Hitchhiker Indonesia (HHI), Rp 0,-

Hitchhike Batang-Ngaliyan Semarang: Truk Nasihat [8]

(doc by Erick Samuel)
(doc by Erick Samuel)
Selesai menyalin ulang catatan langkah hitchhike yang sempat hilang ketika bermain di Pantai Ujung Negoro Kulon.
Ecy mengantarkan ke Pasar Batang dimana aku akan melanjutkan perjalanan menuju Semarang.
Waktu semakin sempit guna memenuhi janji pada Ricky Merah dan beberapa orang teman yang akan menungguku di Solo.
Kami bergegas, dan ternyata Pasar Batang yang panas tak bisa dijadikan pilihan untuk mencari tumpangan selanjutnya.
Akhirnya aku berjalan mencari lokasi strategis hitchingan beberapa meter di depan.
***
(doc pribadi)
(doc pribadi)

Before:

hitchhike-by-myself-to-jawa-tengah-prepare/
tentang-aku-yang-berhitchhiking-2/
hitchhike-jakarta-cirebon-rekor-terlama-hitching-3/
hitchhike-cirebon-malang-ujian-kedua-4/
bonus-hitchhike-pekalongan-museum-dan-taman-batik-5/
bonus-rp-0-kuliner-pekalongan-bakso-kepala-sapi-6/
bonus-hitchhike-pekalongan-pantai-ujung-negoro-kulon-batang-6/

Foto perjalanan Batang-Semarang bisa klik disini yaaaaa…

***

Batang, 01 Desember 2012

  • Pajang JEMPOL Semarang

hhiSiang yang terik, panas serasa membakar kulitku. Aku tak begitu mempedulikan kulitku yang mulai legam. Resiko dan memang, kealamian inilah yang aku suka. Tapi ya wajar saja. Aku kan habis bermain di pantai/ bersama Ecy dan teman-teman kantornya sebelum aku berdiri di perempatan traffic light Batang ini.

Baiklah, siang itu, aku berencana meneruskan perjalananku. Tentu saja harus berhitchhiking, karena sudah niat awalku melakukan 2 minggu perjalanan konsisten dengan berhitchhiking. Yeaapp, harus bisa dan aku yakin bisa. Semangat yang terus aku gelontorkan dalam benakku.

Aku mulai memperhatikan traffic light, kendaraan, plat kendaraan dan situasi. Meski buta peta, aku sudah bertanya pada Ecy arah tujuanku dan Ecy telah menerangkan arah mana yang harus kuambil. Lumayan, aku sedikit banyak mengerti. Soalnya, aku tadi kan 2 kali bolak-balik ke Pantai Ujung Negoro Kulon untuk mencari catatan perjalananku yang terjatuh. Jadi aku lumayan hafal dengan jalan awal yang harus kulalui berikut menerima penjelasan Ecy tadi.

Awal langkah, perempatan lampu merah, beberapa meter setelah Pasar Batang. (doc pribadi)
Awal langkah, perempatan lampu merah, beberapa meter setelah Pasar Batang.
(doc pribadi)

Aku mulai paham berapa lama aku bisa memajangkan JEMPOL hitching dan tulisan “NUMPANG-ku” dengan waktu yang tersedia di traffic light tersebut. Berapa menit yang kubutuhkan untuk bernego dengan pengendara mengenai tujuanku dan yang pasti aku tak peduli kendaraan apa yang bakal menjadi rezeki langkahku selanjutnya.

Bukan lagi memajangkan, tetapi tekad JEMPOL-ku sudah bulat dengan mengacungkan JEMPOL untuk kendaraan yang melintas di depanku. Bukan hanya jari yang bergerak, tetapi juga bola mataku yang menari melihat plat kendaraan untuk memudahkan tujuanku. Yoyoy…. mataku memperhatikan plat bertanda “H” yang jelas menunjukkan Semarang.

Traffic light ketiga kalinya, JEMPOL menghasilkan rezeki yang tak kutolak. Sebuah kendaraan truk pun berhenti didepanku. Kujelaskan singkat tujuanku yang ingin menumpang hingga ke Semarang dan aku diperbolehkan naik. Horeeeeeeee…

***

  • Menjemput Pengganti

Pukul 12.19 WIB
Dari truk yang akhirnya berhasil kutumpangi, duduk tenang menikmati panas yang POL, aku memperkenalkan diri pada bapak pengemudi yang berkulit gelap, berkumis dan tinggi yang hampir sama denganku. Bapak yang terlihat letih ini mengajukan pertanyaan yang tak asing lagi bagiku.

“Mba mahasiswa atau kerja? Kenapa menumpang, mba? Kehabisan ongkos ya?”

