas bergerak ketika mengambil gambar akad nikah yang kuhadiri. Kembali terburu-buru menaiki kendaraan yang sama, karena kami memang sudah sangat terlambat pada kesempatan penting tersebut.
***
Usai akad nikah di Masjid Muthmainnah Kuantan Singingi, Pekan Baru. (doc pribadi)
Usai akad nikah di Masjid Muthmainnah Kuantan Singingi, Pekan Baru.
(doc pribadi)

Before:

the-wedding-jago-peta-buta-peta-dan-rambo-kisah-sahabat-1/
Kompi lola banget dari tadi pagi. Dodooooooooollllll…. pfffftth~

***

Kuantan Singingi, Pekan Baru
December 07, 2013

14.30 Waktu Setempat

Melewatkan Moment

SEHARUSNYA sih, berada di tempat tersebut 3 jam sebelum acara di mulai. Keterlambatan ini karena kejadian di bandara yang terlewat 5 menit pagi tadi. Sudahlah, tokh aku kini berada di Masjid Muthmainah, Kuantan Singingi, Pekan Baru. Aku menyaksikan dari kejauhan, bersama Benny dan abang sepupunya, sumringah senyum kebahagiaan yang tampak di wajah kedua sahabatku itu. Pakaian putih dengan hiasan kuning mendominasi, dikenakan pasangan pengantin baru tersebut menambah garis ceria mereka siang itu.

Akad nikah yang dimulai pukul 13.30 waktu bagian setempat, berjalan hikmad dengan dihadiri orangtua dan keluarga dari kedua mempelai. Tidak terlalu ramai memang, karena akad nikah hanya dihadiri oleh keluarga yang bersangkutan. Keluarga Katin yang sebagian besar memang berdomisili di Kuantan Singingi juga Pekan Baru dan sekitarnya, serta keluarga Kawan yang sebagian datang dari Jakarta dan Medan, turut hadir memenuhi undangan yang lebih bersifat kekeluargaan ini.

Karena tidak mengikuti prosesi dari awal, sebagian informasi kuperoleh dari sahabat yang terus mengiringi langkah mereka di kesempatan tersebut, Kavri dalam balutan feminin. Kavri ini bertugas sebagai asisten Katin selama pra pernikahan hingga ijab kabul dan resepsi di kediaman mempelai wanita.

Kalau Kavri yang tomboy support mempelai wanita, Katin, aku mungkin lebih mensupport Kawan. Sebenarnya Ejie ini laki-laki atau perempuan sih? Kok dominan condong pro ke Kawan ya? Ahahahaa…. Kalau Katin sudah ada yang support, boleh donk Ejie pro ke mempelai lelaki? Biar adil. Porsi penugasan juga sesuai hati. Kavri yang mengalahkan Ejie telak dalam urusan perempuan, cocok kok sebagai asisten Katin. Mengurusi setiap printilan (detil) keperluan perempuan. Sementara Ejie yang ngga mau repot, lebih memilih yang simpel untuk berkutat di bagian pemotretan saja dan banyak berdialog dengan Kawan.

Kata Kavri, “Yang ijab kabul Kawan, yang keringatan Katin. Kak Ejie kemana saja? Gua cariin dari tadi ngga kelihatan. Sudah celingak-celinguk pula,” Kavri nyerocos banyak, Ejie tertawa. Aku lihat Kavri dari atas sampai bawah, WAW BANGET! Disulap jadi perempuan, ternyata. Cantik!

Meski tak sempat menyaksikan, aku tahu seperti apa gambaran disana, ditambah cerita Kavri yang terus mendampingi Katin. Sibuk dengan segala sesuatu kebutuhan Katin saat ijab kabul berlangsung.
#masih menunggu email jawaban Kavri nih..

Selesai ijab kabul, para photographer mulai sibuk mengarahkan kameranya pada kedua pasangan yang baru disyahkan menjadi suami istri tersebut. Aku yang tadinya hanya melihat dari luar masjid, berlari mencari posisi untuk mendapatkan hasil yang baik. Sayang, aku lupa tes kamera di dalam ruangan, sehingga hasilnya kurang memuaskan saat mereka memperlihatkan buku nikah berwarna coklat dan hijau itu. Perlu sedikit editan untuk mendapatkan gambar yang terang.

