LAUTKU sayang

Pari Island: Clue Angke Menuju Pulau [1]

Rasa kangen pada perairan, membuatku mengiyakan ajakan Ricky Merah, teman gunungku yang akan bermain di air kali ini.
Dengan Niken, Erore dan Weno, kami menembus waktu melewati perairan menuju salah satu Kepulauan Seribu, Pulau Pari.
Bangun yang kesiangan, bermain clue dari
Kawan mencari lokasi yang telah ditentukan, dan memeluk teman yang sudah lama tak bertemu.
Aaaakk… tak sabar!
***

Jakarta
September 2013

04.25 WIB

  • Telat Bangun

Lamat-lamat terdengar suara adzan di kejauhan. Ujung telinga, pengumpulan nyawa yang masih belum ngeh dan alam sadarku mengingatkan, is it the day??

Loncat, bangun!

MAMAMIA!
Ejie kesiangan bangun ini. Lihat jam tangan, GOSHhhh… dan segera mandi! Wah, bakal telat janji sama Niken di stasiun kereta api Pasar Minggu atau Kota yang sudah diobrolin semalam deh. Ayo buru, Ejie!

Byuuuuuuurr… segar. Segera berlari ke kamar dan untungnya sudah selesai packing. Tadi malam beresin packingan sampai setengah dua, Setengah jam kemudian baru bisa terlelap, so.. inilah akibatnya.

Kuraih HP dan mengirimkan pesan pada Niken kalau aku memutuskan untuk motoran sampai di lokasi akhir pertemuan kami.

Okeee… saatnya shalat.

***

05.10 WIB

Keluar rumah jam segini? Aku tak tahu, apakah bisa sampai disana tepat waktu seperti yang diinginkan? 50 menit, cukupkah? Ahh, kulajukan saja lari motorku ini.

Aku mengingat jalur-jalur petunjuk yang diberikan oleh Kawan, teman HHI yang paling hafal semua jalur seisi Jakarta ini kali ya? Soalnya Kawan itu sepertinya peta deh. Ejie saja sering salah jalan. Kalau sudah begitu yang paling bersedia menjawab pertanyaanku tentang arah, biasanya Kawan ini. Hehehee… maaf ya selalu merepotkan.

Oke, aku memastikan jalur menuju kost-an Kaperah, teman HHI yang berada di Grogol, jalur aman.

Clue selanjutnya adalah Pluit Junction dan aku tak tahu itu berada dimana. Intinya tetap ambil jalan lurus, jadi aku hanya mengikuti feeling saja. Sedikit banyak, papan plang petunjuk jalan terhampar di depanku. Aku membacanya, memastikan jalanku sudah terarah dengan benar.

Hei, tapi ada persimpangan yang membuatku agak bingung. Kupinggirkan kendaraan bermotorku dan bertanya pada bapak diperempatan kumpulan tukang ojek.

“Jalan lurus saja, mba.. naik flyover dua kali dan teruuuuuss saja. Ambil jalur cepat di kanan ya mba,” bapak menjelaskan.

Nurut kata-katanya. Tapi begitu sudah sampai di jalan, sifat pelupaku itu timbul. Lupa ambil jalur cepat dan akhirnya aku melewati jalan bawah yang ada traffic light dan macet! Hmm… cocok banget deh sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 05.42 WIB. Aaaakk… telat iniiiiii.. Tungguin Ejie ya teman-teman 😀

Pluit Village adalah clue yang harus aku cari. Aku rasa jalurku masih aman untuk tak bertanya. Yakin? Iya. Nanti kalau sudah  mentok, aku akan bertanya seperti tadi.

Hiiii… kata Kawan dari tempat Kaperah, Grogol ke Pluit Village itu hanya memakan waktu 10 menit? Mana? Rasanya jauh sekali perjalanan ini.

Ayo Ejie, melekin matanya!” bathinku berseru.

Ejie semangat kok. Sayang ya, ini bukanlah hitching tercintaku. Padahal kalau waktunya cukup, bisa sekalian buat latihan pemenuhan kekangenanku pada hitching nih kalau saja tak bangun kesiangan tadi. Hahahaaa..

Horeeeee… satu-persatu, kutemukan clue Kawan itu. Rasanya perjalanan semakin dekat. Kata Kawan, tinggal tanya saja tujuan akhirku itu. Nanti banyak yang bisa mengarahkan.

Tak ada petunjuk lanjutan, Kawan menggantungnya disana saja, aku harus menyelesaikan clue permainan ini sendiri. Senjata andalan yaitu, bertanya! Itu paling ampuh untukku. Pasti akan sering bertanya, karena aku agak susah mengingat apaplgi tak ada catatan obrolan atau catatan kertas untuk melihat seperti sms Kawan semalam.

