NANJAK penuh rasa

3S Tektok: Wisuda S2 Sindoro – Part 3

Kaki lambatku masih setia dengan kesantaiannya.
Bagaimana tidak?
Keempat temanku sudah berpacu dengan dengkul racing mereka.
Kurasa mereka sudah mencapai puncak melihat keindahan alam di atas sana.
Biarlah, toh sudah konsekuensiku untuk tidak muncak karena kaki kiri yang keceklik di Gunung Sumbing, juga lutut kiri akibat jatuh di Gunung Tampomas beberapa minggu sebelumnya, membuatku cukup menikmati pendakian santai ini.
Tak apa, masih ada kesempatan jika kali ini tak bisa sampai ke puncak.
Yuk ahh, syukuri pendakian Sindoro ala kaki lambatku saja.
***
(doc pribadi)
(doc pribadi)

Before:

3s-tektok-siput-di-sindoro-part-1/
3s-tektok-bukit-berlipat-sindoro-part-2/

***

Gunung Sindoro
Oktober 11th, 2013

Wuaaaaa…. benar-benar pendakian 2S di Sindoro ini berasa bebas memotret. Horeee….. Betapa tidak, aku ย menjumpai banyak pesona ciptaan Tuhan disini yang membuatku tak henti mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah dan terima kasih Allah.

Tidak hanya tumbuhannya, tetapi hewan-hewan kecil lucu dan membuatku tak ingin melewatkannya dengan tak mengabadikan si lucu itu. Senang deh. Terima kasih ya teman-teman, kalian membiarkanku menyenangkan rasa kali ini. Hihiii…… padahal ngga tahu deh, mereka sebetulnya ikhlas ngga tuh ninggalin aku di ย jalur trekk sendirian? Maaf yaaaaaaa…

***

Dari pos 4 (doc pribadi)
Dari pos 4
(doc pribadi)
  • Pendaki Berkuncir

14.51 WIB

Aku terus saja menapaki bukit yang tak ada habisnya itu. Perjalanan dari pos 4 ini, kurasakan mulai bertambah diperlukan ketahanan lutut yang prima. Kenapa? Tak sedikit aku harus memanjat batu yang lumayan. Ada jalanan mudah sih kalau lutut dan kaki ngga sakit, bisa memintas di jalur ilalang yang juga sudah dijejaki oleh pendaki. Paling kita hanya perlu berpegangan pada rumput di kanan-kirinya saja. Kalau sudah ahli, biasanya ngga perlu pegangan, lari saja seperti biasa di jalanan normal.

Ini tanaman apa ya? (doc pribadi)
Ini tanaman apa ya?
(doc pribadi)

Sesekali aku beristirahat dan mengambil gambar yang menurutku bagus. Sesekali aku harus berhenti, mengistirahatkan kaki-kakiku. Disaat lain, aku berhenti karena berpapasan dengan pendaki lainnya yang hendak turun. Terkadang berbincang kala mereka menyapa atau saat mereka pun berhenti melepaskan lelah.

Satu ketika, aku hanya terdiam di tempat menyaksikan para pendaki-pendaki aktif yang….. WOW! Mereka berlarian dari atas ke bawah-tempatku berada- dengan membawa carrier tinggi melewati batas kepala mereka.

Dan ummm…. tanpa sadar, kututup mulutku, memincingkan mata memastikan dari balik kaca minusku ketika melihat di kejauhan, seseorang berkuncir kuda, berada di posisi paling depan, bertiga dengan 2 teman lelakinya, berlarian menuruni gunung. Huwaaaaaaawww…. salut kali aku. Cckkkck.. perempuan hebat! Senyum-senyum sendiri deh aku. Waahahahaaa… Kenapa? Ngga, aku hanya menertawakan diriku yang berbanding terbalik dengan si kuncir kuda. Hheheeeh..

Ke arah padang edelweiss atau cantigi? (doc pribadi)
Ke arah padang edelweiss atau cantigi?
(doc pribadi)

Aku mah, banyakan diledekin kalau ngegunung. Wkwkk… Apalagi masalahnya kalau bukan karena lambat ;P

***

Langit cerah menuju arah puncak (doc pribadi)
Langit cerah menuju arah puncak
(doc pribadi)
  • Padang Cantigi dan Puncakkah?

16.02 WIB

Tiba di sebuah padang luas dan menghampar ilalang kuning yang mengapit. Bagus deh ditambah dengan perpaduan langit yang kontras memberikan biru dan putih diatas tempatku berdiri. Dihiasi hijau dan merahnya daun-daun cantigi. Selain itu, beberapa pohon yang hanya terdiri dari ranting-ranting tanpa daun pun memenuhi padang yang sarat dengan tanaman itu.

