Rp 0,-, wisata kota

Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 3, Batang]

Before :

Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Awal]
Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 1, Cirebon]
Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 2, Pekalongan]

ROBAN YANG BELUM TERSENTUH

  • Perjalanan Singkat
  • Rencana Penghapusan KKLD

Perjalanan tercepat tim utara menuju Roban, Batang, yang ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Tumben aja nih… hehee..

Nunggu 10 menit, bus jalan hingga ke Kabupaten Roban tercatat hanya 50 menit. Bus murah meriah dari terminal Pekalongan hanya seharga Rp 3.000,- per orang. 28 menit kemudian kami tiba di Pos Polisi Tulis. Nego harga 10 menit dengan ojekers (pakai 3 ojek nih kita), 10 menit diskusi tim, sisanya leyeh-leyeh dan siap ngojek dengan ongkos Rp 80.000,- pulang pergi.

Brangcuuuzz….

Terminal Pekalongan menuju Batang (kiri atas). Bus ala backpacker, murah meriah (kanan atas). Pos Polisi Tulis, tempat pemberhentian untuk menuju ke Roban, Batang.
Terminal Pekalongan menuju Batang (kiri atas). Bus ala backpacker, murah meriah (kanan atas). Pos Polisi Tulis, tempat pemberhentian untuk menuju ke Roban, Batang.

***

Selasa, 23 Oktober 2012

  • Checkpoint ke-3, Roban, Kabupaten Batang

Roban, Batang adalah daerah konflik Kawasan Konservasi Laut dan Daerah (KKLD) yang terkait dengan penolakan warga nelayan terhadap rencana pembangunan PLTU.

Perjalanan ke Roban yang ditempuh dengan kendaraan bermotor, seperti memasuki kawasan hutan. Disisi kanan kirinya masih terdapat banyak tumbuhan. Tak sepenuhnya hutan, karena sudah banyak rumah penduduknya. Jalanan yang belum di aspal sepenuhnya, membuat ojek yang kami naiki terasa lambat.

Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Roban, Batang(photo by Ejie)
Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Roban, Batang
(photo by Ejie)

Memasuki Roban, kami disuguhi dengan hamparan sawah yang hijau sebanding dengan birunya langit menjelang senja yang bersih. Diujung perjalanan melintas rel kereta api yang tak jauh dari Roban, kampung nelayan yang akan kami datangi.

Kapal nelayan senja(photo by Ejie)
Kapal nelayan senja
(photo by Ejie)

Pak Salim, CP yang telah menanti kami di Roban menyambut baik kedatangan tersebut. Demikian pula dengan beberapa warga yang asik bermain catur dan bercerita di aula tempat kami diterima. Tampak di pusat pengelolaan ikan, warga yang membersihkan ikan-ikan dagangannya. Sebagian membersihkan hasil tangkapannya.

Tak menunggu lama, pembicaraan yang santai dan penuh keakraban langsung tertuju pada topik permasalahan yang sedang terjadi di Roban. Penolakan pembangunan PLTU itu bukan tanpa alasan.

Dijelaskan Pak Salim, jika pembangunan diteruskan, kemungkinan bisa merusak KKLD itu sangat besar karena menyangkut kehidupan dan perkembangan biota laut. Disana ada 1 karang yang termasuk dalam konservasi yaitu Karang Preketek yang dinyatakan masih aktif keberadaannya. Hal tersebut dianalisis oleh para pecinta alam salah satu kampus di Bandung yang telah melakukan penyelaman untuk melihat langsung kondisi karang preketek dan mematahkan perkataan Sekda Batang yang menyatakan bahwa karang tersebut sudah tidak aktif lagi dan tidak layak dipertahankan karena ada lumpur yang menutupinya. Kemudian jika pembangunan tetap dilaksanakan, akan mengancam dan merugikan mata pencarian masyarakat nelayan dan pertanian.

Tak hanya itu, akses ke PLTU pun masih kontroversi. Belum ada pembebasan lahan tanah yang akan digunakan untuk pembangunan. “Semuanya masih jalan kampung. Papan proyek pun tidak ada,” kata Pak Salim.

Beberapa aksi yang telah dilakukan Pak Salim dan teman-teman nelayannya terkait pembangunan PLTU, yakni mengadakan aksi ke propinsi di Kota Semarang dan aksi ke istana Negara di Jakarta dengan road show ke Kementerian Negara seperti Kementerian Perekonomian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian SDM dan Mabes Polri terkait dengan kekerasan aparat kepolisian terhadap masyarakat nelayan tertanggal 29 September 2012 serta road show ke Kementerian Lingkungan Hidup.

