cerita jiwa, NANJAK penuh rasa

Krakatau: DIA dan Kesabaran Perdana (2)

Mengingat travelling baru yang menjurus satu kecintaan pada alam yang tak kusangka bisa kunikmati sampai sekarang dan terus menjadi kangen.
Mencobanya meski tak mendapat restu dari seorang sahabat yang mengerti kondisiku, Seandy.
Menjalaninya dengan terus diapit dari awal perjalanan hingga akhir.
Menjagaku, hingga akhirnya berdamai dengan hatiku tentang sebuah arti kehadiran.
Inilah BINTANG.
***
Foto di plang Krakatau (doc siapa ya? Lupa Ejie)
Foto di plang Krakatau
(doc siapa ya? Lupa Ejie)

Before:

krakatau-in-my-mind-1/

***

Greenie, BSD
Juni 2012

  • Ngegunung?

“Ejie, Krakatau fix minggu ini berangkat, gimana?” pesan singkat yang kuterima dari smsnya mengalir ke hape ku tertanggal 04/06/12, 13:52:46 WIB.

Setelah itu, berjalan dan jadilah aku ikut di timnya yang hobi jalan-jalan itu. Semua dibantunya. Dari didaftarkannya aku pada ngelaut dan penanjakan pertama hingga gunung pertama yang aku daki, Krakatau.

Terus terang, aku sedikit tidak berani naik gunung mengingat kondisi kaki yang kerap kali keram dan juga badanku yang tidak kuat dengan cuaca dingin. Aku yang selalu berpakaian dingin, lengkap dengan jaket/sweater, sarung tangan, kupluk, masker, kaos kaki (di kesempatan tertentu) mengaku bahwa gunung bukanlah idamanku. Selain itu, aku juga tidak direkomendasikan sama sekali naik gunung oleh Seandy, teman hitching ku yang mengerti soal badan tak anti dingin ini.

Suatu ketika di chat fb Seandy bilang, “Emooh ahh ngajak Ejie. Ntaran Ejie pingsan di gunung, berabe euy. Ngga akan di rekomen deh naik gunung kecuali Ejie tahan sama dinginnya udara gunung.”

Heheee…. maaf yah Sean… nda maksud Ejie ikut-ikutan naik gunung. Ejie juga nda begitu suka kok. Takuuuuuttt sama kaki dan dinginnya gunuuung. Terus, pandanganku tentang gunung kala itu, sepi, sedih, sendiri, dingin seperti tak ada kehangatan dan kehidupan di dalamnya. Ahh… bukan aku!!

Aku lebih suka suasana laut, keindahan pantai dan alam sekitarnya. Ada langit, matahari, debur ombak, percikan air di kaki, pasirnya yang menggelitik dan segalanya yang membawa pada gemuruhnya pacuan ombak yang memaksa segera berlari ke pesisir pantainya. Seakan memanggilku untuk tetap berada disana menemaninya bermain. Iyaaa….itu baru akuuu! 😀

Namun, segenap perasaan itu berubah 360 derajat celcius saat ia mengajakku ke Krakatau. Woooo??? What’s happening? Bisa berbalik sebegitukah?

Kembali mengalir smsnya yang menginformasikan perlengkapan apa saja yang harus dibawa untuk keperluan disana. Karena akan ada snorkling, maka keperluan renang pun kalau ada, kudu dibawa. Penegasan dilakukan pada, keperluan tempurku untuk udara dan kaki. Jadi sleeping bag adalah modal utama wajib bawa bagi diriku. Dan beberapa perlengkapan pelindung dingin yang digarisbawahi seperti komando bagiku. Ajaib! Aku  menuruti semua catatannya itu.
*hehehe…. Ejie kangen DIA!

Segera ku listing apa saja yang menjadi perhatiannya untuk kepentingan yang sangat WAJIB bagi keselamatan badanku ini. Selain itu, aku mengingat Seandy yang takkan merekomendasikan gunung manapun padaku. Hanya mau bilang pada Seandy, bahwa jika niat itu sudah ada, kuat dan positif, Ejie bisa Sean…. Dan suatu hari, Seandy pasti mau ngegunung denganku yang tak tahan dingin ini. Hahaaaayy…

Jadi, pantang mundur untuk keberangkatanku ke Krakatau bersamanya dan teman-temannya yang aku belum tahu, siapa saja mereka. Dapat teman baru, pasti asyik kan?? 😀

***

  • Apa Kabar NASI?

Satu hal yang menjadi kekhawatiranku adalah NASI!!!

Terbayang di otakku yang berangkat ramai, pada doyan (suka-red) nasi dan makan besar! Huuuuuuu….. aku tak mauuu…. aku tak mauuuu…
*mewek abis!

