simple CULLINARY

Tarzanboys Model Mang Pardi 1988 [Silaberanti-Plaju]

Before:
catper-journey-with-the-band-to-prabumulih-1

Hayooo….
Pasti pada mikir kami yang terlibat dalam Tarzanboys ini menjadi salah satu model mungkin untuk event di Palembang…
Hmmm boleh juga ide itu. Bagus.
Semoga demikian adanya.
Do’a kan saja Tarzanboys nantinya akan bisa menjadi model.
Berkiprah di dunia musik dan merambah dunia seni, boleh saja bukan? 😛
Etapi kenapa 1988?
Ahahaha…. Baca giiiiihh 😉
***

 

Model Aan Mang Pardi, Jl. Silaberanti-Plaju (doc pribadi)
Model Aan Mang Pardi, Jl. Silaberanti-Plaju
(doc pribadi)
  • Model Ngetop

Ckckkkk…. Baru langkah awal, Tarzanboys sudah menjadi model di Palembang sepulangnya dari Prabumulih? Wuiihhh… paten!

Haaha… tetapi bukan itu kok. Model ini memang sangat ngetop lho di Palembang karena asalnya dari Sumatera Selatan. Mulai dari anak-anak hingga dewasa menggemarinya tanpa terkecuali.

Ishhh dahh… penasaran! 😛

Model yang kumaksud adalah makanan khas Palembang yang disajikan panas-panas dan berkuah. Yeaaap! Model adalah sebuah makanan berkuah dengan bentuk bulat yang jika dihidangkan akan dipotong-potong sebelumnya. Isian model berupa tahu. Model terbuat dari campuran tepung terigu, sedikit tepung kanji (sagu, red) dan ikan yang dibuat serta diuleni lalu dibentuk bulat.

Model hampir sama seperti tekwan. Bedanya, tekwan dibentuk kecil dan keriting juga tidak bulat seperti bakso. Pembuatannya sama seperti model, tetapi tidak diisi tahu. Porsi isiannya dalam mangkuk pun sama jika anda berkunjung pada kedai makanan khas Palembang di Sumatera Selatan.

Olah model. KIRI-KANAN: 1. Uleni 2. Masukkan tahu sebagai isian 3. Bentuk bulat (doc pribadi)
Olah model.
KIRI-KANAN: 1. Uleni 2. Masukkan tahu sebagai isian 3. Bentuk bulat
(doc pribadi)

Namun tidak semua kedai atau rumah makan menyediakan model dengan porsi isi lengkap. Terkadang pun ada yang tak memakai jamur kuping dan bangkoang. Tetap nikmat kok 🙂 .

Dalam 1 porsi biasanya berisi:

  1. Model yang telah dipotong-potong
  2. Sohun (suun, mie halus berwarna putih terbuat dari pati, red) —> tentang Sohun
  3. Daun bawang
  4. Daun seledri/sop
  5. Bawang goreng
  6. Timun
  7. Jamur kuping
  8. Bangkoang

Penyerta:

  1. Kecap manis
  2. Kecap asin
  3. Cuka pempek
  4. Jeruk limau
  5. Sambal

Pada kesempatan pulang dari pekerjaan di Prabumulih, personil dan crew Tarzanboys, demi memenuhi keinginan untuk mencicipi masakan khas Palembang ini (maklum, hampir keseluruhan personil dan crew adalah penduduk Palembang yang merantau, kangen model) mengusahakan pulang cepat dari Prabumulih agar dapat makan model.

Kuliner sambil menjemput salah seorang personil yang pulang selesai manggung di Prabumulih dan menjenguk adiknya yang sakit, akhirnya Tarzanboys melepaskan dahaganya terhadap model, termasuk aku.

