cerita jiwa

Mabuk Nasi Lagi?

Kurebahkan badanku tanpa mengganti pakaian tidur. Kepala pusing, badan lemas, perut tak enak, dan mata sakit ditambah beberapa hari penuh dengan angka-angka di otakku. Baju kantor masih melekat, lengkap dengan kaus kaki dan jaket. Muntah terhebat hitungan selanjutnya menerpaku dalam perjalanan pulang ke rumah malam itu.

***

Jakarta
Oktober 25th, 2013

TAK MASUK AKAL?

Kejadian ini baru saja terjadi malam itu. Penyebabnya adalah melihat 2 piring nasi yang membumbung tinggi dan 1 piring nasi yang berada tepat dihadapanku dengan aroma nasi panas serta uap yang masih ngebul.

Ada apa? Mungkin itu pertanyaan bagi semua orang yang bersahabat dengan nasi. Kata teman-temanku, “Nasi kan makanan pokok Indonesia? Aneh kamu kalau ngga suka makan nasi.”

Inilah yang sesungguhnya terjadi padaku. Tak bisa makan nasi, tak bisa melihat nasi dalam porsi yang banyak, tak suka aroma nasi yang ada uapnya. Semua itu kenyataan bagiku.

Bukan karena bentuknya yang kata orang melihat keanehanku ini, nasi seperti ulat atau trauma di masa kecil? Bukan. Bukan itu alasannya. Something happened in my life that i can’t tell you.

***

SEMPAT kukirimkan panggilan pada ponsel dengan nomor baru di ujung sana, ingin menenangkan hati saja, namun tak ada sedkitpun sms reply darinya. Memang tak sebaiknya kuharapkan kembali karena takkan ada lagi kebaikan itu untukku.

5 menit masih tetap menunggu, mata perlahan mulai memejam, semakin tak kuat menahan kantuk yang menyerang. Berusaha mengerjabkan mata menahannya, masih ingin menunggu, tak sanggup, akhirnya tertidur. Lemas.

Aku terbangun. Duduk dan melihat arloji di tangan kiriku, waktu menunjukkan pukul 23.49 WIB. Kupaksakan berdiri meski masih oyong (limbung) dan mengganti pakaianku. Ke kamar mandi untuk bersih-bersih walau telat.

***

SUDUT dalam kamar itu, adalah posisi nyaman untuk menuangkan segala ide yang kerap menghampiri di malam hingga ke dinihari. Kala hanya bunyi jangkrik yang terdengar ataupun hembusan angin malam yang berbisik. Disaat cicak tak lagi mengeluarkan suara bercengkramanya, berebut nyamuk yang terbang di dekatnya. Disaat hanya bulan dan bintang yang terkadang menyapa dalam kesendirian raga.

Kertas kosong yang tadinya kupandangi itu akhirnya terisi juga dengan kalimat-kalimat panjang. Menghias tiap lembarannya. Otakku berjalan cepat, berlomba dengan jemari yang menari kian kemari. Berpacu memenuhi tiap baris dalam lembaran itu dengan memori yang tersimpan rapi, membawaku kembali pada perjalanan lalu, dimana ia mengajakku pada suatu trip. Perjalanan yang tidak hanya berisikan air, melainkan juga hal yang baru pertama kali kulakukan. Itukah rasanya nanjak? Awal kecanduan yang ditularkannya hingga membuatku mengikuti hati dan alam yang memanggil.

***

(doc pribadi)
(doc Ken)

1,5 TAHUN YANG LALU

BAYANGAN itu berkelebat kembali dalam ingatanku. Menggali memori yang hampir terendam, bak banjir yang menggenangi knalpot motorku.

Muntah terhebat yang kuingin menghilang saat kejaadian. Seorang teman yang tahu ketidaksukaanku, sukses mengusili di Pulau Sebesi, tempat kami bermalam ketika melakukan perjalanan bersama teman-temannya ke tiga pulau yang berada di Lampung  sekitar anak Gunung Krakatau. Tujuan akhir kami pun adalah trekking mendaki Gunung Krakatau. Kaget waktu itu. Pucat? Kapuchonglah penolong wajahku.

***

MALAM itu, menjelang makan malam di aula yang memang dikhususkan untuk makan bersama ala prasmanan, aku sudah tidak berminat masuk ke pekarangannya. Entahlah, suara sendok dan garpu yang beradu satu sama lainnya, aroma nasi yang tercium oleh hidungku, lumayan eneg. Melihat nasi yang tertutup dalam tempat besar dan terbayang begitu banyak nasi yang ada didalamnya, membuat perutku mual, kepala pusing dan agak limbung!

Hah, aku tidak ingin berada disana, diantara mereka yang terbiasa makan nasi. Begitu banyak piring yang terhampar nasi diatasnya, arrrggh! Pusing!!!

