cerita jiwa

Otak yang Luber

 

Otak dalam buku(doc pribadi)
Otak dalam buku
(doc pribadi)

 

Aku juga tak menyangka kalau ternyata sebuah tulisan tentang pengalaman, kejadian, perjalanan atau apapun yang dirangkai dalam sebuah kalimat dan tersusun dalam sebuah paragraph di blog itu, bisa menggugah rasa banyak orang.

Tulisanku mungkin biasa aja. Tapi dalam menulis, tak jarang aku “menjebak rasaku” untuk turut berperan di dalamnya. Kesal, senang, sedih, kecewa, suka, semua! Membaur menyatukan rasa. Tapi juga pula, bukan secara sengaja aku melakukannya. Karena terkadang semuanya bisa mengalir begitu saja jika aku memegang pulpen, menuliskannya pada sebuah buku atau saat jemari berada di atas keyboard dan menumpahkan isi otak yang kurasa sudah saatnya harus luber dalam halaman microsoft word.

Tak menyadari apa yang sesungguhnya kutulis hingga saat membacanya ulang dari awal, baru aku bisa paham dan mulai mengeditnya.

Sesekali aku suka jika berada pada posisi seperti itu. Menulis dengan alur yang seadanya, mengalir tanpa sanggup kucegah. Berlomba antara kecepatan otakku yang tak lagi mampu menampung segala kata dalam kepala dan tangan berikut jari-jarinya yang berkejaran seakan tak mau tertinggal jauh dari curahan otak.  Tetapi jika sudah membaca ulang, ahh… beberapa bahkan lumayan yang akhirnya hanya tersimpan saja di buku tulisku, atau tersimpan rapi dalam file tersendiri di kompi ini.

Bukan, bukan aku tak mau untuk mempublishnya, tapi tulisan itu, lebih kepada privasi yang aku tak mampu untuk mengeluarkannya. Lebih kepada hati dan jiwa yang berbicara. Aku tak bisa! Jadi menurutku, biarkan mereka tersimpan jauh di pojok sana, hanya untukku saja… 🙂

Terlalu banyak hal yang ingin aku tulis tentang apa  yang kulihat atau kadang hanya berupa selintasan ide saja.

Aku jarang merencanakan harus menulis apa. Alhamdulillah, menulis bukan kendala untukku yang terkadang sering merasa keteteran dengan  segudang ide di dalam otakku ini.

Aku bersyukur Allah memberikanku kekurangan dan kelebihan. Kelebihan tentunya untuk menutupi kekurangan lainnya. Sama halnya dengan positif dan negative yang saling membantu dalam kehidupan.

Yap, yaapp..
Satu hal yang kusyukuri, bahwa aku mengatakan, tak ada hal yang terlambat dalam kehidupan. Memulai sesuatu yang berat, jika dilakukan dengan hati yang tenang, mungkin akan bisa mendukung apa yang selayaknya ingin kita kerjakan.

Biarkan lantunan jiwa membawamu
Hingga kau tak mampu mengembara

Biarkan alunan jemari menuntunmu
Hingga kau tak mampu untuk menghentikannya

Biarkan melodi rasa mengarahkanmu
Hingga kau tak mampu untuk menolaknya
Sampai akhir menyapamu dalam senyum

Sekali lagi, aku juga tak begitu paham dengan tulisan ini sebenarnya. Hanya inginku saja yang mau menjabarkannya dalam paparan kalimat panjang. Hehehee…

Yuk ahh… mari menulis yang tak sempurna dan mulailah….. 😀 (jie)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s