“Takut nasinya pasti banyak, bagaimana yah?” kukirimkan pesan ini padanya.

“Tenang, kan ada aku 🙂 ,” balasnya dengan tak lupa menyelipkan emoticon senyum di setiap akhir smsnya.

Tahukah? Aku suka caranya menenangkanku. SABAR? Iya! Okeeee, ngga khawatir deh. Berangkaaaatt..

***

  • Terminal Kampung Rambutan

Terminal Kampung Rambutan merupakan tempat bertemu dengan mereka. Tim Uwee namanya. Aku ngga tahu, siapa saja yang ikut. Hanya dia yang mengajakku saja yang kukenal.

Dari BSD tempat kerjaku ke Jakarta lumayan macet waktu itu, karena sudah masuk weekend. Jum’at yang ramai, dimana orang berbondong-bondong segera keluar kantor untuk pulang ke rumahnya atau seperti kami, para pecinta alam yang melarung kemana pun di hari kami melepaskan penat dari kesibukan kantor.

2 jam mungkin menuju Rambutan dan hanya padanya aku bisa menanyakan apapun, termasuk tempat kumpul. Aku diarahkannya naik transjakarta, karena sesungguhnya hanya dengan cara itu yang aku hafal.

“Ejie sudah sampai, kumpul kemana ya?”

“Ya sudah, tunggu aku disana saja, Jie,” pesannya.

20 menit sepertinya dan aku mulai was-was. Ketakutan tak beralasan terhadap suatu tempat yang terasa asing, kadang membuatku sering merasa risih dan ngeri. Jantung yang berdegub mulai tak tentu. Takut! Dimana dia?? Celingukan kanan-kiri, aku mencarinya. Mulai sibuk mengutak-atik HP, mengirimkan pesan dan menanyakan keberadaannya. Tak ada satu kalimat pun yang membuatku khawatir, aku suka! Meski begittu, tetap saja takut, sendirian soalnya. Heheeee….

“Dimana?” tambah puyeng, sepi.

“Sebentar lagi, Jie,” selalu singkat.

Arrrgghh… Takut ini Ejie. Sekelebatan pikiran miring lewat di otakku. Hishhh.. pinggirin, Ejie! Positif saja, dia akan datang menjemputku.
*misuh-misuh

Tik… tooookk… tiiiiiiiikk…. tookkk..

Ngga tahu sudah berapa lama dia berada disana ketika kembali aku menanyakannya, dan kalimatnya yang sangat aku ingat ketika itu membuatku menghambur padanya, LEGA.

“Dimana sih?” gelisah.

“Di dekat kamu,” ujarnya.

“Dimana?” kutujukan seluruh pandang mataku, tetap saja tak menemukannya. Kepalaku sudah pusing banget karena rasa tak tenang tadi. Lemes..

“Disini, belakang, sebelah kiri kamu…” menoleh dan aku lupa kalau waktu itu sedang berada di halte busway, menerobos bersembunyi padanya mencari kenyamanan. Aman!

Bodohnya, kenapa jadi gelagapan begini?? Ayo Ejie, singkirin rasa! Saatnya bertualang kan? 😀 iya sih…. Boleh donk tambahan dengan adanya dia membuatku merasa aman. Dari apa? Semuanya, termasuk kegelisahanku masih pada NASI yang nanti bakalan ada. Hadeeeeeehhh….

Tahukah? Bahwa aku sangat menyukai kehadirannya?
Tahukah? Bahwa aku sangat suka akan senyum manis sabarnya itu?
Tahukah? Bahwa aku sangat mengingat dirinya kala itu yang ada untukku kah?
Tahukah? Bahwa aku sangat merindukan dia yang disana?
Tahukah? Bahwa aku sangat menyayangi uluran tangan sabarnya ketika itu padaku?
Tahukah?? Ahh… sudahlah, aku tak penting.

***

Bus yang membawa kami ke Merak. (doc Pru)
Bus yang membawa kami ke Merak.
(doc Pru)
  • Teman Baru

Kami menuju ke warung depan terminal dan bertemu dengan teman-temannya juga, lhoo… lhooo… ada 2 orang teman komunitas yang kukenal ini. Hmmm… mereka kan sahabatan. Soalnya waktu di event komunitas, aku melihat mereka bertiga juga. Ternyata, tak jauh-jauh ya? Ketemunya disini, di event mereka malah. Dunia yang sempit. Punya teman-teman baru itu menyenangkan ya? Aku senang deh. Makasih ya, mas… (aku lupa, waktu itu aku sudah manggil dia seperti itukah? J )

Aku baru tahu kalau teman-temannya itu ternyata punya nama juga, TIM UWEE. Entah darimana asalnya. Mungkin ia bisa menjelaskan asal-muasal nama itu, jika ia punya waktu seperti kalimat yang sering diucapkannya.