Oh iya, aku lupa. Kalau dilihat dari peta Gunung Sindoro ini, tidak ada tuh yang namanya padang cantigi. Ada tertulis padang edelweiss. Tapi, mana edelweissnya ya? Malah sebelum padang cantigi ini, aku melihat edelweiss. Hmm… kenapa bukan hanya di jalan biasa sih aku buta peta? Di gunung yang jelas-jelas aku potret petanya saja, masih salah juga membacanya. Ihhh.. jangan ketahuan sama Kawan, omย harr, Seanย atau kaperahย deh. Bisa jadi bahan ledekan selanjutnya nanti ๐Ÿ˜€

Perjalanan santai dari pos 4 ke padang cantigi ini kurang lebih memakan waktu 1 jam. Itu ukuran buatku looohh.. Hehehe

Di jalur ini, banyak juga bebatuan, kerikil pun tampak di sekitarnya. Kurasa, berjalan disini juga harus berhati-hati jika tidak ingin tergelincir jatuh terperosok bebatuan kecil. Karena bebatuannya pun terselip pasir yang berjalan jika dipijak.

Ugkkh… butuh istirahat euy, sembari mencari-cari spot bagus mengambil gambar di padang ini. Kuintip ke arah atas. Tak ada tanda-tanda puncakkah? Masih jauh kali ya? Tak apalah. Toh aku berjalan sambil menunggu teman-temanku yang pasti akan kutemui juga saat mereka turun nanti. Padahal sudah hampir pukul empat, kenapa tak satupun dari mereka yang kulihat turun ya? Aneh.

***

Cantik ya? (doc pribadi)
Cantik ya?
(doc pribadi)

Kududukkan bokongku pada sebuah batu lumayan besar di bawah pohon cantigi yang terlindung dari sinar mentari. Ngga panas sih, karena sedari tadi kan kebanyakan kabut saja. Bukan panas sinarnya sih, tapi silau. Mataharinya tepat mengenai mataku. Kuselonjorkan kakiku pada batu di depanku yang agak tinggi agar menaikkan darah serta melegakan sejenak betis lelahku ini. Sejak kejadian jatuh dan keceklik, kaki dan betis kadang berasa gemuk. Makanya sesekali diistirahatkan. Biasanya, aku mana tahan tiap sebentar berhenti. Malah berasa cepat capek dan badan jadi dingin. Hiiiiiyyy…. ngga tahan dingin!

Aku tidak sembarangan mengambil posisi duduk, soalnya aku mengincar sebuah spot yang kulihat bagus untuk diambil gambar. Sudah dikeker dari jauh tadi. Okeee….. cekrek!

Cwria cantigi (doc pribadi)
Ceria cantigi
(doc pribadi)

Sedang asik menenangkan nafas untuk mengambil satu objek lainnya, tiba-tiba aku mendengar suara memanggil.

“Ejieeeee….” dari ataskah atau hanya gemerisik daun yang menyuarakan namaku ya? Pendengaranku kah yang salah? Terdiam sejenak.

Sudah donk, jangan berpikir yang aneh deh, positif saja, Ejie..” bathinku, berdo’a lalu mengarahkan kamera pada sudut lainnya.

Tak lama…

“Ejieeeeeee…. rotinya sudah mau habis nih. Cepatan naik, sedikit lagi sampai. Kalau lama, ini biskuitnya kita habisin lho!?” suara Erore! Aku tahu, karena dari tadi, hanya pada Erore aku minta biskuit.

“Nyak Ejieeeee….. cepatan naik!” hha… suara adek gunungku, Anja!

Spontan aku tak ragu menjawab, “Iya, iyaaaaaa…. Ejie naik. Sudah dekat ya puncaknya?” aku tertawa. Lho, kok bisa sampai? Kan ngga target? ๐Ÿ˜› Rezeki deh, masih dikasih kesempatan bisa sampai pada puncak. Ngga terasa ya jalan santai?

Kubereskan peralatan memotretku. Berdiri dan beranjak mencari sumber suara diatasku. Jadi semangaaaaaaattt… meski jalan tetap saja lambat. Hehee… Kuraih jumputan pohon cantigi membantu mengangkat beban badan menapaki bebatuan, melalui beraneka warna cerah cantigi. Memandangi langit yang biru dan hoplaaaaa…… aku melihat plang diatas sisi kiriku.

Plang puncak??? Huraayyy ;) (doc pribadi)
Plang puncak??? Huraayyy ๐Ÿ˜‰
(doc pribadi)

“Ini sudah sampai ya?” teriakku, bahagia.

