NANJAK penuh rasa

Gunung Rakutak Edisi Jalur Panjang Merunduk dan Berduri [2]

Before:
kelengkapan-pesona-alam-gunung-rakutak-bandung-1/

Menuju padang ilalang (doc pribadi)
Menuju padang ilalang
(doc pribadi)
Pendakian berlanjut. Tetap santai dan menikmati alam.
Sepi, karena tak bersisian sedikitpun dengan para pendaki lainnya.
Tidakkah ada pendaki yang ingin melihat berbagai keindahan di Gunung Rakutak ini?
Aahhh….. aku hanya bisa bercerita sajalah.
Yuuukk, baca lagi..
🙂
***
Bunga, buah, daun ini menarik perhatianku. (doc pribadi)
Bunga, buah, daun ini menarik perhatianku.
(doc pribadi)

Bandung 1st Day
June 01, 2013

Pukul 14.57 WIB
Kami melanjutkan pendakian setelah Kangmang merasa baikan. Dan lagi, mengejar hari yang mulai senja. Ingin sampai diatas sebelum gelap dan mendirikan tenda serta memasak. Langit masih cerah ketika kami melangkahkan kaki ke jalur berikutnya menuju perkemahan di Tegal Alun.

Ketemu semut hitam di bunga ini, Lucu ya? (doc pribadi)
Ketemu semut hitam di bunga ini, lucu ya?
(doc pribadi)
Kumbang orange ini, dia diam saja kufoto berkali-kali. (doc pribadi)
Kumbang orange ini, dia diam saja kufoto berkali-kali.
(doc pribadi)
Capung ini terbang berdua, tpi yang hinggap hanya 1. Ambil fotonya di aliran air tempat kita shalat Zhuhur. (doc pribadi)
Capung ini terbang berdua, tpi yang hinggap hanya 1. Ambil fotonya di aliran air tempat kita shalat Zhuhur.
(doc pribadi)

Hal yang tak pernah aku bayangkan adalah begitu banyak tumbuhan dan hewan di gunung ini. Bermacam-macam yang kutemui dijalan maupun saat istirahat. Akibat kebebasan memotret itu, aku kerap jalan atau tepatnya tertinggal di belakang teman-teman. Kadang Arul atau Bari yang memanggilku agar tak tertinggal jauh dari mereka, mengingat di Gunung Rakutak ini tak ada pita penanda jalan. Kami mendaki lebih kepada meraba, “benar atau tidak jalan yang kami lalui”. Soalnya, Kangmang rada lupa. Hehehhe …

Waktu itu, kami pun tak meninggalkan tanda-tanda bagi pendaki lain. Ejie pun lupa deh kasih tanda. Tapi kami memang tidak membawa tali raffia atau plastic yang bisa dijadikan penanda jalan. Waah, maaf ya teman-teman… Ejie baru kepikiran sekarang soal itu.

***

  • Padang Ilalang

Setelah melewati berbagai perkebunan dan terakhir di saung kerokan itu, menanjak keatas akan dihadapkan oleh vegetasi yang kembali mulai merapat. Padang ilalang yang tinggi dan hampir menutupi keseluruhan jalan di depan kita.

Sepertinya, semakin keatas, semakin jarang bertemu petani lagi. Hanya ada kami berlima saja.

Oiya, saran ejie jika ke gunung ini:

  1. Gunakan sepatu gunung.
  2. Pakailah baju lengan panjang dan celana panjang.
  3. Pakailah topi sebagai penghindar ilalang atau daun-daun yang tumbuh rendah serta merapat yang mengganggu pada penglihatan.
  4. Pakailah masker, jika diperlukan.
  5. Gunakan sarung tangan.

Padang ilalang disini, bikin badan lumayan gatal-gatal. Sedikitan luka baret juga jika terkena pinggiran ilalangnya yang tajam. Hindari menyentuh ilalang secara langsung. Sebaiknya gunakan kayu, trekking pole atau sarung tangan agar tidak terkena miangnya (bulu halus ilalang yang menyebabkan gatal).

Kondisi padang ilalang saat kami lewati sedikit kering dan tidak becek. Kebanyakan tanah kering yang tertutupi oleh daun ilalang yang kelihatannya habis ditebas dibeberapa tempat. Mungkin dilakukan untuk jalan bagi para petani disana.

