cerita jiwa

Makassar Tanpa Wisata

 

Edisi norak untuk kendaraan menuju bandara.
Pekerjaan kesukaanku dengan mata berbinar tak pakai cemas.
Namun diakhir, kembali dihadapkan pada permasalahan yang sama ketika berangkat ke bandara.
Ada apa Ejie??
***
Sunrise Makassar yang terlewatkan, namun aku tak pernah melewatkanmu, bintang. Found u there ;) Taken at 05.57 sebelum landing. (doc pribadi)
Sunrise Makassar yang terlewatkan, namun aku tak pernah melewatkanmu, bintang.
Found u there 😉
Taken at 05.57 sebelum landing.
(doc pribadi)

Jakarta, 28 Juni 2013

Perjalanan sehari tanpa berwisata? Ngga asik banget sih?!?? Ada kok. Dan itu adalah aku. Kok tumben ya Ejie ngga jalan-jalan? Padahal ke Makassar yang notabene banyak tempat wisata yang harus dikunjungi dan kulinernya yang wajib dicicipi.

Hmmm…. dibilang rugi bisa saja. Tapi kalau urusan pekerjaan, waktu yang pendek serta tidak bisa curi waktu untuk sekedar jalan-jalan meski tempat terdekat sekalipun, mau bilang apa? Kok ngga bisa? Karena ke Makassar dalam rangka pekerjaan dan Ejie hanya punya waktu dari pagi hingga malam saja. Disana pun, tak bisa kemana-mana kecuali megikuti schedule yang sudah ada.

Lalu kenapa edisi norak? Biarin yeeee….. norak adalah Ejie itu bagus juga kok.. 😀

***

·         Takut Taksi

Inilah akibatnya jika tak berani naik taksi. Jangankan jarak terjauh, jarak terdekatpun yang dari Terminal Kampung Rambutan ke Pondok Gede tempat tinggalku saja, bisa parno habis. Pikiran tak karuan akan mulai beraksi kalau sudah di dalam taksi. Keringat dingin, mata yang was-was mengamati tiap jalan yang kulalui, mengingat dengan baik daerah mana saja yang telah kulewati. Memicingkan mata, menembus kegelapan malam membaca id si pengendara yang tak juga terbaca.

Beberapa cerita yang benar-benar kejadian tentang taksi, sering kudengar bukan hanya teman-temanku, tapi saudara pun pernah mengalaminya, sehingga membuat aku sangat tidak suka naik kendaraan bernama taksi ini.

Jam masih menunjukkan pukul 01.30 WIB, saat aku bertemu dengan teman kantor yang mengantarkan barang untuk kubawa ke Makassar, kota tujuanku. Niatku yang semula ingin berhitchhiking ke bandara Cengkareng, Jakarta, gagal ketika melihat seonggok besar karung berisikan rompi dan cinderamata yang dipacking rapi oleh Rian dan Sony.

Bagaimana mau hitching kalau bawaan segambreng begitu?? Ihhh… niat tinggal niat saja. Tak mungkin aku melaksanakan niatku itu. Yang ada aku akan kerepotan sendiri nantinya.

Okee… Terminal Pasar Minggu yang merupakan tujuanku untuk naik bus Damri ke bandara, menghindari taksi, ternyata juga tak berbuah manis. Tidak ada bus Damri yang beroperasi di jam 2 dinihari ke bandara. Pak supir yang ada disana pun terlihat asik tidur di dalam bus tanpa bisa kami minta informasinya mengenai jam keberangkatan bus.

Alhasil, pulang ke SME Tower adalah pilihan terakhir kami.

Rian dan Sony yang menemaniku menyarankan agar naik taksi saja ke bandara. CEMAS! Iya, aku cemas. Untung saja masih berteman bulan malam itu, hingga tak tampak pucatnya wajahku mendengar kata taksi.

“Rian, Sony, anterin Ejie ke arah yang mendekati Bandara deh. Agak jauhan dari Gatot Subroto, biar ngga lama-lama dalam taksinya,” sedikit merengek.

Mereka tertawa. “Ihhh… takut apa pula mba Ejie nih. Dasar aneh. Kami carikan taksinya dari sini saja,” Sony ngakak.

“Anterinlaaaahhhh…..” masih bernego.

“Ya sudah, kami pulang ambil helm dan jaket ya? Tunggu..” Rian memutuskan.

Aku lega!

10 menit kemudian ketika aku membeli minuman untuk kami bertiga di mini market yang ada di SME Tower, mataku menatap jam yang terpampang didinding. Kuangkat telepon dan segera memencet sebuah nomor.

