LAUTKU sayang

Pulau Pari: Rindu Laut [3]

Semua sudah tak sabar untuk menceburkan diri ke lautan.
Terlihat dari wajah-wajah antusias rombongan kantor yang dibawa Ky, Ken dan Erore.
Terutama anak-anak yang sejak kedatangan telah berulangkali bermain air di pinggiran pantai, seolah tak rela kehilangan waktu dengan sang air.
Ejie pun demikian.
Kapan Ejie bisa bertemu dengannya di laut?
Sudah ngga tahan ingin menuangkan niat, nangis di laut!
Lho, kok kenapa, Ejie?!??
#halaaaaaahh
***
Okeee... Pari! (doc pribadi)
Okeee… Pari!
(doc pribadi)

Pulau Pari
September 2013

  • The Brief

Selesai makan siang, rombongan bersiap-siap menuju dermaga. Snorkling set berupa masker, snorkle, fin dibagikan berikut lifevest. Niken memberikan arahan apa saja yang harus dilakukan ketika snorkling. Menjaga peralatan snorkling yang telah dibagi, merupakan tanggungjawab per orang.

Setelah briefing, rombongan Safety Dept bergerak ke tugu ikan pari yang ada dan beraksi. Foto gaya deh semuanya 😀

***

  • Overload dan Rasa

Kapal nelayan ini terasa overload untukku. Betapa tidak, alamaaaakk… penuhnyaaa… hahaaha. Kenapa semua seperti tak rela berpisah ya? Atau memang dikondisikan berada dalam 1 kapal saja? Ejie tak tahu deh. Ikut saja.

Kapal yang terombang-ambing mengikuti ayunan gelombang air laut, disertai dengungan mesin kapal, membuat beberapa peserta rombongan khususnya anak-anak terlelap dalam perjalanan menuju spot pertama menyelam. Eitss, bukan pure selam lho, tapi sebatas menikmati keindahan alam bawah laut dari atas air lautnya saja. Sementara, bapak-bapak asyik mengobrol dan para ibu yang menjaga anak-anaknya. Tak semua anak kecil sih, hanya sekitar 8-10 anak saja. Sedikit remaja juga ada dan membawa pasangannya. Heheeee…

Ehh, itu para bocah Ejie perhatikan dari awal, ada yang benar-benar aktif deh. 1, 2, 3 diantaranya! Mata dan senyum mereka! Tatapan mata cerdasnya menatap luas lautan biru yang terhampar di bawah kapal yang kami tumpangi. Hmm.. aku bisa menangkap, seperti apa makna tatapan mata itu. Kurasa, ia akan menjadi seorang petualang alam nantinya. Tangguh!

Aku memperhatikan sekitar, memang hanya perairan saja, sungguh, aku mencintai lautan ini dan terlalu kangen pada aromanya. Sudah berapa lama aku tak bersamanya? Sudah berapa lama aku terpisah darinya? Semua hanya bisa terasa dalam anganku saja.

Heii, apa ini?? No more tears, dear… Enjoy the sea that u missed! Kualihkan pandangan ke sudut lainnya. Untung aku tetap menggunakan sunglasses redup ini walau lumayan transparan. Cukup untuk menutupi kerinduanku padanya. Pada air yang mengalun, pada birunya air yang beriak, pada langit terik diatas sana, pada biru dan putih diatas sana, pada gelombang, pada riak air yang terkena hempasan badan kapal, pada kehijauan yang tampak dari kapal ini. Semuanya! Aku merindukannya! Sesekali kupotret kejauhan yang tampak dalam garis mata minusku ini.

Aku selalu merindukannya. Cerita, kehadiran, serta kesabarannya, sampai kapanpun…

***

  • Snorkling Spot 1

Pukul 14.30 WIB

Cipratan air dari hempasan badan kapal mengenai penumpang tatkala ombak besar menghampiri kapal kami. Penumpang barisan kiri spontan bergerak membuat kapal sedikit oleng. Sementara yang sibuk memotret pun segera melindungi kamera masing-masing.

Kapal semakin mendekati spot snorkling pertama. Wajah ceria semakin jelas. Anak-anak seperti mendapat kekuatan baru ketika Pak RT yang turut bersama kami berkata,”Kita sudah mau sampai.”