Aku menerangkan secara sederhana saja. Sesuai porsi pertanyaannya. Selanjutnya, kami terlibat obrolan ringan mengenai komunitas menumpangku, Hitchhiker Indonesia (HHI) yang membawaku hingga perjalanan Jawa Tengah seorang diri ini.

Bapak yang bersuara pelan ini mengatakan padaku, bahwa ia harus menjemput temannya untuk bergantian membawa truk karena ia telah semalaman menyetir.

“Mba, saya minggir sebentar ya di depan, nunggu teman yang gantiin saya. Kalau kecapekan bawa kendaraan kan bahaya, mba. Maaf ya, mba?” ujarnya, sopan.

“Iya, pak… Tidak apa kok. Silahkan saja,” kataku.

Ia meminggirkan mobilnya di sebuah pohon rindang dekat tambal ban. Ia turun dari truk dan menelpon temannya menggunakan bahasa Jawa yang tak kumengerti.

Catatan 12: Meski tidak mengerti bahasa suatu daerah, tetaplah waspada. Ingat! Jangan pernah tertidur dalam kendaraan jika melakukan hitchhiking sendiri. Sebaiknya ikut turun jika pengendara turun dari kendaraannya.

Karena aku ikut turun dari truk, kesempatan berfoto tak kulewatkan. Aku berpikir, takkan sempat aku mengambil foto begitu turun dari truk nantinya. Mungkin nanti turunnya di tempat ramai atau macet, bisa jadi kemalaman dan kameraku tak mendukung jika hari sudah gelap. Siapa yang tahu kan kejadian tersebut?

Aku pun minta izin memotret si bapak dan kendaraannya, juga aku tentunya.

“Pak, Ejie boleh ya foto bapak dengan truk ini…” aku meminta.

“Boleh, mba…” ia mengerti karena aku telah menjelaskan sedikit alasan dan komunitasku pada pembicaraan di dalam truk tadi.

“Terima kasih, pak,” cekrek!

Kesempatan foto si bapak. (doc pribadi)
Kesempatan foto si bapak.
(doc pribadi)

20 menit kemudian, teman yang dihubunginya tadi, menelponnya.

“Ayok naik, mba…. kita jemput temanku di depan sana, ” gesit, kami naik kendaraan.

Tidak jauh dari sana, seorang lelaki (kembali) berusia lebih muda dan sama gesit, menyapa si bapak dan aku diperkenalkan padanya.
*maaf ya, Ejie lupa nama kedua bapak ini. Tapi Ejie ingat perawakannya kok.

Bapak bertukar tempat dengan temannya dan bergantian mengendarai truk.

Istirahat sejenak (doc pribadi)
Istirahat sejenak
(doc pribadi)

Catatan 13: Selalu ambil posisi duduk di dekat pintu. Memudahkan bergerak atau terpaksa lompat turun dari kendaraan bila perlu dan terjadi sesuatu. Waspada selalu, teman.. πŸ™‚

“Mba, aku capek, mau istirahat sebentar ya?”

“Iya, silahkan, pak.”

Aku tidak bisa berbicara banyak pada temannya, karena bapak duduk di sebelah kananku, takut mengganggu tidurnya. Kami berbicara sedikit dan pelan. Agak sulit sih kalau naik truk berbicara pelan, karena balapan sama suara kendaraannya. wahahaahaaaa…..

***

  • Istirahat Makan Siang
Makan siang di daerah Wileri (doc pribadi)
Makan siang di daerah Weleri
(doc pribadi)

Pukul 13.47 WIB
1 jam kemudian, truk berhenti di sebuah rumah makan di daerah Wileri WELERI (daerah kecil ini berikut tulisan pada foto, diralat oleh teman blogger ejie, makasi ya chris13jkt πŸ™‚ ). Waktu jam makan siang yang lewat dari jadwal tiba. Mereka berhenti mengisi perut dahulu. Aku pun ditawari makan, namun karena ketakbisaanku makan nasi, aku hanya mengucapkan terima kasih dan memutuskan menunggu di truk saja sambil menuliskan catatan perjalananku.

“Tapi agak lama lho, mba… soalnya sambil istirahat selonjoran kaki. Pegel, mba,” bapak pengemudi pertama berkata.

“Tidak apa, pak…. Ejie menunggu disini saja. Banyak yang bisa Ejie kerjakan sambil menunggu. Sekalian buat tulisan sedikit biar ngga lupa, pak. Silahkan makan saja, pak,” jawabku.

“Baiklah, bapak tinggal ya, mba…”

“iya, pak..”

