NANJAK penuh rasa

Merapi-Selo: Perjuangan Spider Terduduk di Jalur Pasir [Part 2]

Before:
remind-me-mie-sarung-tangan-merapi-tim-nanjak-lenong/
merapi-selo-tanjakan-pedas-bagi-kartono-batu-part-1/

Sebelum puncak gunung Merapi, melewati pos 2. (doc pribadi)
Sebelum puncak gunung Merapi, melewati pos 2.
(doc pribadi)
Tubuh yang penuh dengan peluh,
menjejak di jalur pasir yang tak pernah ada yang mengajari sebelumnya.
Anja yang katanya mau temanin sudah ngebut duluan.
Erore pun melipir lewat jalur di sebelah kiri yang tak terlalu curam.
Aku tak tahu kalau ada jalur itu. Hanya mengikuti Anja dan Ricky Merah di jalur tantangan ini.
Tersisa Ricky Merah yang mengamati dan menungguku dari atas jalur pasir melihat usahaku, mungkin.
¾ jalan, dan aku….. pffftt~
***

Pukul 07.00 WIB
Puas makan di pos 2, kita akan melalui jalan sedikit saja nanjak kembali namun landai untuk menuju Watu Gajah (aku lupa, dimana plang ini berada tepatnya). Udara dingin sudah merasuk dalam jaket 2 lapisku, tak sanggup untuk berlama-lama berhenti setelah sarapan mie sarung tangan dan kopi krimer.

Beruntung ya kalau jalan dengan orang yang tahu kondisi kita. Ricky Merah memperbolehkanku melanjutkan perjalanan. Ketiga orang ini (Ricky Merah, Anja dan Erore) mah bisa dengan mudah mengejar langkahku 😀 …

Masih ditemani kehijauan di kanan-kiri jalan, aku mencoba membaca jalan sendiri. Ngga jauh kok. Karena matahari sudah mulai memberikan cahayanya pada langit untuk menemani perjalanan kami saat itu. Dari pos 2 pun sudah tampak Gunung Merapi yang menjulang dengan 3 lekukan di puncaknya. Yuukk….. mariiiii.. aku sudah tak sabar ingin melihat apa yang ada dibalik bukit tempatku berdiri di pos 2 ini.

***

  • Biru, Kerikil, Pasir Hitam dan Tanjakan

Mamamia!

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Jika dari sepanjang perjalanan yang kulihat hanyalah tanjakan dengan tanah coklat, pepohonan dan tumbuhan yang serba kehijauan dengan dihiasi warna daun yang agak orens-kemerahan, kini sejauh mataku memandang yang terhampar adalah warna kesukaanku!
*terima kasih Allah…..

(doc pribadi)
(doc pribadi)

Yuhuuuu…..
Biru, biru, biru dan biru! Aihh… aihhh.. cantiknyaaaaaa…. Sebenarnya tidak hanya terisi dengan biru saja, tetapi coklat menjadi hitam dan hijau yang tetap bersama.

Iyaps, jalur berikut setelah pos 2 ini adalah Watu Gajah (kalau ngga salah ya… sekali lagi, aku lupa! 😀 ). Mulai dari sini, pemandangan jalur adalah pasir hitam dengan kerikil, bebatuan dan juga masih adanya tanaman hijau.

Penandanya adalah sebuah batu besar yang dibaliknya terhampar puncak Gunung Merapi (depan) yang terlihat dari pos 2 tadi, jalur Merapi yang hanya pasir dengan jalan setapaknya (kiri), 3 gunung yang membuatku tak bisa mengucapkan apapun kecuali bersyukur (kanan) dan pemandangan apik Gunung Merbabu kata Ricky Merah, lupa nih… hehehee (belakang).