Alasan yang tak masuk akalkah? Cukup paham kenapa mereka menganggapku aneh dalam urusan nasi. Belum melihatnya, baru tercium aroma saja bisa membuatku pusing. Apalagi kalau makan nasi?? Baaahh! Makanya tiap kali nasi tak sengaja terlihat olehku, kacamata ini akan terlepas dari singgasananya dan tergantung rapi di bajuku.

Keisengan soal nasi, sudah sering kualami dari (mungkin) hanya usil ingin mengganggu saja tanpa berbuat apapun. Sebenarnya aku tak masalah jika mereka menggangguku sedemikian rupa, kan bisa bikin ceria kalau sedang berkumpul. Mungkin mereka sekadar ingin menggoda saja. Tak apa sih walau kadang aku sering merasa eneg. Takut kalau tiba-tiba nasi itu nyangkut di tenggorokanku dan tertelan. Aaaaarggh! Ngga kebayang!

Naah, yang aku tak tahan hanya setelahnya saja. Iya, setelah keisengan itu dilancarkan. Jika hanya sebatas menggoda sebutir atau dua butir nasi, mungkin aku hanya akan merasa geli dan menutup mulut atau mata. Tapi kalau sudah sepiring nasi disodorkan dan dijejali padaku, itu bisa lain ceritanya.

Dan hal tersebut terjadi….

Keusilan teman seperjalanan yang sudah kukenal ini, aku tak menyalahkannya kok. Aku saja yang berada pada tempat yang tak tepat. Seharusnya aku mengikuti saran hatiku agar tetap keukeuh tidak datang ke aula makan itu. Seharusnya aku tetap berada di home stay, menikmati kesendirianku menatap bintang dari terasnya. Seharusnya aku tak bergabung di makan malam yang penuh itu. Seharusnya aku tetap makan camilan yang kubawa dari Jakarta saja. Seharusnya aku tetap berada di kehangatan sleeping bag itu. Seharusnya aku tak melangkahkan kakiku ke aula itu. Seharusnya aku menyendiri, ohhhh seharusnya…
*telat!

Hmmm… aku berada disana, karena ia memikirkanku yang telah bermain air -kami snorkling seharian sejak tiba di pulau- (mungkin saja) mengkhawatirkanku bila perutku kosong tak diisi. Itu kalau tebakanku benar sih, soalnya ngga pernah tahu apa yang dipikirkannya karena memang aku tak pernah bertanya, dulu.

“Aku ambilin sayur ya?” katanya, sabar.

“Pusing ehh, sama bunyi-bunyi sendok itu, mas…. dan bau nasi,” mau nangis rasanya membayangkan begitu banyak orang yang akan makan malam disana. Dasar aneh!

***

(doc Pandu Bocah Petualang)
(doc Pandu Bocah Petualang)

AULA NASI

TAK bisa mundur, rombongan kami berjalan ke arah aula dengan riang. Mata berbinar, perut yang lapar, kicauan kompak dengan para cacing dalam perut mereka kali ya?

Aihhh.. aiiihhhh mereka bahagia, aku???

Suram rasanya malamku itu. Kepalaku sudah berdenyut, namun kutahan. Hidungku sudah mulai mencium aroma khas nasi. Kupingku sudah menangkap suara-suara sendok dan garpu yang berdenting, beradu satu sama lain. Was-was sudah menungguku sejak berangkat dari home stay kami tadi. Ahh, aku sudah merasa dingin, padahal udara malam itu biasa saja. Kapuchong miliknya yang kupakai, segera kutarik menutupi seleruh penglihatanku. Bersembunyi dibalik kapuchong itu sedikit menenangkanku. Berjalan di belakangnya, sengaja berada di urutan paling akhir, berlindung di dekatnya. Mengintip sedikit untuk melihat arah tempat duduk yang disarankannya. Dipojokan dan aman dari keramaian para penggemar nasi.

Sepiring sayur dan lauk yang diambilkannya kusuap dengan malas. Tidak ingin makan, kupaksakan saja menghargainya yang telah menjagaku. Seperti menelan sebongkah batu, keset!

Tiba-tiba teman usil itu, menyodor-nyodorkan piringnya ke arahku. Entahlah apa isi di piringnya itu. Sudah jelas, nasi. Aku tak mempedulikannya karena lebih memikirkan kejadian yang pasti akan terjadi padaku nanti. Sudah terprediksi. Ia kah yang menolongku? Lupa! Soalnya pandangan sudah mulai ngabur dan lemas.

Ampun! Jangan sekarang…” teriak hatiku.

Sesaat kemudian, dalam hitungan kelima suapanku, “Mas, ngga kuat. Pengin keluar.”

“Kenapa? Tahanlah,” santai.