Kira-kira setengah jam lebih mereka makan dan beristirahat. Aku cukup memakluminya. Untungnya, aku bisa menggunakan waktu untuk kebutuhanku selama di truk sendiri. Kuperiksa catatanku, juga tak lupa aku laporan posisi saat itu dan tujuan selanjutnya dari perjalananku.

Catatan 14: Kalau menumpang ya kudu ikutin jadwal si empunya kendaraan.Β  Kecuali kamu terburu-buru dengan waktu, bisa turun dan melanjutkan perjalanan dengan menumpang kendaraan lain, atau ya naik kendaraan berbayar yang sudah ada jadwal pastinya saja. Benar kan?

***

  • Kenali Sekitar

Pukul 14.23 WIB
Kami memasuki daerah Kendal. Aku sempat mengambil gambar gerbangnya.

Xixiiiii…. keuntungan duduk di depan kalau hitching. Entah di kendaraan manapun menurutku, aku bisa mengambil lokasi, hal-hal yang tak biasa kulihat atau belum pernah kulihat, apapun yang ada dihadapan mataku ketika itu. Aku suka, karena bebas memotret apapun yang aku lihat.

Kalau dengan tim kadang kerepotan juga sih harus duduk di depan, kenapa? Karena kita kan harus bisa mengajak ngobrol si empunya kendaraan. Untung kalau teman mengerti bisa gantian bercerita, lahhh… kalau cuma mengandalkan satu orang saja??? Kapan gantian istirahatnya? Heheheee… Dan hal itu selalu kejadian sih kalau aku hitching. Etapi, bagus juga banyak bercerita dengan pengemudi, karena terkadang ada hal yang sebelumnya belum pernah kita peroleh atau dapatkan di pengalaman hidup kita. Ini adalah salah satu sharing hitchhiker, sharing cerita.

Oia, kita juga harus bisa melihat dan membaca situasi. Tidak semua pengemudi lho mau bercerita. Ada beberapa yang bercerita hanya seperlunya saja karena harus konsentrasi penuh pada bawaan kendaraannya dan jalan. Benar juga sih… Soalnya bercerita ketika sedang mengemudi agak riskan. Agak mengganggu konsentrasi pengemudi. Makanya harus pintar-pintar membaca situasi ya temans.. πŸ˜€

Lain halnya jika kita hitchhiking sendirian. Aku tidak terlalu khawatir bila laki-laki yang melakukan hal ini, tetapi jika perempuan, sebaiknya tetap WASPADA saja. Alihkan dengan pembicaraan untuk mengatasi rasa was-was dengan tetap melihat dan membaca situasi. JANGAN TIDUR!

Kalaupun si pengemudi tidak bisa diganggu untuk diajak berbicara, kita bisa posting sesuatu di media sosial, laporan posisi pada seorang teman yang men-track perjalananmu, memotret, atau apapun yang bisa membuatmu tetap terjaga. Jangan takut dan be positive saja. Yakin akan diri bahwa ada yang menjaga.
*tiiiinng…. ingat bintang, always with me πŸ™‚ makasiiii….

Selamat jalan Kendal... (doc pribadi)
Selamat jalan Kendal…
(doc pribadi)

***

  • Nasihat Berikutnya

Bapak terbangun dari tidurnya. Membersihkan muka dengan tisu basah dan meneguk sebotol air putih.

“Mba, bapak mau sekedar saran saja, nda apa ya?” logat totok Jawanya terasa.

“Boleh, pak.”

Dan inilah nasihat panjang berikutnya yang kuterima dari kendaraan hitchingku, Batang-Semarang. Sebuah nasihat seorang bapak yang khawatir terhadap anak perempuannya, jika itu adalah aku, yang kerap berhitchhiking seorang diri.

Dikatakannya bahwa ia cukup jelas prihatin dengan apa yang aku lakukan, hitching. Jalan-jalan dengan cara menumpang.

“Mba harus tahu, tidak semua orang itu baik. Beruntung kalau mba mendapatkan pengemudi yang baik dan mengerti dengan apa yang mba lakukan. Sedikit cerita, tidak semua pengemudi juga baik seperti perkiraan, mba. Saya pengemudi, mba. Saya tahu apa yang terkadang terjadi di jalan. Semuanya memang tergantung bagaimana kita bersikap saja, mba. Memang, ada beberapa pengemudi yang capnya tidak baik di mata masyarakat, walau tidak semua juga begitu. Hanya oknum-oknum tidak bertanggungjawab saja yang biasanya melakukan sekehendak hatinya. Bertindak tanpa memikirkan apa yang terjadi selanjutnya tidak hanya pada dirinya saja, tetapi juga pada keluarganya. Sudah berpisah jauh, lama, tapi tidak bisa memegang apa yang sudah seharusnya menjadi kepercayaan begitu kita meninggalkan rumah, ” bapak berbicara panjang.