“Rian, sudah setengah 3 ini. Ejie berangkat jam 04. Nanti telat boarding, Ejie berabe. Ejie nyerah deh naik taksi saja.”

Rian tanggap, “Oke, kami kesana dan segera carikan taksi, mba…”

Singkat cerita, aku berada dalam sebuah taksi berwarna putih, dengan pak supir yang berusia 60-an, mempunyai 2 orang istri yang tinggal di Bogor dan Ciganjur, 5 orang anak (3 lelaki dan 2 perempuan), 4 orang sudah menikah dan 1 orang perempuan yang masih duduk di bangku SMA.

Wakaakakakaaa…..
Rian dan Sony mencarikan pengemudi taksi yang telah berumur yang katanya Ejie bakal aman hingga ke bandara. Iya aman, tapi tetap saja dag-dig-dug rasa takut tak bisa hilang. Aku menyibukkan diri tetap berkomunikasi dengan Rian dan Sony terus sampai di bandara untuk menghilangkan kekakuan, kekikukkan dan ketakutanku akan taksi.
*merepotkan! 😛

NOTES: ketakutan membuatku tak berpikir untuk memotret karung yang isinya membuatku gatot (gagal total) hitchhiking ke bandara.. 😀

***

·         Kejar Boarding Pass

Waks?!??

Waktu telah menunjukkan pukul 03.20 WIB ketika aku memasuki batas keberangkatan untuk boarding pass. Kutanyakan pada seorang petugas mengenai jam keberangkatan tujuan Makassar. Melihat jam yang tertera pada tiket, langsung saja ia mengarahkanku ke counter 12. Oleh petugas disana, aku dibantu mengurus tiketku karena waktu lapor yang sudah minim.

“Ada bagasi, mba?” petugas tersebut menanyaiku.

“Ada. Sebentar, pak,” aku lari mencari troley ku. Segera menemukannya dan langsung ditimbang.

“Mba keatas ya, pesawat sudah mau take off,” ujarnya.

“Baik, pak. Terima kasih,” berlari ke arah -beruntung saat itu tak ada antrian- airport tax, aku berlari di anak tangga tanpa berniat menaiki eskalator yang ada.

Sampai di lobby, antrian penumpang menuju pesawat tujuan Makassar yang tinggal sedikit kumasuki. Aku geli, karena kami yang tinggal sedikit itu -bukan hanya aku- berlari-lari di lorong ke pesawat. Wakkkkaaka…

NOTES: kejar-kejaran di bandara Cengkareng tak satupun yang aku ambil gambarnya. hha…

***

To Bintang, hatiku menemukan, disini :) (doc pribadi)
To Bintang, hatiku selalu menemukanmu, disini 🙂
(doc pribadi)

·         Makassar dan Pekerjaan

Aku yang kepagian tiba di Makassar, ternyata harus menunggu di bandara. Bukan, bukan karena aku seorang yang datang, namun pak bos diatas bos yang ternyata sampai pukul 08.30 waktu ala Makassar nanti. Jadilah aku menikmati view di bandara Sultan Hasanuddin ini. Mencari kesibukan, pasti.

Oia, lupa sarapan dan perutku baru terasa keroncongan ketika itu. Teringat nugget dan tempe yang kubawa dari rumah dinihari tadi, segera kulalap. Kenyang! ;P

Pukul 08.00 WITA
Tujuan dan pekerjaan yang jelas, membuatku tak perlu sibuk mencari apa yang harus kelakukan hingga tiba acara dimulai.

Begitu sampai di bandara dan bertemu Kak Andi, segera saja aku diserahi kamera untuk tugasku disana. Dibriefing sedikit mengenai acara dan apa yang harus kukerjakan, menanyakan barang yang kubawa dari kantor, memilah mana saja yang akan diberikan nantinya.

“Tambahan akan diarahkan pak bos, ya Ejie,” katanya.

“Sip, kak…”

Aku sudah disibukkan dengan kameraku.

Dari bandara, perjalanan mengarah ke hotel tempat Kak Andi dan tim bermalam. Mengambil perlengkapan, lalu lanjut ke Gedung Bulog Baruga Lappo Ase di jalan A.P. Pettarani.

Pukul 14.00 WITA
Baiklah, pekerjaan dimulai. Kamera siap, pulpen dan notes pun sedia. Tak melewatkan moment acara yang ada, aku bergerilya.

Tambahan tugas yang diberikan pak bos padaku adalah membuat press release dan mencatat setiap pembicara yang memberikan materi. Membuat tulisan dan mengupdate foto kegiatan pun sudah menjadi tugasku.

Pekerjaan selesai, menunggu waktu kepulangan.