“Pasti Ejie nyengir deh pas nongol ntar. Buruan, Jieee…. Lama mah,” itu Ricky! Bhaaahaha…. tahu saja dia kalau aku sudah nyengir cengengesan dari arah datangku ini.

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Dan begitu kepalaku nongol serta memperlihatkan cengiran khasku, Ricky berkata, “Tuh kaaaaaannn….. nyengir si Ejie. Waakaakaaka…” pecah tertawa kami. Ingin kupeluk mereka semua, keluarga bawelku yang ternyata tetap menunggu kedatanganku di puncak Gunung Sindoro ini. Tiba-tiba kangen bawelnya mereka, xixixiiixi…

Puncak yang kudapati ketika menginjakkan kaki, tampak sedikit muram. Kabut tipis dan perlahan menebal mulai menutupi. Tak lama sih, lumayan membuat badanku merinding karena dingin. Melihat sekitar barang sejenak. Mengatur nafasku.

Saat kuinjakkan kakiku lebih ke arah mendatar di puncak Sindoro, Ky melanjutkan kalimatnya, “Sana, kerjain dulu rutinitasnya kalau sudah sampai puncak.”

Ky, Anja dan Erore. Mereka yang kerap mengajakku ngegunung. Mereka yang paham kekuranganku, namun tak pernah mengecilkanku. Mengajakku artinya melatihku tanpa mereka menyadarinya. Mereka pun hafal dengan yang selalu kulakukan jika sampai pada suatu puncak gunung, penuh perjuangan. Tak mudah seirama dengan kaki yang lambat namun selalu mencoba meski terkadang dipenuhi dengan panggilan teriakan.

Bukan, mereka bukan membentak atau memarahiku. Mungkin itu sebagai salah satu bentuk sayang mereka padaku. Tak ingin meninggalkan, tak ingin salah seorang teman pisah terlalu jauh dari timnya, karena alam memang tak bisa ditebak. Jadi, jika sesekali mereka berteriak memanggilku yang lambat, aku cukup mengerti kenapa dan harus bagaimana.

Apa yang mereka hafal seperti Ky yang mengingatkanku, tak lain adalah bersyukur padaNYA. Iya, salah satu bentuk syukurku, selalu melakukan sujud syukur atas 1 lagi pencapaian kesabaranku yang tak kunjung sempurna yang berhasil kutempuh. Per gunung yang aku daki, insya Allah. Bentuk latihan untuk hatiku pada jalur kehidupan yang layaknya mendaki gunung. Penuh liku, kejutan tak disangka, kerikil, tanjakan, sesekali mendatar, senang, susah, perjuangan dan hak untuk bahagia. Amiiiinnn…. amiiiinnn…. Semuanya adalah latihan kesabaranku.

Sinar hangat yang menyambut kedatangan telatku di puncak Sindoro. Terima kasih, Allah... (doc pribadi)
Sinar hangat yang menyambut kedatangan telatku di puncak Sindoro. Terima kasih, Allah…
(doc pribadi)

Ketika selesai mengerjakan rutinitasku, langit kembali berseri, memberikan sinar terangnya yang menghangatkan tubuh berpeluh ini. Subhanallah…. Terima kasih Allah. Aku bisa melihat kawah di bawah sana, terang.

“Ejie, sana foto dibawah. Kita sudah tadi. Ejie kan belum. Erore fotoin deh,” Erore menawarkan. Tak perlu disuruh dua kali, aku bergegas menuruni bebatuan yang berfungsi sebagai pijakan. Siap gaya! ๐Ÿ™‚

Yeaaayy.... been there, Sindoro. Thank's Allah dan teman-teman. (doc pribadi)
Yeaaayy…. been there, Sindoro. Thank’s Allah dan teman-teman.
(doc pribadi)

Bahwa buah dari kesabaran adalah hasil terbaik yang akan diperoleh melalui perjuangan bila mampu melaluinya dengan ujian yang diberikan. Jangan pesimis, tapi yakinlah jika kita mampu menghadapinya. Just try and never give up for your happy life. Keep on smile, Ejieee…. (jie)

Just feel ur atmosphere, bintang.. (doc pribadi,  taken by Erore)
Just feel ur atmosphere, bintang..
(doc pribadi, taken by Erore)

#bahwa bintang adalah pelajaran dan pelatih sabarku…. FEEL U THERE ๐Ÿ™‚

***

Iklan

4 tanggapan untuk “3S Tektok: Wisuda S2 Sindoro – Part 3”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s