Bapak tidak berbicara gamblang, tapi dengan pengandaian-pengandaian. Mungkin ia merasa tidak enak membuka cerita yang tidak seharusnya diceritakan, namun aku mengerti. Aku cukup paham dengan cerita selanjutnya yang kurasa pembaca bisa menebak seperti apa kerasnya kehidupan di jalanan.

Bapak hanya berpesan padaku, agar selalu menjaga diri kalau memang masih dan akan selalu suka dengan “MENUMPANG” -ku ini. Ia juga mengatakan, gunakan selalu insting pada saat berbicara dan menerangkan tujuanku. Karena menurutnya [lagi] tidak semua orang itu bersifat baik. Ada yang manis di depan, tetapi busuk di belakang. Jangan sampai salah naik kendaraan, pelajari arah sebelum memutuskan untuk naik suatu kendaraan. Setidaknya banyak bertanya sebelum bertindak.

“Dan mba juga harus hati-hati. Karena jika seorang perempuan menumpang, belum tentu pengemudi menganggap perempuan itu orang baik. Semua jenis kejahatan bisa saja terjadi, mba. Bukan saja kami pengemudi atau penumpang bisa berbuat jahat, siapapun jika ada kesempatan, semua bisa terjadi. Jadi, berhati-hatilah, mba di setiap perjalanan mba kemana pun,” nasihatnya.

Emhhh…. sebuah nasihat panjang ya? Menurutku, semua yang dibicarakan bapak benar juga. Teman-teman pasti bisa mengerti dengan perbincangan tersebut.

Aku tidak menjabarkan pengartian dari pembicaraan tersebut, karena seperti itulah yang aku terima. Aku merekam baik-baik semuanya dalam ingatanku saat berbicara dengannya di truk.

***

  • Touchdown Polsek Ngaliyan
Yeaaayyy... sampai! Belum resmi Semarang ini.. heheehe (doc pribadi)
Yeaaayyy… sampai! Belum resmi Semarang ini.. heheehe
(doc pribadi)

Pukul 14.55 WIB
Hei… kami sudah mendekati daerah Semarang. Aku melewati Terminal Mangkang Kota Semarang.

Bapak menyuruhku untuk menanyakan dimana temanku akan menjemput, soalnya bapak tidak masuk ke kota Semarang, tetapi melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya.

Segera kuhubungi Primus, teman Sail Morotaiku yang akan menjemputku sesampainya di Semarang.

“Prim, Ejie sudah lewatin Terminal Mangkang. Jauh nda ke tempat primus?”

“Lumayan, Jie. Sekitar 1 jam perjalanan itu ke tempatku. Kabarin Ejie berhenti dimana ya?”

“Okeeee….”

Kututup telponku.

Bapak yang mendengar pembicaraanku segera menyela, “Mba, di depan itu sepertinya macet, karena itu persimpangan. Jadi nanti bapak turunin mba sebelum persimpangan ya, biar ngga kena macet. Disana ada pom bensin dan ayam goreng Bu Suharti, mba kabarin saja temannya, dimana posisi mba. Maaf, bapak tidak bisa mengantar sampai tempat teman mba. Mau masuk ke tol langsung, mba.”

“Ngga apa, pak. Ejie terima kasih banyak bapak sudah mau memberikan tumpangan. Maaf kalau merepotkan ya? Terima kasih juga nasihatnya, pak,” ujarku.

“Kamu hati-hati ya di jalan… “

Lambaian tangan perpisahan. Satu kendaraan nasihat lagi yang ditumpangi dan aku selamat, meski belum sampai di tujuan sesungguhnya. Ini belum berakhir, dan aku masih semangat melanjutkan perjalanan hingga memasuki Kota Semarang.

Yuukk… cari informasi di sekitar pom bensin…. πŸ˜‰ (jie)

***

Thank’s to:

  1. Bapak dan supir pengganti yang memberikan tumpangan
  2. Nasihat bapak
  3. Truk nasihat —-> Rp 0,-

***

Gantian foto, minta tolong sama bapak :D (doc pribadi)
Gantian foto, minta tolong sama bapak πŸ˜€
(doc pribadi)
(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Iklan

2 tanggapan untuk “Hitchhike Batang-Ngaliyan Semarang: Truk Nasihat [8]”

    1. hiiiiiiihihi….

      iya, siap pak bos.. lagi nulis lanjutannya inih.

      OO… ejie salah nulis ya? oke, ejie edit, WELERI.
      maklum, itu sambil mikir, foto dimana ejie waktu itu? kl ngga di zoom fotonya, ejie lupa deh. inget ada SMK doang disana. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s