***

·         Norak Kedua

Wooo….. tadinya sudah aman karena ada kendaraan yang akan mengantarkanku ke bandara. Tak pusing lagi. Tetapi, dari jam yang ditentukan, kendaraan tersebut tak jua muncul, sementara rombongan yang menetap akan berkumpul di lobby hotel untuk diskusi kegiatan kunjungan esok hari.

“Ejie, naik taksi saja ya?” Kak Andi buka suara yang membuatku kembali gagu.

Mamaaaaaaakkkk…… not again, taxi????? Oww gosh!

Tak lama, tepukan ibu disampingku yang melihat taksi yang ada di Gedung Bulog dan segera datang tak dapat kutolak dengan mengajukan alasan pada Kak Andi yang menyorongkan badanku ke arah taksi.

Linglung!

Haiyaaaaahhhh…… lemas seluruh tubuhku begitu pintu taksi kunaiki. Pandangan nanar pada rombongan yang melambaikan tangannya mengucapkan sampai berjumpa kembali tak terlihat oleh mata minusku yang berisi kekhawatiran. Aku takut!!

Singkat lagi, menghilangkan kekhawatiran dengan bercerita pada pengendara yang kutahu namanya adalah Samsuddin. Bapak yang sudah3 tahun bekerja sebagai driver di perusahaan taksi di Makassar itu telah berkeluarga dan mempunyai 2 orang anak perempuan.

Ia menceritakan mengenai kota Makassar dan menanyakan apakah aku tidak berniat untuk jalan-jalan? Aku jelaskan bahwa jam kepulanganku ke Jakarta tidak bisa berubah karena besok ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan.

Mataku tak lepas memperhatikan jalanan yang mulai padat di jam-jam pulang kantor dan weekend itu. Ternyata tak hanya Jakarta saja yang jalanannya padat merayap, Makassar pun demikian. Waktu yang panjang di dalam kendaraan tersebut membuat perutku mulas tak berhenti.

Pertanyaan yang tak hanya sekali kuajukan pada Pak Samsuddin adalah, “Masih jauh bandaranya, ya Pak?”

Auoooooo…..
Aku tak tahan berlama-lama di taksi. Bikin otakku tak jelas, perutku tak jelas, eneg dan segala macam rasa. Pengen cepat sampai di bandara!

Pukul 17.50 WITA
Bandara ohh bandara…. akhirnya aku bisa bernafas lega melihat Patung Sultan Hasanuddin yang sempat kupotret pagi tadi saat meninggalkan bandara.

Alhamdulillah…. aku sampai. Terima kasih Allah…. terima kasih juga pak Samsuddin yang mengantarkanku dengan selamat hingga ke bandara. Maaf ya atas kegusaranku yang mungkin tampak ketika berada di dalam taksimu itu.

Kemon Ejie, lapor gih boarding pass mu itu…. 😀 (jie)

***

Makassar, just before landing.  (doc pribadi)
Makassar, just before landing.
(doc pribadi)
Bandar udara Sultan Hasanuddin, Ujungpandang, Makassar. (doc pribadi)
Bandar udara Sultan Hasanuddin, Ujungpandang, Makassar.
(doc pribadi)

Iklan

10 tanggapan untuk “Makassar Tanpa Wisata”

  1. Salam kenal Mba.
    Untuk ketakutan naik taksinya, mba dah benar kok. Catat nama supir, nomor ID taksinya. Jadi kalau ada apa-apa bisa dicek. 🙂

  2. Ehmm, Kaka Ejie..
    Hitchhiking Sndirian, brani, giliran pake taxi… dag,dig,dug..?
    Lah, gw hitchhiking, ktahuan nyokap, kwatirnya minta ampun.. #Maklum #AnakCowokAtu-Atunya..
    o.. iya, slama ini gw ada prtanyaan yg trsimpan, tuk crew2 HHI, klo hitching itu, apa sih tanggapan ortu msing2..??

    1. hai Dwiiiii…

      aihhh… kenapa pd bilang begitu yak?!?
      *mayyuuuuu.. takuuutt naksi

      tergantung gmn ortunyajg kali ya?
      ejie rasa pertanyaan itu, kudu ditanyain per org kali dwi. heeheheh

      1. hidup itu pun hanya bagaimana cara kita memandangnya…

        bicarakan saja sejujurnya dg orangtua bgmn cara kita berwisata. awalnya was2 iya, pasti. tapi ejie kan konsisten. kebiasaan travelling jg, jd alhamdulillah…. tetep jg sesekali “panjang” obrolan = ngoceh.

        yang pasti lagi, izinlah kl kemana2….. biar restu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s