Salah seorang nelayan, Pak Roso yang ikut dalam road show tersebut dan menemani pembicaraan kami pun berkata bahwa ia ingin agar pembangunan PLTU tidak dilanjutkan, mengingat kehidupan nelayan yang mengandalkan perairan di Roban sebagai mata pencariannya sehari-hari.

Bersama Pak Salim dan Roso(photo by Tides/Bule)
Bersama Pak Salim dan Roso
(photo by Tides/Bule)

Bantuan support pun datang dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Greenpeace.

“LBH sudah melayangkan surat resmi yang berisi tentang tuntutan masyarakat terhadap pembangunan PLTU Batang. Kami harapkan dengan kondisi ini, permasalahan yang ada akan cepat ditindaklanjuti,” ujarnya.

***

  • Senyum Roban Untuk Solar Panel

Pak Salim yang juga hadir pada pembukaan Climate Rescue Station di Taman Lumbini, Candi Borobudur (13/10) lalu, menyatakan mendukung adanya energy terbarukan yang ramah lingkungan.

Untuk energy terbarukan ini, Pak Salim mengharapkan agar nantinya diadakan sosialisasi kepada masyarakat mengenai program Greenpeace terhadap energy terbarukan, menindaklanjuti agenda bertemu dengan masyarakat nelayan khususnya di Roban. Karena jika bisa, energy terbarukan ini baik digunakan oleh nelayan selain bisa meminimalisir untuk penerangan di kapal.

“Solar panel ini harus lebih steril dari kemungkinan debu. Selain itu, dalam musim penghujan, sinar matahari akan berkurang, tentunya alternatif lain akan terfokus pada pasokan keperluan kelistrikan. Apakah itu akan ada solusinya? Bagaimana pula untuk penyimpanan tenaga suryanya dalam baterai solar?” tanyanya.

Menurutnya, jika ada kerjasama yang terkoordinir, wilayah pantai tidak bermasalah untuk solarizing di wilayah perairan (laut), karena panelnya dapat diatur pemasangannya guna menghindari debu.

“Kami akan menerima solar panel dengan baik jika memang ada kerjasama nantinya,” ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Intermezzo penulis:

Roban, daerah yang belum cukup tergali. Kedatangan tim utara yang hanya 1 jam, jujur membuat saya pribadi merasa sangat kurang dalam mengeksplore hal-hal menarik yang ada di sekitarnya. Ibarat membersihkan telinga, dinding-dindingnya tidak terjamah. Hanya tergelitik sedikit dan membuat rasa geli itu bertambah untuk terus “dikorek”.

Dalam 1 jam cukup banyak informasi yang kami peroleh, namun tidak cukup kuat untuk menggalinya. Kedekatan bercerita dengan para nelayan yang saya lihat baik dalam menerima kehadiran kami disana, tentunya bisa berdampak positif ke depannya.

Keinginan untuk tetap bercerita, tawaran Pak Salim untuk menginap, mengikuti nelayan melaut di pagi hari sembari menanti sunrise, juga rasa penasaran untuk melihat kondisi karang preketek seperti yang diceritakan, serta menyusuri laut dengan kapal nelayan adalah keinginan saya untuk menjalaninya. Hal ini sudah tertanam dalam ingatan saya sejak Mas Didit memperlihatkan film dokumenter yang kami saksikan di saat briefing, bahwa roban adalah satu wilayah yang pantas “digali” secara dalam. Baik sebagai objek wisatanya yang belum tersentuh, maupun rasa keingintahuan terhadap kelanjutan kisah Roban yang terancam penghapusan KKLD. Ini incaran saya yang kurang tersentuh..

Jika ada kesempatan, saya akan mengulang untuk berkunjung kembali. Kali lain, akan menikmati seperti ingin saya. Semoga dan aku pasti bisa…. Senyum yang banyak Ejieeeeee…. ^_^
#pintaku, inginku, kusampaikan padaMU, amin yra..

***

to be continue 🙂

#okee.. checkpoint ke-4, Kota Lama Semarang yaaaa….

Langit senja merah jambu... Langit aslinya lebih bikin kita betah disana.. Sayang hanya 1 jam disana, kurang buat saya :((photo by Ejie)
Langit senja merah jambu… Langit aslinya lebih bikin kita betah disana.. Sayang hanya 1 jam disana, kurang buat saya 😦
(photo by Ejie)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s