Seperti mereka, aku juga sudah ngga sabar untuk segera nyebur disana, seputar Pulau Pari dan Ejie kembali lupa nama spot pertama tempat kami snorkling itu, hhe….

Rudi, keponakan Pak RT yang ikut ngawal, mencari tempat meletakkan sauh agar kapal bisa berlabuh. Dan ketika kapal sudah benar-benar berhenti, mesin dimatikan, tanpa ayal lagi, byuuuuuuuuuurrrr… suara khas ceburan itu kudengar.

Aku memang tak langsung terjun ke air. Cukup memperhatikan mereka dari posisi dudukku. Menangkap keceriaan mereka, menikmati setiap senyuman yang tersembul dari balik gigi-gigi putih mereka.

Ky, Ken pun sudah lebih dahulu nyemplung bersama teman-teman kapal. Ken yang bertugas memotret dari dalam air sudah beraksi. Ky yang nyemplung ditemani lifevest pun menjaga mereka. Erore bertugas memotret dari atas kapal. Aku cukup melihat dan menunggu giliran turun.

Ken, fotonya belum dishare ini, jadi Ejie tak bisa upload foto underwaternya deh. Sabar ya buat yang baca…. 😀

Psssttt… sebenarnya Ejie sambilan pemanasan buat kaki Ejie yang ngga kepengin ada keram saat bermain air nanti. Ingin menyapa terumbu karang di bawah laut itu. Ingin berlama-lama di bawah sana. Hihiiii… ayoooo kakiiiiiiiiiii… kita berteman, yaaaaaa..

***

(doc pribadi)
(doc pribadi)

“Ejieeeeee…. ayo turun. Bantuin jaga anak-anak nyelem dan snorklingan sini,” seru Ky.

“Iya, bentar Ky. Ejie foto-fotoin nih!” teriakku.

Cekrek! Sibuk…

Sebagian besar dari mereka malah baru pertama kali berenang di laut. Jadi tak jarang, sesekali aku mendengar teriakan-teriakan panik. Itu yang dewasa lho… sedangkan para anak-anak, aku hanya mendengar suara tawa bahagia mereka saja. Ahhh.. anak-anak, kalian membuatku merasa rindu ❤ ..

“Ejieeeee….” memutus lamunanku.

“Okeee.. nyemplung, Keeenn..”

Kuambil masker dan snorkle nganggur juga fin yang hanya dionggokkan saja karena mereka malah kaku menggunakan fin. Katanya, kurang nyaman. Mungkin belum terbiasa dan lebih bebas dengan bertelanjang kaki saja.

Baiklah, terima kasih… Ejie bisa nyemplung aman di bawah sana. Dan kaki, save me…
#do’a

Beberapa detik kemudian…

Aku sudah menyapa mereka di dalam sana. Aku tak menyentuh, karena mengingat kejadian tak enak saat di Pulau Biawak, Indramayu tahun lalu ketika asyik bermain air di dekat terumbu karang bersama Katin. Ingat kejadian keram dan dia, ingat pula perkataan om Abe yang mengenal tumbuhan laut. Aku hanya menyapa, melihat dan mengaguminya saja.

Kondisi terumbu karang yang kami datangi saat itu bagus. Mungkin juga karena cuaca dan warna langit yang mendukung, sehingga pemandangan bawah laut tampak jelas. Warna-warni terumbu karang pun kelihatan.

Aku tak terlalu tahu nama-nama terumbu karangnya. Yang aku tahu hampir tak kelihatan karang api yang membuatku gatal-gatal seperti di Pulau Biawak sih, tetapi karang yang berbentuk bunga dan daun yang lebar ada.

Terus ada juga karang kecil menyerupai kaktus dan berwarna ungu disana. Ejie ngga tahu sih namanyaaaaaa… ahahahahaa.. Maaf ya? Hanya bisa menggambarkannya dengan kata-kata saja. Bagi para diver, pasti tahu semua nama-nama karang itu. Begitu juga dengan yang ahli kelautan. Ejie sekadarnya saja. Hanya mencintai lautan dan isinya.

Banyak ikan-ikan kecil di sekitar pulau tersebut. Berwarna-warni dan lucu! Aku tak memegang kamera underwater, jadi tak satupun aku punya gambarnya.