Disini lumayan lama kami berfoto-foto menikmati cerahnya langit yang diberikan Allah pada kami hari itu. Duduk menikmati langit, awan, gambaran yang berbeda untukku yang tak pernah mendaki pasir. Aku memandangnya hingga kamera kuserahkan pada Erore dan Anja. Ingin menikmati kesempatan ini untuk jiwaku.
*sekali lagi, terima kasih Allah…

Menikmati keindahan-Mu (doc Ricky Merah)
Menikmati keindahan-Mu
(doc Ricky Merah)
Jalur Kaliurang yang tampak sebelum Pasar Bubrah dan Ristin (kanan) (doc Ricky Merah/pribadi)
Jalur Kaliurang yang tampak sebelum Pasar Bubrah dan Ristin (kanan)
(doc Ricky Merah/pribadi)

***

  • Menuju Pasar Bubrah

Baiklah, pendakian dilanjutkan menuju Pasar Bubrah. Ada cerita magis dibaliknya.

Seperti biasa, jika mendaki, aku tak ingin berpikiran negative mengenai apapun. Ini untuk menjaga kemurnianku dalam mendaki, yakni:

  1. Bahwa aku belajar bersabar dari tiap gunung yang aku kunjungi.
  2. Bahwa aku hanya ingin menikmati setiap sisi alam yang ada disekitarnya tanpa berpikir yang aneh-aneh.
  3. Bahwa aku tetap menatap alam yang penuh pesona itu dengan rasa yang positif agar ia pun bersahabat denganku.
  4. Bahwa aku mensyukuri nikmat-Mu dan belajar banyak dalam setiap perjalananku.
  5. Bahwa aku ingin diingatkan agar selalu menganut ilmu padi.

Jalur ke Pasar Bubrah, kita akan dihadapkan kembali pada jalur bebatuan. Kali ini tak seterjal bebatuan menuju ke pos 2, tapi ya cukup lumayanlah buat latihan ke puncaknya. Karena jalur ini pun sudah mulai berpasir dan Ricky Merah juga Anja mengingatkanku untuk berhati-hati.
*roger that, Ky…

Hati-hati itu perlu karena perpaduan pasir dan kerikil yang tidak terlalu kecil-kecil, jadi agak sedikit licin. Bersyukur aku menggunakan sepatu Dilis saat itu.
*thanks Dilis

Aku berjalan ke atas bersama Ristin dan om Gondrong menapaki bebatuan. Watu Gajah ke Pasar Bubrah tak lama kok. Mungkin sekitar 15-20 menit ya?

***

Bubrah menuju puncak Merapi, tersangkut di 3/4 jalan pasirnya, jejakmu tetap ada. (doc Ricky merah)
Turunan ke arah Pasar Bubrah
(doc Ricky merah)
  • Mana Pasar Bubrahnya, Nja?

Sebelum turunan ke Pasar Bubrah, ada sebuah batu besar dengan nisan di tengah berhadapan langsung dengan Gunung Merapi yang semakin tampak jelas dari sini.

Sekali lagi, entah mengapa aku tak begitu memperhatikannya. Memperhatikan si gemilang Gunung Merapi dari batu itu. Aku lebih terfokus dan takjub pada jalur pasir hitam, kerikil dan juga bebatuan yang ada di depanku menuju Pasar Bubrah di bawah.

Aku melewati daerah seperti pemancar bersama Anja dengan riang, dimana Erore meminjam bendera Merah Putih yang ada di sana untuk berfoto di puncak. Tak terpikir akan seperti apa jalur Gunung Merapi sesungguhnya ketika itu.

“Anjaaaa…. Tunggu Ejieeeeee…” berlari mengejar Anja menuruni gundukan pasir dan kerikil yang sudah diwanti-wanti untuk berhati-hati, aku mengingatnya.

“Pasar Bubrah yang mana, Nja?”

“Itu di depan, Nyak…” panggilannya untukku (nanti kita tuliskan cerita “nyak” ini ya? 😛 )

Pasar Bubrah (doc pribadi)
Pasar Bubrah
(doc pribadi)

Penglihatanku, Pasar Bubrah itu berupa batu-batu besar yang sebagiannya malah sudah rusak dan tak terlalu kelihatan bentuknya. Jadi, pasarnya dimana?

