Hitchhiker Indonesia (HHI), LAUTKU sayang, Rp 0,-

Bonus Hitchhike Pekalongan: Pantai Ujung Negoro Kulon, Batang [7]

(doc by Erick Samuel)
(doc by Erick Samuel)
Kesempatan dan keberuntungan.
Dua hal ini selalu menyertai tiap perjalananku.
Aku yang tak pernah membuat planning khusus untuk diriku akan kemana, mau singgah dimana atau searching khusus tentang tempat-tempat wisata di suatu daerah, tanpa disengaja pun, berkah itu ada.
Mengikuti setiap langkah kaki lambatku ini menyusuri persinggahan dan berbuah bonus menikmati pantai dan lautan yang kusuka.
Umphhh…. nikmat Allah memang tiada tara.
Hayuklah baca perjalanan Ejie lagi … 🙂

***

Bareng Ecy, makasiy ya Cy..... for make it happened. (doc Ecy/pribadi)
Bareng Ecy, makasiy ya Cy….. for make it happened.
(doc Ecy/pribadi)

Foto yang berkaitan dengan tulisan, bisa klik DISINI 🙂

Before:
hitchhike-by-myself-to-jawa-tengah-prepare/
tentang-aku-yang-berhitchhiking-2/
hitchhike-jakarta-cirebon-rekor-terlama-hitching-3/
hitchhike-cirebon-malang-ujian-kedua-4/
bonus-hitchhike-pekalongan-museum-dan-taman-batik-5/
bonus-rp-0-kuliner-pekalongan-bakso-kepala-sapi-6/

***

November 30, 2012

  • Susur Kota

“Ejie, barang-barangnya sudah beres semua? Nanti Ecy ajak keliling Pekalongan sebentar, biar Ejie bisa lihat Pekalongan di pagi hari. Semalam kan sudah jalan ke Batik, hari ini, kita susur kota saja. Terus kita jalan-jalan sama teman kantor Ecy ya? Dari kantor, Ejie mau lanjutin perjalanan kan?” suara Ecy mengawali hariku pagi itu setelah semalam kami jalan-jalan di Pekalongan (baca: bonus-hitchhike-pekalongan-museum-dan-taman-batik-5/  dan bonus-rp-0-kuliner-pekalongan-bakso-kepala-sapi-6/ ).

“Iya, sudah. Okeeee….. ho-oh,” jawabku.

Perpisahan singkat pagi itu dengan Rio, suami Ecy dan ketiga anak mereka.

“Tante, lagu-lagunya di MP3 dengarin ya?” Rio mengingatkan perihal lagu yang di copy di MP3 ku.

“Siap, pintar…. Terima kasih ya, kakak,” kuusap poni rambut kakak, anak pertama Ecy dan ketiga anak-anaknya bergantian bersalaman denganku. Sementara, Rio pun telah siap untuk berangkat kerja dan tak lupa aku mengucapkan terima kasih padanya.

Selesai acara formalitas ini, Ecy dan aku segera berangkat menuju kantornya yang terletak di KPP Pratama Batang. Perjalanan kesana menempuh waktu kurang dari 1 jam. Kami tak langsung kesana, tetapi seperti janji Ecy, ia mengajakku berkeliling. Pasar Batik Pekalongan yang ramai dikunjungi orang untuk membeli oleh-oleh pun tak luput dari incaran kami. Beberapa tempat lainnya juga kami kunjungi walau sepintas lalu dan tak lupa berfoto. Sayang, foto-foto yang ada di flashdisk dan terkena virus belum diperbaiki. Dokter flashdisk langganan Ejie sedang sibuk deh.
*aaaaaaaaaakk…. mau foto-fotonya sembuh atuh 😦

“Ejie, kita ini terlalu pagi jalan-jalannya, jadi masih pada tutup. Ngga apa kan?”

“Santai saja, Cy…. bisa cuci mata (melihat-lihat, jalan-jalan – red) begini pun, Ejie senang kok,” aku menanggapi.