Pengantin yang diapit kedua orangtua mempelai. (doc pengantin)
Pengantin yang diapit kedua orangtua mempelai.
(doc pengantin)

Kedua pengantin melihatku dan disela pemotretan itu, mereka berbicara sambil tetap tersenyum. Pasti rumpiin keterlambatanku ini. Maaf ya teman-teman, aku sangat telat. Usai memotret dengan kedua orangtua dan keluarga, giliran kami mengambil gambar bersama di dalam masjid. 4 sekawan yang tetap narsis, hee?? Maaf pemirsa, ngga tahan, sudah kangen! 😀

***

Perbincangan Akhir Sesi Foto

SAMBIL berjalan keluar masjid, kuselipkan sedikit pertanyaan pada Kawan tentang hafalannya beberapa hari ke belakang. “Kawan, berapa kali tadi ngucapnya?”

“Dua,” jawabnya.

“Tapi lancarkan kan, Kawan?”

“Alhamdulillah…”

Kuucapkan kalimat yang sama dalam hati beserta do’a untuk kedua sahabatku itu. Barakallah pernikahan kalian ya kakak-kakak…. 🙂

Do’a berikutnya disampaikan melalui acara adat yang dilaksanakan sore hari di kediaman mempelai wanita. Aku dan Kavri pun mendapatkan kesempatan untuk mendo’akan kedua sahabat kami tersebut. Penunjukan dari kedua mempelai takkan kami tolak demi kebahagiaan mereka. Subhanallah…

Kami mengantarkan langkah Kawan dan Katin yang diarak jalan dari Masjid Muthmainnah menuju ke rumah Katin bersama keluarga tercinta untuk mengikuti prosesi selanjutnya.

***

Pertanyaan Via SMS

SEBENARNYA tulisan ini sudah selesai, tapi ada hal yang membuat Ejie sedikit tergelitik untuk bertanya pada Kawan, Katin dan Kavri. Diantara ketiganya, yang menjawab via SMS hanya Kawan. Sedangkan 2 lainnya masih pada sibuk.

Begini isi sms Ejie:

“Kawan, cerita sedikit donk waktu detik-detik menjelang ijab kabul? Rasanya gimana?”

“Rasanya jam lama banget berputar,” jawabnya.

“Kenapa lama? Sabar ya, Kawan… Lalu?”

“Nunggu sebentar. Keluarga aku belum siap, beberapa masih ada yang di make up. Setelah siap semua dan mau berangkat, aku baru ingat kalau maharnya belum diambil. Lari deh ke atas, trus diarak ke masjid. Ehh, sebelum jalan, tiba-tiba Titin datang kasih salam untuk jemput aku, ” terang Kawan.

Tahu ngga? Waktu Ejie baca sms dari Kawan, bahasanya Kawan itu bagus. Lucu pas bacanya. Bikin aku tertawa terpingkal-pingkal sampai ditanyain sama teman kantor yang duduk di belakangku. Aku ceritain dan kita ketawa semua. Tapi Ejie bingung waktu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Kenapa ngga ada lucu-lucunya ya?? Pengin teriak bilang sama Kawan, “Kawaaaaaannn… buat tulisan versi Kawan laaahh… biar pada ngerti apa yang Ejie maksud..”

***

DI tempat tinggal Katin ini, sejak Ejie melihat meski tidak dari awal, sepertinya sistem perempuan menjemput pengantin lelaki adalah adat yang biasa dilakukan disana. Atau mungkin bukan terbatas pada persoalan perempuan menjemput lelaki, bisa juga karena acara akad dan resepsi yang diadakan di tempat Katin. Mungkin akan terbalik ceritanya seandainya pernikahan terjadi sebaliknya. Ahh.. Ejie lupa tanya deh soal ini.

Berbicara mengenai adat-istiadat dari pernikahan, Ejie belum terlalu jauh mendalaminya. Apalagi untuk adat Pekan Baru, Riau yang baru kali ini Ejie saksikan. Ejie hanya menyampaikan apa yang Ejie lihat pada saat acara berlangsung saja. Dan sedikit meng-compare-nya dengan beberapa informasi yang Ejie peroleh. Sangat minim memang karena Ejie tidak sempat untuk mengeksplorenya secara lebih. Kalaupun tulisan Ejie kurang mengena atau ada yang tidak berkenan terhadap tulisan ini, Ejie mohon maaf ya? (jie)

#nantikan cerita selanjutnya tentang adat pernikahan di Kuantan Singingi, Pekan Baru.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s