cerita jiwa, TOURING on the go

Obrolan dalam Hujan

Bersama Bintang, meski hujan, takkan bosan menunggu.
Karena Bintang adalah kenyamanan jiwaku.
Aku memang suka hujan.
Sangat suka!
Walau begitu, aku tak tahan dingin, Bintang akan menjagaku.
Selalu dengan kesabarannya itu.
Terselip cerita anak-anak didalam hujan yang menjadi perhatianku atas apa yang dilakukan Bintang.
Sayang Bintaaaaaaanng..
🙂
***

Jalur Puncak-Jakarta
(Setelah Setahun)

  • Gerimis yang Hebat

“Mulai gerimis, Jie..” Bintang tetap konsen pada kendaraannya.

“Iya, mas. Kerasa kok Ejie,” jawabku diantara rintik hujan yang mampir di tanganku yang tak menggunakan sarung tangan seperti sarannya di awal berangkat.

Bandel ya? Sudah tahu ngga kuat dingin, tetap saja ngga dipakai sarung tangannya. Padahal itu adalah daftar list dari catatan Bintang. Malah ditelpon langsung suruh bawa sarung tangan dan jaket. Ejie masukin dalam tas sih, tapi Ejie lupa pakai, karena Ejie rada kaget juga dengan pertemuan tak disangka itu. Heheheeeee….

Dan kami akhirnya bersama dalam rintik hujan yang mulai menggila.

Bintang mempercepat laju kendaraannya ketika akhirnya menemukan tempat berteduh. Sebuah pom bensin di kanan jalan pulang Puncak-Jakarta. Setahu Ejie, itu setelah kami melewati daerah dengan pemandangan sejuk di kaki bukit. Sentul kah, mas? Lupa, Ejie….
#ketok Ejie yang pelupa! Tanyakan tempatnya pada Bintang, Ejieee…

Bintang banyak menunjukkan pemandangan Puncak yang menyejukkan tidak hanya mata, tetapi juga bathinku. Semua yang ditunjukannya adalah hal terindah untuk dapat menikmatinya dengan caraku. Terima kasih ya Bintang, alamku 🙂

(Ehh, balik ke cerita pom bensin atuuuhh… Ngelindur ni Ejie.)

Sudah kelihatan tuh tempat berteduhnya. Pom bensin. Begitu belok masuk ke dalam pom bensin, sudah tumplek ramai juga yang berteduh. Kami mencari tempat strategis untuk parkir motor agar terhindar dari hujan. Ikut menunggu hujan bersama sekian banyak orang.

Aku dan Bintang akhirnya duduk bersandar pada sisi aman di sebelah tempat pengisian bahan bakar. Disini, mata Ejie ngga tahan. Ngantuk berat dengan semilir angin dingin yang dibawa oleh hujan deras. Bintang menjaga, bertukar tempat denganku, dan memberikan perlindungan bagi badanku yang mulai dingin. Aku tertidur!
*ckckkk… Ejie kebangetan niii.. Maaf ya Bintang, ngantuk berat!

Ngga tahu kenapa, tiba-tiba Ejie terbangun. Sepertinya bagian kaki dan belakang badan Ejie terasa dingin, kaget aja.

“Ejie ngantuk banget nih…”

“Ya ngga apa, tidur saja, Jie,” suara sabarnya itu malah bikin ngga bisa lanjut tidur. Bersandar padanya, membuatku nyaman. Heheheee..

***

Obrolan dalam hujan dan menunggu redanya :) (doc pribadi)
Obrolan dalam hujan dan menunggu redanya 🙂
(doc pribadi)
  • Bintang dan Anak Kecil

Sebuah kendaraan dengan pasangan suami istri dan seorang anak kecil yang dibalut jaket hitam keren ala motor, berhenti tak jauh dari posisi duduk kami. Mereka dari Taman Matahari dan akan pulang ke Depok. Begitu motor tersebut berhenti, Bintang langsung saja bertanya dengan kalimatnya yang…. ahh.. aku suka mas, caramu itu bertutur.

“Bannya kempes atau kurang angin, pak?”

Si bapak turun dan mengecek ban motornya. Si ibu masih bertengger di motornya sembari membuka jas hujan anaknya yang mungkin berusia kurang dari 2 tahun. Entah, cewek atau cowok, karena anaknya plontos atau memang rambutnya yang sedikit, juga jaketnya ngga nahaaaaann… Macho! Xixixiiii…

Kemudian, ibu dan anak turun karena bapak harus antri isi angin di pom bensin tersebut.

“Disini saja dulu, duduk sambil nunggu,” Bintang berkata.

