cerita jiwa

Ejie Kemana?

Tulisan yang pending, menumpuk dan ingin waktu yang lebih untuk menumpahkan rasa menulisku.
Adakah waktu yang tak berbatas untuk semua inginku ini?
***
(doc pribadi)
(doc pribadi)

2 minggu lebih terhitung hari ini aku tak juga menambah ruang dalam folder tulisanku. Bukannya kosong, hanya tertumpuk saja tanpa bisa mengcopy-paste di blog tempatku biasa mempublish tulisanku.

Tulisan-tulisan yang banyak tertuang dalam buku tulisku tanpa sempat mengetiknya seperti biasa dengan waktu luang yang penuh. Tulisan-tulisan yang hanya teronggok tanpa sempat diedit di komputerku. Tulisan-tulisan yang hanya bisa kupandangi dan kulihat.  Tulisan-tulisan yang hanya terekam dalam otakku dengan rasa ingin segera menuangkannya pada tempat yang aku rindukan. Blogku!!

“Kapan aku sempat memindahkannya?” pertanyaan yang belakangan ini kerap bersarang dihatiku.

Iya nih, gregetan juga rasanya tak sempat publish padahal stok tulisan bejibun (banyak).

***

Aku merindukan ruang itu. Ruang kebebasanku!

Ruang dimana aku bisa berlama-lama bermain disana penuh cerita. Ruang dimana aku bebas mengutarakan rasa, keinginan, perjalanan dan semua petualanganku. Ruang dimana aku dikejar keinginan menggebu untuk menumpahkan semuanya. Ruang yang takkan habis masanya oleh sebuah kebosanan. Ruang santai dan penuh semangat bagiku. Ruang yang memacu dan menggairahkan hari-hariku selama berkegiatan. Ruang dimana aku ditunggu teman-teman pembaca yang sudah mulai setia, tetap menunggu tiap cerita-cerita perjalananku.

Naah, bicara tentang teman-teman pembaca setia ini, aku punya cerita menarik deh tentangnya. Memang ngga banyak dan bisa dihitung dengan jari. Mereka kerap menanyakan kabar perjalanan dan ingin mendengar ceritaku yang dituangkan dalam blog dimana mereka bisa membacanya sesuka hati.

“Ejieeeee…. mana tulisannya?” temanku bertanya pada sebuah chat di sebuah media sosial.

“Mba Ejieeee….. belum ada tulisan baru ya? Aku mau baca petualanganmu, mba. Sudah lama mba ngga publish tulisan. Aku bolak-balik ngga ada yang terbaru,” itu adalah temanku lainnya.

“Ejie, kamu sudah seminggu ini ngga ada tulisan, kemana saja?” pertanyaan lainnya.

Dan beberapa pertanyaan yang intinya menanyakan kemana saja aku 2 minggu ini.

Aku menganggapnya sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap tulisan-tulisanku. Tak semuanya suka tulisanku, kritik pun aku terima. Karena dari kritiklah, aku memperbaiki setiap tulisanku itu.

Ada seorang teman, Putu namanya. Aku berkenalan dengannya saat naik ke Gunung Merbabu tahun lalu. Berteman walau sebelumnya kami tak kenal. Gununglah yang membuat kami berteman. Ia sering menunggui tulisanku.

Siang tadi aku menemukan pesannya yang masuk dalam inboxku, “Mba Ejie ngga ada rencana bertualang lagi?”

“Belum tahu kapan. Ada apa, Putu?” aku balik bertanya.

Pengen baca cerita-cerita petualangannya mba Ejie…. hehe… buat inspirasi aku,” terangnya.

Aku tak tahu kenapa Putu selalu saja menunggu tulisan-tulisanku. Tapi ia pernah bilang, bahwa tulisanku itu ada pesan tersirat yang disampaikan. Memotivasi dirinya untuk berbuat sesuatu. Memacunya untuk terus berjalan. Tulisanku membuatnya mengambil inti dari sebuah perjalanan.

Benarkah tulisanku seperti itu? Entahlah. Kalau kata om Harr, tulisanku kadang malah keluar curcol-an (curahatan hati colongan), wkkkk….. Apalagi kalau di kriteria Cerita Jiwa. Hiihiiii…. itu semua adalah rasaku pada sebuah bintang, ehh..

Yaaaahh…. tergantung bagaimana pembaca menilai tulisanku saja. Aku tak pernah dengan sengaja mengklaim seperti apa jenis tulisanku, atau mengarah pada satu kesimpulan tentang tulisanku. Menurutku, menulis itu bagaimana aku menuangkan rasa yang ada dalam otakku, membiarkannya mengalir pada apa yang tertulis dan menjadikannya sebuah tulisan yang “inilah gaya bertuturku”.

Well, well……
Sedikit alasanku bukan buat ngeles. 2 minggu belakangan, aku disibukkan oleh pekerjaanku. Tidak padat, tapi ada saja yang harus diselesaikan dengan tiba-tiba. Kebanyakan pekerjaan yang on the spot. Atau yang seharusnya tidak ada kerjaan krusial, tiba-tiba mendapat telpon di pagi hari untuk menyelesaikannya dengan tenggat waktu yang kadang “WAJIB, SEGERA, HARUS”. Otomatis hampir tidak ada waktu luang untuk sekadar menuliskan apa sudah tertulis dalam buku ke komputer.

Sampai rumah, kadang kepingin bisa menulis, tapi tetap saja tak bisa. Entah pulang yang kemalaman, kecapekan atau mengejar waktu tidur karena pagi harus mengerjakan pesan dadakan untuk suatu pekerjaan. Jadilah, tulisan-tulisan yang seharusnya sudah terpublish, hanya bisa diam teronggok saja di folder langgananku itu.

Aihh… aku ingin nih bisa punya waktu yang membebaskan otakku yang penuh dengan berbagai tulisan dan menumpahkannya segera untuk dipublish.

Toloooonng, toloong… mau bisa menulis. Kangeeeeeennn…. ahahahhhhaa 😉 (jie)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s