Perjalanan Prabumulih-Palembang yang semestinya dilalui 2-3 jam, tembus dalam waktu 1,5 jam. Berangkat cepat dari hotel Prabumulih dengan alasan kuliner, jenguk adik personil band dan kejar pesawat pulang adalah tepat bagi kami yang tak mempunyai banyak waktu untuk berjalan-jalan menikmati pesiar kami. Harus bisa membagi waktu kuliner jika ingin mendapatkan apa yang diinginkan. Ketiganya terpenuhi 😀 . Alhamdulillah.

***

Proses merebus model dan tekwan. Tampak Mang Pardi yang sedang memasak. (doc pribadi)
Proses merebus model dan tekwan. Tampak Mang Pardi yang sedang memasak.
(doc pribadi)
  • Kedai Mang Pardi

Kami menuju ke Silaberanti, daerah yang berada di Plaju, rumah personil manager yang berada disana. Di sebelah rumahnya ada sebuah kedai model, tekwan dan bakso yang sudah berada disana sejak tahun 1988. Perjalanan dari depan gang ke kedai hanya sekitar 10 menit jika berjalan kaki.

Pemiliknya adalah Mang Pardi yang tinggal bersama istrinya dan berjualan di kedai tersebut bersama.

Kata Hendri, temanku, aslinya kedua pasangan suami istri itu malah bukan Palembang, melainkan Sunda. Diceritakan Hendri, saking lamanya kedai tersebut menjual model, maka pelanggannya akan kebingungan menunggu Mang Pardi buka kedai jika sudah masa lebaran Idul Fitri karena bisa dipastikan pulangnya akan lama. Bahkan bisa sebulan di kampung halamannya.

Ckckkckkk… jika rasa sudah menempel di lidah, mencari rasa yang lain itu susah ya? Heehehe….

Padahal, kedai Mang Pardi itu sangat sederhana lho? Hanya berupa kedai yang dindingnya terbuat dari kayu dengan bentuk ruko kecil dan ruang makan yang sempit. Meja dan bangku duduk untuk yang ingin makan disana pun hanya berupa kayu biasa. Diatas mejanya tersedia kecap, cuka, sambal dan jeruk limau, penyerta makan model, tekwan dan bakso.

Pengolahan dan pembuatan model dan sebagainya dilakukan di ruang belakang yang hanya berbatasan sebuah dinding dengan ruang saji pelanggan.

Aku sempat masuk ke dapur kecil itu saat memesan model dan tekwan untuk dibawa pulang ke Jakarta.  Saat itu Hendri masuk, ikutlah aku dengannya mengintip si dapur. Hahhaa… bawaan penasaran dan kamera aku yang kuasai, mulailah tangan ini memotret apapun yang terlihat oleh mataku.

Dari proses menguleni, mengisi model, hingga merebus, aku berada disana. Tidak dari proses awal sih, karena sebelumnya aku sibuk memesan untuk perut dan mulutku yang sudah ngences. 😛

***

  • Terjangkau

Tak perlu pusinglah kalau ingin makan model buatan Mang Pardi dan istrinya yang homemade ini. Pasti akan mengulang nambah  porsi seperti Ejie. Lapar! Wekeeeke…

Catatanku:

  1. Model 1 porsi dan nambah kuah kembali setelahnya.
  2. Tekwan setengah porsi di mangkuk yang sama.
  3. Es teh 1 gelas.

Harga yang terjangkau untuk kocek (kantung) mahasiswa jika ingin mencicipi model dari tahun 1988 ini. Mampir ya ke kedai sederhana Mang Pardi kalau jalan-jalan ke Silaberanti di Plaju, Palembang… 😉

***

Sederhana memang yang dibuat oleh Mang Pardi dan istrinya. Mungkin dari kesederhanaan itulah, pelanggannya dari tahun 1988 itu setia dengan model hasil olahan Mang Pardi. (jie)

***

Cara penyajian model dan tekwan Mang Pardi (doc pribadi)
Cara penyajian model dan tekwan Mang Pardi
(doc pribadi)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s