Lalu berceritalah ia pada si ibu. Ya tentang dari mana menuju kemana. Obrolan ringan saja. Dan aku tahu, ia memperhatikan adik kecil itu. Aku hafal dengan apa yang ditangkapnya. Karena jika bersamanya, aku bisa melihat jelas dan memperhatikan hatinya itu. Pun meski tak bersama, aku pernah melihat upload-an foto dari temannya yang juga temanku sedang berinteraksi dengan anak-anak. Sungguh, aku suka!

Begitu si ibu berlalu karena ban motor sudah tidak kempes lagi, aku mengeluarkan apa yang ada dibenakku.

“Mas suka anak-anak ya?”

Ia melihatku dan berkomentar, “Bukan suka, Jie… Tapi kalau melihat anak-anak yang ekspresinya datar atau sedih, aku kepengin tahu. Karena seharusnya anak-anak itu bahagia. Mereka kan jujur, Jie.”

Pendek, tapi aku bisa mengartikannya dengan nalarku. Ingatanku melayang sejenak.

“Ejie lihat ngga anak kecil yang di kolam? Yang pegangan di tanganku? Kedua kakak beradik itu ikut ke tempat yang dalam, bapaknya yang nyuruh.”

Aku lihat sih, tapi karena jauh, ngga terlalu jelas. Lalu ia bercerita ketika di kolam renang. Tidak banyak, tetap saja ceritanya memberikan arti untukku.

“Itu kakak dari si adik yang pegangan tanganku, kan aku saranin supaya latihan renang biar tambah bagus cara berenangnya. Tahu ngga si kakak jawab apa? Katanya begini, Jie, ngga kok, aku memang sudah pintar berenangnya. Sudah bagus. Tampang dan ucapannya itu bukan sombong, tapi ya memang seperti itu ekspresi dari anak itu. Kan anak-anak memang begitu, Jie. Ngga kayak orang besar yang nyombong kalau bicara. Ngerti kan, maksudku?” terangnya.

Bintang dan kakak beradik (doc pribadi)
Bintang dan kakak beradik
(doc pribadi)

Aku menggangguk. Senyum dan tawanya yang aku suka saat ia bercerita.

Anak-anak ya? Aku jadi teringat sewaktu kerja di BSD.

“Mas ingat ngga waktu di BSD?” aku mengajaknya memundurkan ingatan ke beberapa bulan belakang di tahun 2012.

Ketika itu kami nonton film animasi dan di depan kami, duduk 2 orang bocah yang juga nonton tanpa dikawal orangtuanya. Bintang memperhatikan dan dengan sikapnya itu, ia berinisiatif untuk menolong ketika mereka kedinginan.

Memberikan perhatian kepada kedua anak itu, mungkin bisa menenangkan hati mereka walau biasanya orangtua selalu menyarankan agar berhati-hati terhadap orang yang tak dikenal. Kedua anak itu lumayan berkomunikasi dengan Bintang. Aku ikut bertanya juga, tapi tetap Bintanglah yang memegang peranan. Begitulah anak-anak, mereka mempunyai cara bagaimana menyampaikan seperti apa perasaan mereka. Polos dan jujur. Begitu menurut Bintang.

Bintang yang baik, dengan orang tak dikenal, anak-anak pula, sikapnya itu menunjukkan dirinya. Hhh… kalau saja aku bisa menceritakan lebih banyak, seperti apa Bintang itu, mungkin semua bisa cengok kali bacanya. Kenapa? Yaaaa… ngga usah deh, buat Ejie saja Bintangnya.. 😀

Ada beberapa obrolan dalam hujan yang terekam dalam memori terbatasku ini. Berkaitan dengan Bintang, alhamdulillah Allah tak memberikan jeda amnesia padaku saat bersamanya. Terima kasih Allah.. 🙂

Obrolan yang tak biasa, dalam hujan yang tetap menderas dan dinginnya malam itu tapi aku hangat dengan keberadaannya. Aku merekamnya dalam ingatan. (jie)

***

#bila Bintang adalah nyata bagi hidupku…… DO’A DALAM HUJAN

Iklan

6 tanggapan untuk “Obrolan dalam Hujan”

      1. Bersyukurlah karena Ejie sudah kenal seseorang yang baik dan penuh perhatian. Jarang orang baik seperti itu sekarang. Lebih banyak yang berfikirnya lebih ke “aku”-nya masing-masing dan tidak peduli dengan orang lain.

      2. amiiinn…
        iya chris. hampir ngga ada ejie jumpai sprti dia. bukan karena fisik, tp lebih kpd “dirinya”, intern.

        banyak kebaikan yang ejie temui pdnya, chis 🙂

        semoga Allah mendengar.. amin yra
        #do’a panjang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s