“Pasarnya mana, Nja?” aku bingung.

“Sudah, Nyak. Ayok jalan,” Anja mengajakku melanjutkan perjalanan tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Yaaaaa…. Saya nurut deh. Mari jalan 😀 …

***

Merapi tegak lurus ini yang kutempuh. Aman karena ada mereka bertiga. (doc pribadi)
Merapi tegak lurus ini yang kutempuh. Aman karena ada mereka bertiga.
(doc pribadi)
  • Jalur Sesungguhnya

Kami sudah berada di jalur yang aku tak pernah mendaki hal seperti itu. Jalur Pasir! Omigosh…. Tersadar aku di kaki Gunung Merapi ini dan baru aku perhatikan sejelas-jelasnya jalur disana. Sedikit nganga karena jalur itu sungguh mengenyangkan perut dan mataku.

Anja, janji ngajarin kan? Nanjak pasir? Ejie belum pernah atuuuhh…” aku menagih janjinya.

“Iya. Jalanlah, Nyak…..”

Kulihat Ricky Merah dan Erore yang juga ada bersamaku. Aman. Aku sempat memfoto saat mereka masih bertiga. Mulai mendaki mengikuti ritme langkah dan nafasku yang masih mengenal jalur pasir tersebut.

Erore yang melipir ke bagian kiri gunung (doc Ricky Merah)
Erore yang melipir ke bagian kiri gunung
(doc Ricky Merah)

Ketika menyadari setelahnya, aku tak melihat Erore karena ternyata ia melipir ke bagian kiri gunung, yang kata Ricky Merah jalur itu lumayan lebih landai daripada jalur yang aku ambil regak lurus seperti sekarang.

Anja yang sudah berada jauh di depanku. Jalur yang kuambil mengikuti Anja dan Ricky Merah. (doc Ricky Merah)
Anja yang sudah berada jauh di depanku. Jalur yang kuambil mengikuti Anja dan Ricky Merah.
(doc Ricky Merah)

Lalu aku mendongak ke atas, Anja yang tak ada lagi di depanku, menghilang dan ngebut duluan ke atas. Kuedarkan pandangan disekitarku, Alhamdulillah…. Masih ada Ricky Merah di dekatku. Terus melangkah.

***

  • Terduduk di ¾ Jalur

Mungkin karena jalanku yang lambat menelusuri jalur berpasir ini, Ricky Merah akhirnya memutuskan untuk naik duluan dan menungguku di atas. Okeee… aku mengerti. Tak apalah, tokh ia tetap menemani dan memperhatikan langkahku yang terseret.

Perjuangan itu belumlah selesai ketika aku tiba-tiba terhenti. Merasakan aku hanya berjalan di tempat. Tidak naik dan tidak turun. Berasa jadi spider pasir yang tak lolos merentangkan tangannya untuk meraih jalan ke atas.

Aku tak mau berhenti disana, di jalur yang sudah membawaku hingga sejauh ini. Aku ingin terus melangkah menenangkan diri melihat langit-Nya di puncak sana.

Mengais atau menggapai batu yang ada di sekitarku untuk mencoba berjalan. Tapi apa yang terjadi? Tiap jejak yang aku langkahkan, turun kembali. Pasir-pasir itu mengajakku turun kembali. 😦

Pasir-pasir itu seakan mengajariku sesuatu, bahwa tak mudah untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. “Belajarlah meraihnya dengan usaha keras, Ejieeeeee…… jangan berdiam diri! Dan beristirahatlah di saat kau merasakan lelah.”

Ya, ¾ jalur yang kutempuh itu, akhirnya aku terduduk, merenung, mengatur nafas dan langkahku. Menenangkan hatiku dan melihat kedua tanganku. Mata sedikit berkaca, namun kuteguk, karena semua perjuangan yang aku lakukan belumlah cukup. Ini seperti mengetukku, menghentakku tentang sebuah perjalanan hidup yang kulalui.