Teman-temannya itu, ternyata sering traveling kemanapun bersama. Aku belum terlalu tahu juga kok. Ini kan pertama buatku gabung bersama. Sempat merasa ngga enak, apa salah masuk ikutan di tim mereka ya? Tapi karena mereka semua orangnya wellcome, dia pun memberikan ruang berteman padaku agar tak merasa sendiri, akhirnya kenal semua. Makasih kembali mas, untuk kenalin aku ke teman-temanmu itu.

***

Tiba di Pelabuhan Merak, dinihari. (doc Pru)
Tiba di Pelabuhan Merak, dinihari.
(doc Pru)
  • Bakauheni, Again?

Setelah melalui sekitar 3 jam perjalanan, sampailah kami di Pelabuhan Merak dan seterusnya melanjutkan perjalanan menuju Bakauheuni, menyeberangi lautan. Lampung? Iyaps…

“Ini pertama kalinya Jie, aku menginjakkan kaki di Lampung,” ia berkata.

“Emhhh..” aku hanya mendengarkan kalimat selanjutnya saja. Agak kaget. Ku kira, ia yang mempunyai hobi suka pada alam, sudah jauh berjalan meninggalkan tapak kakinya itu. Bukan tak mau menanggapi, tapi Bakauheuni? Ohh.. aku lupa. Lampung ini hampir Sumatera kah? Aku limbung… Kenapa? Di tulisan lain ya ceritanya.
*senyum PAHIT

Kapal yang mengantarkan kami, berlayar mengangkat sauhnya. Mencari ruang lapang di kapal yang bisa lesehan dan tidur nyenyak, AC kah? Hiyaaaaa…. siap-siap dingin ya, Jie! 😛

Hei, aku dapat baju pink bertuliskan Backpacker Indonesia dengan tulisan Tim Uwee di belakangnya. Hmm.. pantas saja ia menanyakan ukuran bajuku waktu itu. Ternyata ini tokh?!?? Lucu warnanya.

***

Bergerombol menyaksikan cerahnya pagi, tak sabar ingin tturun kapal yang membawa kami semalamam hingga ke Lampung. (doc Pru)
Bergerombol menyaksikan cerahnya pagi, tak sabar ingin tturun kapal yang membawa kami semalamam hingga ke Lampung.
(doc Pru)

Pagi yang bersahabat dengan batas cerianya yang menggaris di ujung langit sana, mengantarkan carteran angkot kami ke Dermaga Canti, dimana kami akan menuju pulau-pulau tempat kami menyenangkan raga.

Eia, sebelumnya sih aku ngga tahu tujuannya akan kemana saja. Karena yang aku tahu hanya Krakatau. Aku juga ngga searching, wisata apa saja yang ada disana. Gunung, laut atau lainnya. Bukan tak mau, tapi aku suka kejutan-kejutan dalam setiap petualanganku. Menyimpan penasaran menurutku baik untukku yang menyukai letupan apa yang ada dalam tiap perjalanan. Entah, aku suka membuat diriku sendiri penasaran. Salahkah??

Sebentar lagi ya? Pelabuhan Bakauheuni kah? (doc Pru)
Sebentar lagi ya? Pelabuhan Bakauheuni kah?
(doc Pru)

Pelabuhan Bakauheuni ke Dermaga Canti memakan waktu sekitar 2 jam. Tahukah? Aku merasa ia menjagaku. Ahh, ahhhhh… kenapa ini? Keep focus, Ejieeeeeeee….. Iya, Ejie tahu kok, tapi Ejie suka, ehh.. 😀

***

Dermaga Canti dan segala kesibukan pagi harinya. (doc Pandu Bocah Petualang)
Dermaga Canti dan segala kesibukan pagi harinya.
(doc Pandu Bocah Petualang)
  • Dermaga Canti dan NASI

Sampai di lokasi. Ugkhhh.. aroma laut yang segar segera saja masuk dalam indera penciumanku. Sayang laut!! Mata berbinar-binar nih lihat air laut. Gatelkah kaki kepengin nyebur? He-ehhh… banget!

“Yaaaaa… mana bisa sekarang Ejie, sabar atuh,” sisi lain hatiku angkat suara.

Baiklah, kami menurunkan segala barang-barang kami di kedua angkot cateran tersebut. Dan laluuuuu…. mereka mulai berburu sarapan!