Eheeemm.. tunggu upload-an Ken saja nanti…. 😀

***

  • Para Bocah
Nadia (doc pribadi)
Nadia
(doc pribadi)

Aku tak sempat lengah, karena bergantian para bocah ceria itu kembali melirik-lirik ke arahku yang tengah naik-turun bawah laut. Kulihat pandangan mata mereka yang ngiler ingin nyemplung, namun kurang orang yang menemani. Sementara para bapak asyik sendiri dan sebagian para ibu malah lebih senang duduk menikmati sepoi-sepoinya angin laut.

“Panas, mba…. disini saja,” kata seorang ibu.

“Kakaaaaaakk… aku mau,” Nadia, si pemilik tahi lalat manis di sudut matanya ini memanggil.

“Mau turun?” tanyaku.

Dianggukkannya kepala dan aku menghampiri badan kapal disisi tangga turun menunggunya siap untuk datang padaku.

Wah, dia siap!

Aku memberikan arahan padanya agar memakai masker diatas kapal dan jangan melepasnya di laut. Ia mengerti dan segera turun. Membawa Nadia berkeliling sebentar, melihat terumbu karang dari atas laut dengan memeluknya.

Lalu…

“Ke kapal, kak…” pintanya sembari melepas maskernya, “Susah. Kebesaran kacamatanya. Longgar di kepala aku. Mau naik ya, kak?”

Tiara (doc pribadi)
Tiara
(doc pribadi)

Aku mengantarkannya. Dan seorang bocah, kembali melihat padaku. Tiara. Gadis berambut panjang ikal yang sudah duduk di kelas 5 SD ini, tersenyum. Meminta hanya dari sebuah senyuman, aku cukup mengerti.

“Ayo, Tiara. Siniiiii…..” kataku.

Tertawa lebar dan segera antri di tangga turun dengan seorang bocah lelaki yang tadinya mau ikut bersamaku, tetapi tak jadi. Sepertinya tiap anak mempunyai feeling masing-masing ya pada kakak-kakak incarannya. Dan bocah lelaki memilih Ky! Wuaaahhh….. 😉

Bocah cowok turun, gantian Tiara yang bersiap. Masker pun sudah bertengger menutupi wajahnya. Aku memangku Tiara dan menunggunya merapikan masker.

“Gimana cara memakainya, Kak?” menunjuk snorkle yang terkait pada maskernya. Aku mencontohkannya.

“Siap kan, Tiara?” ia mengangguk dan kami menceburkan diri di laut. Kembali berkeliling mengantarkannya melihat keindahan bawah laut.

“Bagus, Kaaaaakk…” lalu, “Kak, mataku pedih,” disipitkannya bola mata kecilnya dan mengangkat masker dari mukanya.

“Balik ke kapal. Tiara naik ya?” aku membujuk dan ia mengangguk.

***

Rombongan yang ramai, para bocah yang yang tak lelah, tapi malah berseri-seri menanti petualangan kami di spot selanjutnya. Aku juga sudah tak sabar.

Untuk naik ke atas kapal, aku adalah orang paling belakang setelah semuanya naik. Bandel? Heeehe.. perlu dianggil Ky dulu supaya segera naik. Pembelaan, Ejie menunggu semua rombongan fix naik dan tak ada yang di laut lagi, Kyyyy… 😛

Kami melanjutkan perjalanan ke spot selanjutnya dan aku menatap langit, bergantian dengan lautan biru Pulau Pari itu…

Benar, aku merindukannya dan akan selalu! Sambut aku, lauuuuuuutt……. 🙂 (jie)

***

Foto lainnya, menyusul ya? Mau cuci mata di alam bentar…
*bintaaaaaannngg..

Iklan

2 tanggapan untuk “Pulau Pari: Rindu Laut [3]”

    1. heloo wee..

      pulau pari ya?
      ejie suka dengan pantai perawannya. soalnya pertama kali tidur nenda di pinggiran pantai. berharap bisa melihat sunrise di pagi hari begitu buka tenda. ahahhaaaa…. lucu dan asik sih ceritanya..

      oia, sunset sorenya indah banget, wee..
      jangan sampe kelewat ya? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s