Waktu menunjukkan pukul 07.18 WIB saat kami bergegas ke kantor Ecy karena sudah dikabari untuk segera berkumpul. Melewati jalur umum dimana banyak kendaraan besar yang lalu-lalang disana, membuat Ecy terbiasa dengan jalan raya tersebut. Naik motor pula. Wiihh…. wanita tangguhlah Ecy ini 😀 .

Sesampainya, aku diperkenalkan dengan teman-teman kantor Ecy yang kebanyakan senior dari kami. Bersahabat dan akrab. Aku melihatnya tidak seperti kebanyakan orang kantoran yang terkesan kaku. Asiklah…

***

Sudut lain Pantai Ujung Negoro Kulon (doc Ecy)
Sudut lain Pantai Ujung Negoro Kulon
(doc Ecy)
  • Pantai Perawankah?

Menembus perjalanan 1 jam untuk mencapai pantai yang dimaksud oleh teman kantor Ecy. Menggunakan 3 rombongan mobil, kami konvoi ke lokasi. Melewati persawahan, rel kereta api, jalan yang di kanan-kirinya penuh dengan pepohonan dan tanaman yang lumayan tinggi sehingga tak ada signal disekitar perjalanan. Ngga lama kok. Paling sekitar 15-20 menit hilang signal.

Kami tiba di sebuah gerbang bertuliskan Objek Wisata Ujung Negoro Kulon. Bukan ke tempat yang banyak dikunjungi orang-orang, tetapi kami mengambil jalan ke kanan sekitar 15 menit naik kendaraan dari tempat pertama tadi. Sedikit berbelok dan naik jalannya, keatas. Berhenti di suatu tempat dan sebuah pemandangan segar terhampar di depanku.

Hampir nyasar... :D (doc pribadi)
Hampir nyasar… 😀
(doc pribadi)

Penasaran? Tentulah. Buatku ini tak biasa. Mengunjungi pantai yang tak banyak dihampiri. Hampir tak ada orang disana. Hanya rombongan kami. Dipilihnya tempat tersebut karena wilayah yang kami datangi itu terbilang jarang dan tak banyak yang mau datang kesana. Kenapa? Soalnya, untuk ke pantai itu, kita harus sedikit trekking ke bawah. Menyusuri rerumputan yang ditumbuhi pohon singkong, tumbuhan liar dan sedikit bunga hutan.

Sempat salah jalan nih. Mengikuti rombongan pertama dengan mengambil jalan tanah merah, ternyata ngga ada jalan turunnya. Jadilah kami berbelok dan naik kembali. Selanjutnya, trekking itulah yang kami lakukan. Ngga rumit seperti naik gunung. Santai, pun tak banyak pepohonan. Pijakan kaki juga jelas, kok. Dari atas, terlihat pantai yang luas dengan batuan dan pasirnya.

Ketika itu langit cuma ada 2 warna, biru dan putihnya awan. Lengkungan pasir pantai hanya tampak setengah lingkaran, terlihat jelas dari pemandangan atas tempat kami berada.

Kaki di tengah hamparan kerang rusak. (doc pribadi)
Kaki di tengah hamparan kerang rusak.
(doc pribadi)

Heiii…. ada segaris benda putih terhampar di pesisir pantainya. Apa itu? Mata minusku melihat sejenak. Penasaran ini terus membawaku untuk turun hingga ke bawah. Sesampainya, hamparan putih berkilat itu ternyata adalah pecahan kerang yang rusak. Banyak terhampar di pasir yang tak putih di pantai tersebut.

Cuaca cerah yang mendukung, ikut menyemarakkan keceriaan kami disana. Menuju pojokan yang lebih rindang disisi kanan pantai. Akar pepohonan yang merambat di dinding batu pantai, menambah gurat indah pantai tersembunyi itu.