Benar saja, untuk memastikan benarnya perjalananku ini, aku bertanya. Dan ketika tiba di perempatan terdekat dimana aku tinggal berbelok ke kiri, naik jembatan dan cari tempat parkir saja, aku memberi kabar pada Ricky Merah dan Niken mengenai posisiku.

Jam sudah menunjukkan pukul 06.13 WIB. Rupanya Ky Merah dan rombongan kantornya pun sudah hampir sampai di tempat. Aku bersyukur, belum terlambat, Alhamdulillah.

Mencari tempat parkir di depan Polres, seorang Satpam, Pak Tauhid, yang bekerja di perusahaan depan Polres menawarkan padaku agar menitipkan motor di tempatnya saja.

“Di depan sana ada penitipan motor, mba.. tapi biasanya penuh jam segini. Disini boleh. Kebetulan saya masuk juga besok saat mba pulang dari seberang,” terangnya.

Hhh…. orang baik dimana-mana ya? Rezeki selalu menghampiriku, Alhamdulillah. Kupinggirkan kendaraanku dan memarkirkannya di dalam. Aku meminta nomor kontak Pak Tauhid untuk mengabarinya esok hari.
*terima kasih ya pak? 🙂

***

  • Touchdown Angke The Final Clue

Hiyaaaaaa…. setelah menempuh waktu perjalanan Pondok Gede-Muara Angke selama kurang lebih 1 jam, aku akhirnya berhasil menyelesaikan permainan petunjuk yang diberikan oleh Kawan.

Yeaaaa…. Kawan, Ejie bisa!
*tepuk tangan

Walau pakai senjata andalan karena clue ngga sampai jalan terakhir yang kutempuh, aku bisa. Senangnyaaaaaaa 😀 Terima kasih ya, Kawan.

***

06.44 WIB

“Ketemu dimana, Ky?” tanyaku.

“Pom Bensin aja, Jie,” balasnya.

Kata Ky, hubungi Niken atau Erore saja yang sudah ada di lokasi. Sms kulayangkan. Tak lama, Niken membalasnya dan mengatakan bahwa aku akan dijemput Erore.

Ejie yang kehausan, mampir di mini market dekat pom bensin, Erore pun menghubungiku dan sudah standby di depan. Cepat mencari minum dan membayarnya.

Ejie diantar ke kapal dimana Niken sudah menunggu.

“Itu, di dalam, Jie… Niken yang tidur pakai kain biru,” tunjuk Erore.

Aku yang tak sabar, karena lama tak berjumpa, berlari memeluk Niken yang.. Ya ampuuuuuunnn…. Niken ngantuk banget ternyata! Ckckkk… habis minum obat biar bisa tidur. Aahahha.. Kangen, Keeeeeeenn!

Aku mengambil posisi dan kami bercerita. Sepertinya aku terkontaminasi ikut ngantuk juga ini. Kan memang dasarnya kurang tidur, jadi wajar donk kalau kuapan Niken ikut memburu mataku supaya tertidur juga 😛 ..

***

Kapal yang kami naiki (doc pribadi)
Kapal yang mengangkut kami ke Pulau Pari
(doc pribadi)
  • Time For Sailing

Ky, Weno yang juga ikut melaut bersama kami juga rombongannya yang akan snorkling di Pulau Pari, tujuan kami, telah datang.  Mereka pun mulai sibuk dengan tugasnya. Demikian pula dengan Erore. Niken beristirahat karena sedang flu.

Kapal mulai dipenuhi penumpang dan sauh diangkat. Pelan-pelan terdengar lagu khas sebuah kapal bermesin dengan body yang tampaknya baru, terlihat dari kayu-kayu rapi dari badan kapal yang masih berwarna coklat kayu ini.

Kurasa, saatnya kapal ini berlayar menempuh waktu kurang lebih 2 jam perjalanan ke Pulau Pari. Syal menutup rapat leherku, masker pada tempatnya, kaus kaki dan sarung tangan lengkap terpasang, sweater kapuchong pun kugunakan untuk menghindari angin yang dapat membuat badanku drop.

Otakku melayang pada tahun 2012 lalu, dimana saat itu ia ada disamping dan menjagaku dengan perjalanan serupa namun berbeda tempat. Jujur, kangen padanya. Entah kapan… 🙂

Saatnya meredamkan mata menyusur mimpi, menjalin pencarianku untuk BINTANG disana. Berharap menemukannya dan biasanya, ia selalu ada untukku disana dan menjagaku, meski terpisah… (jie)

#terima kasih do’a dan hadirmu di perjalanan menuju Pari, MISS U, BINTANG

***

The destination (doc pribadi)
The destination
(doc pribadi)
Iklan

8 tanggapan untuk “Pari Island: Clue Angke Menuju Pulau [1]”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s