cerita jiwa

Cerita pada Bintang

Pikiranku penuh. Otakku berkecamuk. Rasaku ingin tumpah saat itu juga.
Tapi diatas motor? Tak mungkin aku melakukannya.
Perjalanan pulang dari Penny Lane Caffe di daerah Kemang, Jakarta, memaksaku memacu motor CW, teman baikku itu hingga tiba di satu sudut macet yang tak dapat kuhindarkan lagi.
Macet dan aku terjepit.
Mencari celah longgar agar dapat melewatinya, membuatku awas sampai akhirnya aku sampai di depan pagar hijau itu.
***
Ada disana, pada mata hatiku. (doc pribadi)
Ada disana, pada mata hatiku.
(doc pribadi)

Kompi Nyaman
June 15, 2013
Pukul 23. 38 WIB

Perlengkapan motor kulepaskan dan segera nangkring di depan kompiku menumpahkan apa saja yang terlintas di otak dan benakku saat di motor.

Menyapanya, memberinya kabar, menceritakan apa yang kualami dan kuperoleh di ajang temu sharing penulis imaginer, Vinca Callista. Bercerita tentangku dan nulisbuku.com.

Menyampaikan rasaku padanya. Iya, dialah yang pertama menjadi tujuanku bercerita. Dia yang selalu menyemangatiku menulis, dia yang mendorongku agar menuangkan keinginan menulisku dalam blog. Dia juga yang (mungkin) selalu membaca tulisan-tulisanku dan dia pula yang memberikan nafas dalam tiap tulisan-tulisanku.

Dia yang tak pernah absen kuminta do’a baiknya jika aku memulai sebuah perjalanan. Entah travelling, ngelaut, ngegunung atau sekadar jalan biasa saja. Tetap saja aku merasa do’a baiknya menyertai setiap langkah-langkahku kemanapun aku ingin.

Sugesti ya? Ngga juga. Menurutku, dia sangat tulus dengan kesabarannya yang takkan kujumpai pada siapapun atau dimanapun. Berbeda dari lainnya, makanya aku suka meminta do’anya itu, walau aku tahu jawabannya akan seperti itu saja dari waktu ke waktu. Jawaban singkat yang aku sangat hafal. 1 kata dan takkan pernah lebih, tanpa basa-basi sedikitpun. Jawaban yang kadang ingin kubaca ada tambahan kata lain, tapi jangan pernah harap ada.

Dia yang tak pernah bisa hilang sejenak dari ingatanku. Begitu kuat menggenggam otak bathinku hingga merampas kesendirianku yang aku jaga beberapa tahun belakangan ini.

Entahlah, aku tetap saja akan menunggu jawabannya hingga ia membalas, baru aku akan merasa tenang melangkah 🙂 .

Hmmm… sudahlah, sepertinya ia tak ada disini, karena sapaan ceritaku sudah 2 hari ini tak diindahkan. Luar kota atau luar angkasa kurasa, memuaskan hati gunungnya yang sangat ia cintai.

Biarlah, aku sudah terbiasa dengan ketidakpeduliannya pada kisah-kisahku yang tak penting. Hanya aku (pasti) yang merasa perlu, butuh, penting terhadap adanya dirinya, tak mengapa. Toh aku bukan siapa-siapa. Karena memang, hanya aku yang selalu menganggap ia ada dan hidup di hatiku. (jie)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s