cerita jiwa, NANJAK penuh rasa

Pangrango-Cibodas: Mandalawangi Puncak Kesepian

Before:
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/08/kehilangan-memori-pangrango-di-jalur-cibodas-catatan-awal/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/pangrango-cibodas-dosen-yang-semangat-catatan-foto/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/menunggumu-di-jalur-penantian-pangrango/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/pangrango-cibodas-kesalahan-pada-bintang-catatan-untuknya/
https://ejiebelula.wordpress.com/2013/04/10/catatan-bintang-ketidakpastian-yang-kusuka/

Tak jua ada (doc Teguh Abi)
Tak jua ada
(doc Teguh Abi)

Bintang, aku masih merasakan salah itu. Entah bagaimana menebusnya.
Aku jelas, tetap ingin menemanimu melangkah.
Tapi begitu ketemu, lalu berpisah. Ketemu kembali, dan engkau menghilang entah kemana.
Kini sepi menemani, dan aku tak bisa memaafkan diriku.
Maafkan aku, bintang….
😦

***
Manunggumu di jalur ini :( (doc pribadi)
Manunggumu di jalur ini 😦
(doc pribadi)

Pangrango Jalur Cibodas
Tak adakah yang ingat tanggal?

Jika Soe Hok Gie mengutarakan kecintaannya pada Pangrango
Jika Soe Hok Gie menyampaikan perasaannya pada jurang dan batas hutan
Jika Soe hok Gie menceritakan dingin, kebisuan dan keabadian Mandalawangi
Jika Soe Hok Gie menyampaikan keberaniannya pada hidup

Maka aku akan mengatakan…….

Menjalani jalurnya penuh tangga adalah PR bagiku
Menunggunya di setiap lekukan jalurnya adalah kesabaran bagiku
Mendaki Pangrango adalah perjuangan hati
Mencapai Mandalawangi adalah loncatan hati yang tersendat

Mandalawangi, aku ingin ada dia diantaramu
Mandalawangi, aku ingin ia menyeruak diantara pepohonanmu
Mandalawangi, aku ingin ia berada di riak aliran airmu melihatku tersenyum
Mandalawangi, aku ingin ia berdiri diantara padang edelweiss menatapku dalam kesabaran

Kenapa?

***

Menantimu di sepanjang jalur, bintang (doc pribadi)
Menantimu di sepanjang jalur, bintang
(doc pribadi)
  • Jalur Kesendirian

Jalur yang seharusnya bisa dilalui bersama, tapi tidak. Ada tangis di tiap jalur kesendirian yang kulalui, hanya untuk menunggunya. Namun alam berpihak padaku. Membantuku melepaskan sedih dengan menghapusnya sehingga tak ada satupun orang yang sadar atas diriku.

Posisiku yang berada di tengah, sendiri diantara kebutan kaki-kaki tim yang melesat jauh bak anak panah, meninggalkanku di jalur kesendirian. Tak ada yang menemani. Hanya berpapasan dengan pendaki-pendaki lainnya.

Pun disaat persediaan air minumku yang habis, hanya bisa duduk diam dengan menengadahkan kepala menikmati kucuran air hujan deras yang masuk melalui sela-sela bibirku untuk membasahi kerongkongan yang kering. Ini sudah biasa terjadi. Minum air hujan, air gunung, tak masalah bagiku. Tapi berjalan sendiri??

Yapp, mereka yang terbiasa berjalan lincah, membiarkanku dalam kesendirian. Aneh, tak biasanya begitu. Tapi aku sadar, karena beberapa teman juga harus menjaga orang yang disampingnya.

Ingin tertawa dan menangis. Setiap orang ada yang menemani, sementara aku seperti dipatri bahwa kesendirian adalah milikku. Tak usah ditemani apalagi dijaga. Menekuri jalan-jalan pada jalur itu sendiri, sepertinya sudah menjadi keharusan untukku. Padahal menapaki tangga jika mendaki adalah PR besar buatku. Teman-temaaaaaaannn….. dimana kaliaaaaaannn?? 😦

Beruntung, saat berjalan menaiki tangga selanjutnya, aku berpapasan kembali dengan pendaki yang akan turun. Segera saja aku memberanikan diri bertanya untuk meminta air dalam derigen (bener ngga penulisannya? Hehehe) putih besarnya.

“Kang, boleh Ejie minta air minumnya?”

“Boleh, ini silahkan. Teteh sendiri?” logat Sundanya kental banget. “Teman-temannya kemana?” tanya si akang.

“Sudah duluan, Kang. Tapi ada beberapa yang di belakang. Cuma belum ketemu,” ujarku sembari menerima tuangan air minum. “Terima kasih airnya, Kang.”

“Sama-sama. Teteh hati-hati, tunggu saja teman yang di belakang. Biar ngga sendirian. Jalannya licin,” sarannya.

Aku menganggukkan kepalaku dan beristirahat. 15 menit adalah waktu yang terlalu lama untukku mengistirahatkan badan menunggu tim belakangku. Haishh…. Bisa menyusahkan teman-teman kalau sampai terjadi sesuatu padaku karena kedinginan. Oke, menunggu 5 menit lagi sambil menggerakkan tangan dan kakiku agar hangat.