“Ngga bisa, mas… pengin kabur,” eneg.

Percakapan tak terlihat karena aku yang bersembunyi, kurang lebih seperti berikut.

“Masih ramai, lho… kamu gimana mau keluar?” tanyanya lagi.

“Bisa, mas..” melirik dari balik kapuchong, meletakkan piring yang tak habis isinya dan wuuuusssh…. aku berlari karena takut akan tumpah apa yang sudah membludak dalam tenggorokanku saat itu.

Kucari tempat teraman untuk memberikan tempat bagi perutku yang akhirnya lega terkuras. Habis tak bersisa hingga titik pahit terakhir, bersama air yang mengalir asin dari mataku.  Lega? Lega darimana?

Hishhhh….. aku benci keadaan ini. Sudah berlangsung lama dan menahun, selalu saja kejadian seperti ini masih terulang lagi? Mau sampai kapan begini?

Tidakkah kasihan pada dinding-dinding perut juga tenggorokan yang terasa perih sesudahnya? Tidakkah bisa berdamai kembali dengan para nasi itu? Lalu, bagaimana kabar lambung? Tidakkah ingin mendengar kembali apa yang dokter katakan mengenai lambungmu? Aku bersandar pada tembok didepanku, mencoba menenangkan otak kalutku, membiarkan sisa-sisa perutku mengeluarkan apa yang menjadi kehendak perutku.  Terus dan terus hingga tenggorokanku terasa perih. Sakit menelan..

Pahit, pahit dan pahit. Hanya itu yang terasa di akhirnya. Hal yang sama sekali tak ingin kurasakan lagi. BLAH!

“Ini minum,” tiba-tiba saja ia sudah berada di belakangku membawakan air mineral. Kuteguk untuk menghilangkan pahit dan perih di kerongkongan.

“Kamu baik-baik saja? Kenapa lari? Keluar semua ya isi perutmu?” ia menenangkanku.

Ingin menatapnya, tapi tak berani. Kutundukkan wajahku, menyembunyikan segenap asa yang tersimpan. Ingin aku sembunyi dibalik jaketnya itu. Ingin membenamkan seluruh gundah, ingin membuangkan semua pahit, ingin menangis sejadi-jadinya dalam kesabarannya, tapi tak berani. Tak berani karena aku memang hanya bisa memendamnya saja. Menelan bulat-bulat apa yang terjadi padaku. Menahan apa yang hatiku ingin katakan, karena aku tak pantas untuk kebaikan dihadapanku ini. Cukup bagiku hati sabarnya itu saja.

“Ayo pulang. Ini aku belikan pisang goreng hangat. Manis. Isi perutnya biar ngga kosong,” perintah? Aku tak menolaknya jika kebaikan itu untuk diriku. Sebuah kebaikan hati? Pisang goreng manis pemberiannya yang tadinya tak ingin kumakan karena takut keluar lagi setelah tertelan, masuk juga di tenggorokanku dan alhamdulillah tetap berada di tempatnya.

Aman setelahnya karena ada dia bersamaku. Jelas kuingat, meski sembunyi di balik tembok, ia menemukanku. Menanyakan kondisi, menjaga, serta mengajakku pulang, berpisah dari rombongan yang akan barbequean malam itu. Hhh.. kapan lagi kesempatan itu ada?

Bukan hanya karena pisang gorengnya kurasa, tapi kesabarannya yang membuatku menerima setiap kalimat yang mampu dicerna otak lemasku saat itu. Pisang goreng pengantar kesabaran? Hohoooo… bolehlah kusimpan pisang goreng manis itu dalam catatan memoriku? Bolehkah mengharap tak hanya sekadar berucap di 1,5 tahun yang lalu saja? Bisakah aku….. Ahh sudahlah. Cukup kupinta padaNYA saja ketulusan bagi kekosongan ini jika masih tersisa harap itu, NANTI….

***

Kembali pada nasi? Entahlah, sampai kapan pengaruh nasi ini akan hilang. Sudah belajar, tapi tetap saja kejadian serupa terulang kembali. Tetap kalah dengan nasi. Aku teringat pada teman komunitasku yang mengatakan pada seseorang untuk mengajariku berdamai pada nasi. Sampaikah pesan itu? Sepertinya sih ngga, kenyataannya, aku berada di lingkup itu. (jie)

***

#bila harap tercipta dalam do’a, ingin bintang kembali 😦

Iklan

6 tanggapan untuk “Mabuk Nasi Lagi?”

    1. hai winny….

      di lampung, win.. liat di fb album krakatau ejie, ada tuh..
      tulisan ejie ttg pulau yg ejie kunjungi disekitar anak gunung krakatau juga ada, wlw belum semua. coba search.. ejie lupa judulnya. nanti jie cari deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s