***

Jalur hutan yang mulai merunduk. (doc pribadi)
Jalur hutan yang mulai merunduk.
(doc pribadi)
  • Hutan Runduk

Hmmm… saat mulai memasuki hutan runduk ini, mulai banyak sarang laba-laba yang menutupi langkah kami. Kami harus selalu (minta izin untuk) meminggirkan sarang laba-laba tersebut agar bisa lewat.

Laba-laba dengan corak lain yang menutupi jalan. (doc pribadi)
Laba-laba dengan corak lain yang menutupi jalan.
(doc pribadi)

Terlihat sekali ya kalau ternyata gunung ini sangat jarang disambangi. Atau karena kami melewati jalur yang berbeda karena beberapa kali Kangmang mengingat-ngingat jalur yang dilewatinya di pendakian terdahulu. Tapi Kangmang mah sudah biasa dengan gunung-gunung yang ada di Bandung. Menurut Kangmang, jalurnya hampir semuanya seperti itu. Agak jarang didaki, jadi kemungkinan buka jalur atau “mereka” (mengira-ngira) jalur itu sudah biasa.

Kenapa hutan runduk? Soalnya selama kami mendaki, jalur yang kami lalui ini, tanamannya membuat kami merunduk terus dengan agak membungkukkan badan dan kepala agar bisa jalan. Tumbuhannya rapat menutupi rendah pemandangan diatas kepala kami. Saling bertautan satu sama lain. Aku tak terlalu memotretnya karena tak bisa. Lebih memikirkan pinggang yang pegal karena terus merunduk. 😀

Posisi seperti itu kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan. Cukup seru kan buat latihan dengkul dan nafas? Xixiiixi….

Kalau kata Kangmang, hutan di Gunung Rakutak ini termasuk hutan heterogen, karena didalamnya banyak terdapat campuran bermacam jenis tumbuhan.

***

  • Tumbuhan Berduri
Tumbuhan berduri yang juga Ejie temui di Gunung Puntang, ada disini. (doc pribadi)
Tumbuhan berduri yang juga Ejie temui di Gunung Puntang, ada disini.
(doc pribadi)

Aku jadi ingat waktu ke Gunung Puntang. Disana tumbuhan berdurinya lumayan banyak. Ternyata Gunung Rakutak ini tak jauh berbeda. Sepanjang perjalanan naik dan turun gunung ini, aku kerap berteriak “auuuch…” untuk jariku yang sering tertusuk duri halus dari sebuah tanaman yang aku lupa memotretnya.

Tumbuhan berduri itu berwarna hijau, daunnya tidak terlalu lebar dan tumbuh duri-duri halus di sekitar batangnya. Sekali tertusuk, rasanya sperti disuntik, tapi takkan hilang sakitnya untuk beberapa saat (mungkin 1 menit). Dan setelahnya terasa gatal. Untungnya aku membawa obat khusus gatal-gatal yang menghilangkan rasa gatal tersebut.

Bermacam tumbuhan berduri yang ada disana. Aku sempat memfoto salah satunya. Sekilas sambil jalan. Tumbuhan ini mirip kelapa sawit karena bentuk daun dan pohonnya. Rendah dan berduri.

Tumbuhan lainnya ada pula yang lebih seperti batang dan tumbuh duri disekelilingnya, mengitari badan batang tumbuhan tersebut. Entah apa namanya.

Rasanya sepanjang pendakian ini, banyak deh tumbuhan berdurinya. Lebih banyak dari Gunung Puntang. Jadi sebaiknya berhati-hati bila mempunyai kebiasaan sepertiku yang sering mencari pegangan jika akan menemui tanjakan yang lumayan membutuhkan energi lebih untuk naik. 😉

***

Sampai di lokasi ini saat mulai kabut. (doc pribadi)
Sampai di lokasi ini saat mulai kabut.
(doc pribadi)
  • Bumi Perkemahan Tegal Alun

Pukul 16.52 WIB
Mungkin ini ya yang namanya puncak bayangan? Ahahhhha.. aku tak tahu karena Arul menyebutnya begitu. Soalnya kami lama banget mendaki gunung ini.