Aaaaakk… tak ada yang muncul! Badanku tak kuat dingin, aku memutuskan untuk berjalan, pelan sambil tetap mengharapkan pasukan belakang muncul disisi menyusulku. Lebih tepatnya, aku mengharapkannya yang hadir menyapaku. Entah itu sudah yang keberapa kali aku mengharapkan kehadirannya. Selalu tak ketemu. Kembali sendiri kulangkahkan kaki mencoba mengejar yang lain meski kutahu tak mungkin mengingat jarak yang jauh.

***

Tetap menunggumu (doc pribadi)
Tetap menunggumu
(doc pribadi)
  • Kesendirian Itu Milikku

Wuaa… berapa lama aku berjalan sendiri? Entah. Tak bermaksud menghitungnya. Saat kaki terasa lelah, mataku melihat tenda di kejauhan. Kandang Batu? Hmm.. berarti Kandang Badak masih jauh di depan sana. Dimana teman-teman? Tak satupun aku melihat mereka. Tim belakang pun tak ada.

Lagi, dalam kesendirianku, bertemu dengan pendaki lain. Kang Oyik, yang aku lupa untuk mengambil fotonya. Ia menawarkanku untuk jalan bersama ke Kandang Badak, melihat aku yang sendiri. Tapi sementara menunggu teman-teman lain, Kang Oyik beristirahat sejenak. Kami mengobrol. Lumayan penghilang penat dan ada teman bercerita.

Kang Oyik rombongannya banyak. Aku lupa bertanya dari komunitas mana, karena pikiranku tetap terfokus pada, kenapa aku sendiri?

Kang Oyik menawarkan berteduh di flysheet nya sejenak. Ia menginformasikan bahwa jalan ke Kandang Badak mungkin sekitar 45 menit kurang. Perjalanan kesana lumayan seru menurutnya. Sedikit menantang.

Aku yang tak tahan akan udara dingin yang menyeruak, segera pamit pada Kang Oyik meski ia meragukan kesendirianku mengingat jalan licin dan berbahaya jika tak ada yang menemani. Tapi karena yakin, aku melanjutkan perjalananku dan mengucapkan terima kasih padanya.

***

Puncak Kesepian? (doc Ricky Merah)
Puncak Kesepian?
(doc Ricky Merah)
  • Mandalawangi, Mencarimu

Mataku tak lepas melihat setiap celah diantara pepohonan itu saat yang lain sibuk memasang tenda. Tak tenang. Kemana dia? Dalam dinginnya hujan yang mengguyur, menyempatkan mata mengintip dari balik flysheet yang terbentang. Aku mencarinya dengan sudut mataku. Tak ada!

Kini sudah lewat dari 2 jam sejak kami tiba di lembah kasih Soe Hok Gie. Saat jam tanganku menunjukkan angka 8 (20.00 WIB) dan sudah masuk dalam sleeping bag pun, ia tak juga muncul. Ada apa? Kenapa?

Ingin mencari sendiri, turun ke bawah, tapi sesuatu menahanku. Ingin menarik adikku menemaniku  menyusul mencarinya, tapi ngga enak. Ahh… serba salah.

Ketika semua oarng sudah terlelap dibalik hangatnya sleeping bag, aku masih membolak-balikkan badanku, risau.

Malam itu, Mandalawangi bukan malam yang tenang bagiku. Hampir sejam sekali, aku terbangun karena mendengar suara-suara di luar tenda. Beberapa rombongan baru ada yang datang dan mendirikan tenda, aku mendengarnya. Berharap ia yang datang. Tapi tak juga ada.

Terakhir, ketika waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB (Minggu), mataku benar-benar tak bisa dikatupkan kembali, karena hanya dia yang ada di pikiranku. Kemana??

Jika boleh berteriak, ingin memanggilnya diantara edelweiss agar sampai padanya bahwa aku menunggunya.

Jika boleh berbisik, ingin aku menyampaikan pada semilir angin yang lewat masuk kedalam tendaku membuat hawa dingin itu menyelusup dalam sleeping bagku.

Jika boleh menitipkan pada rintik hujan, ingin aku menyelipkan pesan padanya, bahwa Mandalawangi merupakan puncak kesepian bagiku.

Jika boleh menyelinap pergi dari tenda ini, akan kususul agar bisa bersembunyi di balik hangatmu untuk mengutarakan bahwa aku ingin melihat bintang kala hujan berhenti, melihat mentari pagi kala ia menyembulkan senyum sapaan selamat paginya, dan ingin menatap gunung di depan plang Pangrango bersamamu.

Mandalawangi, aku ingin bisa bersamanya, entah kapan akan trekking bareng lagi di saat yang tepat. seperti yang sering ia katakan padaku.

Mandalawangi, adakah waktu dimana takkan ada lagi kesibukan yang memisahkan?

Mandalawangi, kapan puncak kesepian itu tak lagi menjadi milikku namun terisi dengan senyum bersamanya?

*bintaaaaaaaannngg…. meneriakkanmu dalam hatiku yang tersembunyi di sleeping bag 😦 (jie)

***

Mencarimu di pagi hari (doc Teguh Abi)
Mencarimu di pagi hari
(doc Teguh Abi)
Saat menantimu, menyusuri sepanjang hati, bersahabat dengan Mandalawangi kali pertama via Putri (doc Ricky Merah)
Saat menantimu, menyusuri sepanjang hati, bersahabat dengan Mandalawangi kali pertama via Putri
(doc Ricky Merah)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s