Rp 0,-, wisata kota

Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 2, Pekalongan]

Before :

Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Awal]
Ransel Wisata menuju 4 Kota [Episode1, Cirebon]

Hiasan batik yang banyak di sekitar Kampung Batik Kauman.(photo by Ejie)
Hiasan batik yang banyak di sekitar Kampung Batik Kauman.
(photo by Ejie)

KAMPUNG BATIK PEKALONGAN

  • Perjuangan Pekalongan

Entah mengapa dari awal perjalanan, kendaraan adalah masalah utama tim utara. Betapa tidak, harga tiket ekonomi yang di luar biasanya yakni Rp 45.000,- membuat kami mengurungkan niat untuk segera berangkat ke Pekalongan. Menunggu adalah keputusan kami sambil terus mencoba berusaha mencari dengan cara langsung bertanya pada kendaraan jurusan Pekalongan.

20.00 WIB, Terminal Harjamukti, Cirebon menjadit empat kami memulai perjalanan menuju Pekalongan. Hampir 1,5 jam kami mencari, namun tak kunjung kelihatan tanda-tanda bahwa akan ada kendaraan yang bisa kami naiki. Tak letih, dari perempatan pos polisi terminal kami bergerak  maju hingga ke arah supermarket.

Berdiri, jongkok, duduk, sudah kami lakukan. Ejie dan Tides dari yang gaya kalem hingga loncat-loncat seru saat menyetop bus. Sudah berapa banyak pula orang-orang baik yang menawarkan pada kami untuk mengantarkan hingga ke tujuan. Dengan berbagai tarif kendaraan. Mulai dari tukang ojek, tukang parkir dan calo-calo bus.

Hingga terakhir seorang bapak tukang ketupat lontong yang melihat Ejie terduduk pegel di pinggir jalan menanti bus (Tides sedang izin ke toilet, numpang di supermarket-red) pun akhirnya menawarkan bantuannya, “Mbak, yuk naik kendaraan di depan sana aja. Saya sudah biasa jualan di bus itu, nanti saya yang bilang. Mbak mau kemana? Berapa orang?”

Ejie pun tak menyia-nyiakan kesempatan mengingat waktu yang semakin larut serta melihat kondisi tim yang tidak bisa diforsir terus karena esok hari harus mempersiapkan diri kembali untuk ke kota selanjutnya dan ngeliput.

Setelah sedikit ngobrol dan ditanya beberapa hal oleh pak supir, pasukan utara pun akhirnya naik. Dan tahukah pukul berapa kami memperoleh bus tersebut??

23.45 WIB, bus pun melaju dengan kencangnya menuju Pemalang. Haa???Udah lama nunggu, kenyataannya hanya sampai Pemalang? Eitsss… sabar lahh.. Kan udah dibilang perjalanan kali ini emang harus ekstra sabar. Ayo semangat kita kakaaaaa… 😀

Informasi yang kami peroleh, di depan supermarket tempat kami loncat-loncat mencari kendaraan, ada sekitar 30 orang menanti bus dengan tujuan yang sama pula. Kenapa bisa rame yah? Teringat bahwa ini adalah weekend terakhir. Mungkin orang berburu kendaraan untuk ngejar masuk kantor esok hari. Hmmm….. beruntung esok merupakan hari kerja kami yang isinya travelling ala backpacker. Xixixiii….

***

Dalam perjalanan, kembali Tides dan Bule yang selalu bisa terlelap dengan mudahnya, sementara Ejie yang sulit tidur, seperti biasa mendapat teman ngobrol dengan tidak sengaja. Heheheh…..

Dari bertanya mengenai harga tiket untuk sampai ke Semarang yang berkisar Rp 50.000,-, cerita pekerjaan dan perjalanan Pak Sambudi, Manager Telkom wilayah Semarang hingga akhirnya menyentuh petualangan tim utara.