“Allah, aku akan berjuang untuk garis cerita kemudian, bantu Ejie, Allah,” tegas hatiku memohon dan aku mendengar Ricky Merah yang meneriakkan bahwa aku bisa melakukannya.

“Ayoooo Ejieeeee….. semangaaaattt!”

Demi semua yang kusayang, demi sebuah perjuangan, demi sebuah kesabaran, aku melanjutkan kembali meski berkali-kali aku merosot dan kembali di ¾ itu.

Ricky Merah mungkin melihatku dan berkata, “Ky turun bantu Ejie, ajarin. Tapi Ejie harus bisa naik ya? Ini sudah cukup lama Ky nungguin, Jie….”

Cuma bisa menganggukkan kepala dan ngga mau nangis!

***

  • Panik Merosot

Gesit ia turun dan mengajarkan. Selangkah, dua langkah, tujuh langkah dan tiba-tiba aku merosot drastis tanpa disangka!!

Dalam hati aku hanya mampu berteriak, “Allaaaahh… ngga mau turuuunn…” jujur tak bisa meredam hatiku. Pengharapan sepertinya.

Menoleh pada Ricky Merah yang dengan cepat berlari meraih tanganku. Sepertinya ia melihat kepanikan di wajahku sambil berkata, “Tahan Ejie dengan kaki,” tegas.

“Gimana caranya ky??!?” masih merosot dan jangan tanya ekspresiku. Hanya Ricky Merah saja yang melihat khawatirnya aku.

“Tumit Ejie. Jejakkan!” tetap tegas.

Mengikuti sarannya dan Alhamdulillah, it works…..
*terima kasih kembali, Allah….

Posisi aman dan aku duduk menenangkan diri.

***

  • Pelajaran Ricky

“Dengar Ricky, Jie. Ejie mau ke atas, kan? Ejie bisa naik kesana. Yakin pada diri, Ejie bisa! Perhatikan langkah Ricky. Jejakkan kaki Ejie di setiap pasir yang Ejie tapak, sedikit dibenamkan. Lakukan beberapa langkah baru berhenti. Jangan 2 langkah terus berhenti, nanti banyakan merosotnya. Ayok, coba, Jie!” tegas yang berupa support.

Masih shock dengan merosot, tapi aku menyimak tiap kalimat yang ia ucapkan.

“Sekarang, berdiri. Jalan. Ambil yang menurut Ejie gampang dilalui atau boleh mengikuti jejak Ricky. Ayok berdiri tegak, jangan nunduk…” ia tetap menuntun langkahku.

Sebuah kekuatan baru, walau masih bingung memaksaku untuk berdiri, tegak dan mengikuti semua arahan Ricky. Seketika, ada yang membimbingku, entah darimana dan aku melihat jejak kesabaran Krakatau di pasir hitam yang lebih memendam hingga mengantarku ke atas sana.

Alhamdulillah…..
Ketegasan, support dan kesabaran, terimakasih telah membimbingku hingga akhirnya di ¾ tadi dapat kulalui. (jie)

***

Notes buat Ricky Merah:

  1. Terima kasih tidak meninggalkan Ejie.
  2. Terima kasih pelajarannya.
  3. Terima kasih tegasnya
  4. Terima kasih “menangkap” Ejie
  5. Terima kasih sudah liat ekspresi jelek Ejie saat merosot. Penasaran Ejie, seperti apa waktu itu muka Ejie, Ky????? Wakakaakka 😛

***

#pegel! Tunggu edisi Puncak Garuda ya? Berhasilkah Ejie kesana setelah jalur pasir yang merosot? Atau manyun hanya dengar cerita Anja, Ricky dan Erore yang sampai ke puncak saja? 🙂

Iklan

8 tanggapan untuk “Merapi-Selo: Perjuangan Spider Terduduk di Jalur Pasir [Part 2]”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s