Melipir menjauh sebelum mengacaukan suasana sarapan. (doc pribadi)
Melipir menjauh sebelum mengacaukan suasana sarapan.
(doc pribadi)

Argghhh! Perutku tiba-tiba mulas, kakiku pun lemas. Kepengin duduk untuk menentramkan sesuatu yang mendadak terasa mau keluar dari kerongkonganku.

“Jangan sekarang, Ejie! Sana, minggir… Cari tempat aman,” kembali ada yang berbicara.

Semua mencari-cari sarapan yang diinginkannya, beberapa juga mengajakku. Aku rasa dia sudah mulai bisa membaca roman wajah jelekku ya waktu itu? Tentang nasi? Tahukah?? Suka dengan senyum sabarnya yang [lagi] menenangkanku. Makasih lagi ya, mas… untuk hari-hari dimana kamu dengan sabarmu itu menghadapi aku yang mungkin terlihat aneh di matamu dan teman-teman baikmu itu. Aku yang merepotkanmu, maafkan….

“Ejie melipir ya, mau duduk disana,” tunjukku pada sebuah warung dengan bangku di depannya dan segera lari.

Berasa aneh? Mungkin yang tidak tahu kenapa aku takut nasi, takkan mengerti dengan tingkahku. Biarlah orang mengatakan apapun tentangku, tak apa.

Aku duduk di warung kosong yang masih tertutup itu. Mengambil gambar diriku yang berpakaian lengkap dengan sesuatu yang list olehnya. Tetap foto ya? Biarin saja. Boleh kok. Juga masker yang masih melekat di wajahku guna menutupi aroma nasi yang rasanya sempat mampir di hidungku tadi. Akakaakaaaa….. orang aneh!

Tak lama, 15 menit, setelah teman-teman selesai makan, ia memanggil, menghampiri dan menyuruhku sarapan. Secangkir teh hangat dan mie kuah dipesankan untukku. Ihh… kangen ya sama perhatiannya yang sabar itu?
*tepis sajalah, kasihan hatimu itu

***

Persiapan naik kapal, kami mengganti pakaian siap terjun dan melaut.

Horeee… horee… Lauuuutt.. sambut kami yaaaaaaaaa..
*siap loncat wayaaahh!

1 lagi, aku titip padanya, jagain hatiku ya waktu loncat ke laut! Hanya padamu saja 🙂 (jie)

***

UNTUKNYA:

Tulisan ini Ejie buat 1 tahun yang lalu. Berseri karena ngga semuanya Ejie tuang dalam 1 judul. Iya, dari yang lalu, Ejie merevisi beberapanya. Mengedit kalimat, juga menambahkannya. Semua ini pure adalah aku.

Maaf jika tak menyukai tulisan Ejie ini ya?
Maaf juga jika Ejie terlalu menuangkannya dalam kalimat.
Hanya itu yang Ejie punya, maaf….

Terima kasih untuk setiap kesabaran yang ada kala itu, dari awal menunggu kedatangan di Terminal Kampung Rambutan hingga saat aku minggat sarapan. Selalu ada arti bahagia di setiap kesempatan yang tertulis bersama. Selalu merepotkanmu, BINTANG. Terima kasih dan maafkan Ejie ya?  🙂
#edisi KANGEN BINTANG 😦

Carter angkot menuju Dermaga Canti. (doc pribadi)
Carter angkot menuju Dermaga Canti.
(doc Pru)
Yeaaayyy... we're on the boat now ;) (doc Pandu Bocah Petualang)
Yeaaayyy… we’re on the boat now 😉
(doc Pandu Bocah Petualang)
Iklan

12 tanggapan untuk “Krakatau: DIA dan Kesabaran Perdana (2)”

  1. Maret waktu aku kesana, temen2ku juga pada muntah.. satu kapal malah muntah semua pas perjalanan dari pulau sebesi ke krakatau subuh. Kecuali aku dan daffa’ dong. tips; tidurlah selama perjalanan laut, berbaring itu mengurangi goncangan di perut supaya nggak mual 😉

    1. emphhh…
      noe, kelanjutan ceritanya belom selese.

      bukan, bukan karena goncangan kapal. ejie alhamduulillah bisa melewatinya kok, noe.
      ejie kan ga tahan sama bau nasi, juga ejie takut nasi, noe.. itu sebabnya 😀

    1. hai Lusi… salam kenal.. 🙂

      iya, seru sama tim ini..
      ejie wkt itu, di dalam kapal dr merak-bakauheuni juga ngga liat kok Krakataunya. taunya setelah melaut tuh dari Dermaga Canti.

      keep reading ya Lusiiii 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s