Behind d Scene

Jurnal Hitchhiker: Rupa Adik Angkat di G 29 dan G 31

Before:
KRI Surabaya 591 in My Mind [Prolog]
Catper Hitchhiker: Pelantara II Temu Saka se-Indonesia
Catper Hitchhiker: Rasaku pada KRI Surabaya 591
Catper Hitchhiker: Pramuka, Mangrove, dan Donor Darah [Tegal]
Jurnal Hitchhiker: Keluarga Kecil Kucing Laut Berisik
Catper Hitchhiker: Yuk, Masuk Dapur KRI Surabaya 591
Jurnal Hitchhiker: Tepar di Hari Pertama Sandar Bali
Jurnal Hitchhiker: Jengukan Tak Terduga
Journal Hitchhiker: Ajie atau Ejie??
Journal Hitchhiker: Adegan Si Empuk Penyangga Perut
Pasangan Jiwa yang Hilang
Jurnal Hitchhiker: Another Story Bout Sugar of the Sea That I’ve Found #fill me in the blank
Jurnal Hitchhiker: Foto Untuk Komandan Joni [KRI Surabaya 591]
Jurnal Hitchhiker: Jalinan Dalam Kepangan Rambut
Catper Hitchhiker: Jempol Hitching Perdana di Benoa Bali

Loncatan kami di Koarmatim Surabaya(doc Hikmah)
Loncatan kami di Koarmatim Surabaya
(doc Hikmah)

 

17 Maret 2013

  • Intip Twitter

Heiiii…
Tulisan ini kubuat demi melihat sebuah twit (twitter) dari Arga, salah seorang keluarga kucing yang juga membaca tulisan-tulisanku yang telah dipublish. Aiihh… aku tak sangka lho Arga dan teman-teman membaca tulisan tersebut. Aku hanya menuliskan apa yang aku rasa ketika di kapal.

Isi twit Arga yang kuintip(doc pribadi)
Isi twit Arga yang kuintip
(doc pribadi)

Hmm… yang aku lebih tak sangka lagi, ternyata si budak-budak (anak-anak, bahasa Kalimantan Barat, red) yang sudah kami anggap seperti adik sendiri saat di Pelantara II (Temu Saka) yang sekamar dengan Arga pun turut membaca tulisanku itu.

Rafi, Doni, Natasha dan Ericha adalah empat adik angkat kami di KRI Surabaya 591.

Aku masih mengingat kenapa mereka bisa ada di kapal tersebut.

Hikmah dan Arga menceritakannya padaku. Katanya, mereka terlalu muda untuk ukuran Pelantara II yang seharusnya mengirimkan peserta yang telah SMU. Sementara mereka masih duduk di bangku SMP., kelas 2.

Seingatku ada 2 orang kakak perempuan peserta (SMU) yang berasal dari kota yang sama dengan mereka, mengikuti Pelantara tersebut.

Olalaaaa….
Untuk kehadiran mereka yang sudah berada di kapal, tak mungkin rasanya kembali ke Kalimantan Barat asal mereka. Kebijakannya, mereka diizinkan ikut hanya sebatas sebagai tamu. Jadilah mereka tetap di kapal dengan tak pastinya mengikuti kegiatan yang sudah terjadwal bagi peserta lainnya yang memenuhi syarat.

Di tengah tak adanya kegiatan, akhirnya beberapa minggu di awal, keempat adik angkat kami ini ikut main bersama kami. Kemana kami pergi, selalu ramai. Keluarga kucing diikuti empat orang adik. Kalau berjalan di lorong kapal, bisa penuh antrian barisan kami itu. Hahhahaaa….

  • Budak-budak dalam Ingatanku

Aku hafal dengan Natasha, gadis SMP yang mukanya lebih mirip orang Arab. Hidung mancung, rambut kemerahan, sedikit lurus dan sering dikuncir satu di belakang dan pendiam, menurutku. Kalau tersenyum ia manis sbenarnya. Namun keadaan kapallah yang membuatnya tidak bersahabat dengan kondisi tersebut dan senyum sedikit hilang dari wajahnya.

Natasha tidak tahan dengan kapal yang goyang. Jika ombak besar, bisa muntah-muntah dan langsung tepar di kamarnya, G 029, depan kamar Zela dan Cia.

Selama pelayaran di laut, aku sering melihat Natasha yang pucat, hanya di kamar, kadang bermain di dapur kapal bersama kami, itupun harus dipaksa keluar biar tidak hanya tiduran saja. Kasihan juga sih melihatnya, tapi kalau hanya berdiam diri saja, bukannya justru lebih terasa ombak kapal itu? Makanya mereka kadang ikut kami bermain menelusuri kapal.

Kedua, Ericha, teman sekamar Natasha.  Ia sebaya dengan Natasha (jujur tak ada satupun yang kuingat untuk menanyakan berapa usia mereka. Heheee… maafkan kakakmu ini ya adik-adikku.. 😀 ).