Beralaskan kerang rusak (doc pribadi)
Beralaskan kerang rusak
(doc pribadi)
Sudut rindang (doc pribadi)
Sudut rindang
(doc pribadi)

Untuk menuju ke bebatuan dengan akar pepohonan itu, melewati sebuah batu besar dan agak melompat. Setelahnya barulah bertemu akar pepohonan dengan pohon rindang. Cukup sejuk berteduh disana. Menikmati pemandangan laut, melepaskan pandangan jauh ke depan. Tak banyak terlihat perahu di sekitarnya. Hanya ada satu, dua.

***

Pintu masuk ke pantai terkelola. (doc Ecy)
Pintu masuk ke pantai terkelola.
(doc Ecy)
  • Makan Siang di Pantai Rapi
Pantai yang dikelola. 15 menit dari pantai perawan. (doc pribadi)
Pantai yang dikelola. 15 menit dari pantai perawan.
(doc pribadi)

Menjelang tengah hari, rombongan beranjak naik kembali. Melakukan trekking kecil dan mencari lokasi makan di Pantai Ujung Negoro Kulon yang telah tertata disisi yang ramai dikunjingi wisatawan. Sebenarnya, pantai itu pun tidak ramai seperti pantai-pantai lainnya.

Rombongan kami sejenak beristirahat untuk makan siang di pantai rapi yang sudah dikelola. 15 menit dari pantai perawan tadi yang masih 1 jajaran pantai, disisi berbeda.

Beberapa pondok makan yang ada pun sepi. Mungkin kurangnya para pengelola pantai yang berkompeten menyambangi daerah tersebut, atau karena lokasi pantai yang masuk menjorok ke dalam, jauh dari jalan raya yang bisa jadi menyebabkan sepinya pengunjung.

Bisa pula karena kami datang bukan pada saat high season, jadi tidak terlalu ramai pengunjung.

“Disini memang ngga terlalu banyak pengunjung kok, mba,” ujar salah seorang ibu pemilik kedai tempatku memesan mie instan atas pertanyaanku.

Di pantai ini, pengelolaannya bersih. Kamar mandi yang tersedia pun lumayan bersih. Sepertinya penduduk lokallah yang menjaga kebersihannya.

Ada sebuah jembatan disana. Terbuat dai pilinan bambu yang diatur rapi. Sudah tidak terlalu kuat menahan beban berat.  Aku dan Ecy berjalan ke arahnya.

Foo di jembatan "sedikit rusak" (doc pribadi)
Foto di jembatan “sedikit rusak”
(doc pribadi)

“Hati-hati, mba… lihat jalan. Soalnya sudah tidak terlalu kuat. Di posnya juga ada semen yang tidak rata dan agak bolong,” ujar penduduk yang ada disana.

Aku, tentu saja selalu melampiaskan penasaranku dan cekrek!
*gaya udahan 😀 (jie)

***

Tak ada kalimat lain yang terucap, hanyalah terima kasih kepada:

  1. Allah SWT yang memberikan kesehatan sehingga bisa selalu menikmati alam-Mu yang terurai di hati.
  2. Ecy dan teman-teman kantornya yang kedatangan orang baru yaitu diri saya 😀
  3. Cerita Pantai Ujung Negoro Kulon —–> Rp 0,- hitchhike kendaraan dan pantai, hulaaa!

***

Panjat akar (doc pibadi)
Panjat akar
(doc pibadi)
Jejak Roban (doc pribadi)
Jejak Roban
(doc pribadi)
(doc Erick Samuel)
(doc Erick Samuel)
Iklan

10 tanggapan untuk “Bonus Hitchhike Pekalongan: Pantai Ujung Negoro Kulon, Batang [7]”

    1. ayoklah ke curug yg tempat noe pergi itu.
      ejie ajakin hitching, tp noe tunjukkin arah. soalnya ejie ngga tau jalan. hehehe…

      urusan kendaraan, ejie ajarin ntaran cara nyarinya 😀

    1. ejie kemaren itu perginya pagi chris… jadi ngga liat sunrise maupun sunset.
      dan ejie ngejer perjalanan ke semarang juga. jadi cukup menghabiskan rasa utk kangen pantai saja.. 😀
      tapi ejie seneng kok chris..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s