Slightly at odds with the atmosphere (doc pribadi)
Slightly at odds with the atmosphere
(doc pribadi)

Tiba disini, kami menjumpai sebuah tanah datar coklat yang cukup lapang. dan sedikit lembab.  Tempatnya sedikit lembab karena cuaca di sekitarnya sudah mulai berkabut dan hutan yang tampak rindang dengan pohon yang agak rapat disana.

Ada 2 tempat kemping. 1 lagi agak diatasnya. Ngga jauh kok. Kan bumi perkemahan, jadi bisa dipakai sebagai tempat kemping jika ingin beristirahat mendirikan tenda disana.

Karena puncak 2 tidak jauh lagi, kami tidak berniat membuka tenda disana. Aku bergerak maju ingin melanjutkan perjalanan karena selalu terlambat dan di belakang. Baru 10 menit naik, sudah diteriakin, “Ejieeee…. Tunggu. Mau isi air minum dulu nih. “

Aku mengurungkan langkahku dan menunggu di posisi tersebut. 5 menit aku menunggu terasa lama. Lumayan lama menurutku duduk disana sampai bolak-balik lihat keatas aku. Kenapa ya? Heheheee…. Ngga mau berprasangka aneh. Tapi aku akhirnya berinisiatif untuk memotret, menghidupkan MP3 dan tetap menunggu teman-teman. 😀
*sabar ya, Jie….

Akhirnya mereka datang dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah…..

Saat naik keatas, hutan mulai berkabut. Seperti rintik kecil yang turun. Sedikit gelap. Kami mulai mengejar waktu yang mendadak mulai agak berkabut. Tapi hanya sekitar 15 menit saja, karena setelahnya kembali terang dan tidak tertutup hutan yang rimbun lagi.

Sedikit merasa ganjil saat itu. Soalnya sendirian. (doc pribadi)
Sedikit merasa ganjil saat itu. Soalnya sendirian.
(doc pribadi)

***

Dalam suatu perjalanan terutama mendaki, sebaiknya sih selalu persiapkan kebutuhan yang mendetil, terutama keperluan pribadi. Entah itu akan berguna nantinya atau tidak. Karena kejadian di alam itu, takkan ada yang tahu kondisinya akan seperti apa.

Jangan lupa, berniat baiklah dalam setiap perjalanan yang dilakukan ya teman-teman….

Ejie cukupin sampai disini dulu ya ceritanya..  Puncak 2 nya menyusul deh. Ngga sesuai target hari ini ternyata menulisnya. Sabar menanti ya….. 😉 (jie)

***

to be continue 🙂

***

*Pada perjalanan pendakian ini, entah kenapa, Ejie selalu melihat dirinya yang sabar. Mungkin karena pendakian ini santai, mengingatkan Ejie pada setiap langkah yang pernah diajarkannya tanpa sadar pada Ejie. Dalam setiap kesempatan mengambil objek foto, setiap detil pemandangan yang Ejie lalui dan lihat, selalu merasakannya dalam pandangan. Ketika itu Ejie mengucapkan dalam hati, “Sabarkan Ejie, Allah… dan sungguh sayang hatinya.”

***

Hewan ini menggantung disaat teman-teman istirahat makan siang. (doc pribadi)
Hewan ini menggantung disaat teman-teman istirahat makan siang.
(doc pribadi)
Laba-laba cantik yang bertengger di dekat pohon pisang di kebun kopi. (doc pribadi)
Laba-laba cantik yang bertengger di dekat pohon pisang di kebun kopi.
(doc pribadi)
Ada hewan ini, tak tahu namanya. Mempunyai sungut atau antena di kepalanya. (doc pribadi)
Ada hewan ini, tak tahu namanya. Mempunyai sungut atau antena di kepalanya.
(doc pribadi)
Aneka jenis laba-laba, Ejie temukan di gunung ini. Warnanya pun bagus-bagus. (doc pribadi)
Aneka jenis laba-laba, Ejie temukan di gunung ini. Warnanya pun bagus-bagus.
(doc pribadi)
Iklan

2 tanggapan untuk “Gunung Rakutak Edisi Jalur Panjang Merunduk dan Berduri [2]”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s