Ericha lebih tangguh dibandingkan Natasha. Rambut mengembang panjang,  keriting teratur, lebih ceria dari Natasha. Mungkin karena mereka masih SMP ya, jadi agak kurang merasa enak untuk terus-terusan mengikuti kami yang jalan kemana-mana di kapal. Ericha juga demikian.

Suara Ericha lebih lantang dan tertawanya juga lebih keluar dan alami. Bukan tipe pemalu. Aku melihat, ia lebih menjaga Natasha yang sering pusing dan muntah.

Selanjutnya ada Doni. Cowok berambut ikal, kulit coklat dan paling sering senyum. Doni juga mungkin yang lumayan sering ikut kami.

Doni dan Rafi awalnya tidur di kamar G 27, kemudian pindah ke G 31, sekamar dengan Arga.

Aku masih ingat ketika sandar di Koarmatim Surabaya, hanya Doni yang ikut turun untuk berolahraga pagi bersama. Kami bercerita, bermain, berfoto di darat. Setelan celana training hijau dan kaos abu-abunya dengan sepatu hitamnya. Banyak tersenyum saat itu.

Ingat deh foto loncat yang berkali-kali kami lakukan, sampai Doni bilang, “Capek kak, loncat terus,” kami tertawa.

“Yaaa… hitung-hitung, kita olahraga juga ini Doni, ayo loncat!” ndan Hikmah memberi  aba-aba saat mengambil gambar.

Kami pun loncat untuk mengambil pose terbaik. Tapi tetap saja, meskipun jelek, menurut kami itu adalah hari olahraga terasik dimana kami melakukannya di darat. Hahahahaa

Terakhir adalah Rafi. Cowok manis yang usianya sedikit diatas ketiga temannya itu, lumayan pendiam juga. Ehh, aku baru ngeh. Mereka ini senyumnya kenapa pada manis-manis yah? Jiaakakakak…. Aku baru berasa lho soal itu sekarang.

Soalnya aku memang agak jarang ngumpul dan bermain bersama adik-adik karena aku selalu terpana dengan keindahan langit di atas sana, berjalan sendiri kala teman-temanku sibuk, mengintip kegiatan Pelantara di helly deck dari pintu deck G, menuangkan inspirasiku dalam tulisan di buku. Ahhh… memang sedikit sekali waktuku untuk adik-adik angkatku itu.

Aku tidak terlalu bisa menuliskan seperti apa Rafi itu, karena ia agak jarang aku lihat.

Arga saat di Nusa Dua Bali(doc Zela, photo by me)
Arga saat di Nusa Dua Bali
(doc Zela, photo by me)

Orang yang sangat tahu dan paham bagaimana mereka berempat adalah Arga. Menurutku, Arga adalah kakak terbaik yang mereka miliki di kapal itu. Arga adalah kakak paling toleran yang pernah aku lihat. Aku tahu kejadian seperti apa yang membuatnya sangat toleran dengan satu kejadian yang hanya kami, keluarga kucing yang tahu. Ckkkckk… salut buat Arga yang baik deh.
*kasih jempol wat sun Arga ^^

Dia menjaga mereka layaknya adik sendiri. Pernah sekali waktu, saat kami membutuhkan kehadirannya di salah satu acara hiburan di Kapal, Arga menghilang entah kemana!

Ditelpon tak bisa, mungkin karena tak ada sinyal di lautan. Dicari ke kamarnya bolak-balik tak juga kunjung ketemu. Menelpon anjungan minta tolong dipanggil melalui pengeras suara, Arga tak juga hadir di tempat yang ditentukan, sampai aku akhirnya naik turun ke anjungan hanya untuk mencarinya.
*hadeh Argaaaaa….. plis deh 😛

Usut punya usut, begitu Arga muncul, ternyata ia main ke helly deck di ujung belakang bersama adik-adik angkatnya itu. Menemani mereka agar tak bosan, mengajak mereka jalan-jalan biar ngga Cuma dalam kamar. Ya ampun Arga, segitu baiknya dia menjaga mereka?

Tak jarang, Arga juga menemani mereka sarapan jika kami kelima saudaranya perempuannya (ndan Hikmah, Zela, Cia, Rika dan aku) tak sarapan pagi atau lupa makan malam. Arga lah yang selalu ada buat mereka.

Watta nice brother did u have… 🙂

***

Okeee…
Ejie rasa cukup sekian deh Ejie bercerita kali ini. Nanti kalau ada ide yang mengalir dan mendesak ingin keluar, buru-buru Ejie tulis di buku aja seandainya sudah offline dari kompi yang mungkin dia akan berteriak dan berkata bosan melihat tampang Ejie yang kadang manyun, senyum sendiri, ketawa ngga habis, berkerenyit, sakit kepala, ngemilin roti atau biscuit di depannya dan sibuk ngedit tulisan juga foto. Hhaahah…..

Mari bersahabat denganku, kompi sayang……. ^_^ (jie)

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s