Yeaahhh! Percakapan dan perkenalan yang tak sengaja ternyata membawa berkah. Apapun kami bicarakan. Dan beliau juga nyambung mengenai hal yang akan kami angkat untuk Kota Lama Semarang dan permasalahan penggerusan air lautnya. Bonus Ejie!!

Fiuuufhh… 3 jam menunggu sabar kendaraan yang tak sia-sia. Alhamdulillah juga tak ikutan nimbrung tidur di bus tadi. Keberuntungan dalam perjuangan perjalanan menuju Pekalongan. Hal yang harus sering disyukuri dari setiap perjalanan yakni, keberuntungan dan kesempatan. Terima kasih Allah… ^_^

***

Senin, 22 Oktober 2012

  • Checkpoint Ke-2, Kampung Batik Kauman, Pekalongan

02.30 WIB sampai di Pemalang dan kami terus melanjutkan perjalanan dengan bus lainnya. Upps! Allah itu emang baik yah? Kami akhirnya mendapatkan bus AC. Asiiiiiikkk….. lumayan buat mengurangi penat kami seharian ini akibat perjalanan dari Jakarta yang dapat bus AC abalan. Hha..Bayarannya cukup murah. Hanya mengeluarkan ongkos Rp 10.000,- sampailah kami pada checkpoint selanjutnya.

03.10 WIB, Kampung Batik, Wiradesa, Pekalongan. Tempat menginap aman, CP aman. Dan diujung sana, Novy, teman berlayar Sail Morotai sudah mejemput kami untuk beristirahat di rumahnya.

10.30 WIB, Tim utara bergerak ke Alun-alun Pekalongan dengan angkot sekali jalan. Tak mahal, hanya mengeluarkan ongkos Rp 3.000,-  per orang.

Sembari menanti Mas Achwan tiba, kami melakukan beberapa hal yang wajib dilakukan. Update status tentang posisi tim dan memotret beberapa spot, tentu saja dengan bumbu narsis disela-selanya.

12.30 WIB, Selesai shalat di Masjid Agung Pekalongan, tim utara bersama Mas Achwan makan siang di seputaran alun-alun. Panas memang, tapi berkat pohon beringin besar yang rimbun, suasana di sekitarnya menjadi adem. Banyak penjaja makanan yang ada disana. Mulai pukul 11.00 WIB, mereka sudah berdatangan untuk menggelar dagangannya.

Kami makan di sebuah lesehan pecel dekat pohon beringin. 1 porsi pecel dan 2 porsi gado-gado seharga Rp 3.000,-per porsi plus es teh manis menjadi pengganjal perut kami di siang itu.

Disisi lain beringin, ada tukang potong rambut yang Ejie ingat pernah masuk di salah satu acara jalan-jalan di sebuah televisi swasta. Sayangnya Ejie hanya memotret dan melewatinya saja sambil mengejar tim yang sudah bergegas ke arah Kampung Batik yang ada di depan gang berhadapan dengan Jalan Nusantara Alun-alun Pekalongan  ini.

***

  • Batik Cap dan Batik Tulis

 

(photo by Bule)
(photo by Bule)

13.30 WIB, Yihaaa..akhirnya, Kampung Batik Kauman pun menjadi tujuan kami selanjutnya. Mas Achwan mengarahkan kami ke Batik Zend. Disini kami memasuki 2 rumah. Yang pertama adalah rumah produksi batik cap dimana dilakukan proses pembuatannya mulai dari membuat pola di kain, mencanting dengan menutup malam (lilin batik-red), pewaarnaan, pelorotan dan dicuci bersih hingga akhirnya menjadi sebuah kain batik yang cantik dan layak jual.

Kain mori biasanya digunakan untuk membatik. Sebelum membatik, kain yang digunakan harus dicuci agar kainnya “lemes” dan mudah untuk mencanting atau menulis batik. Warna juga akan lebih nempel serta pengerjaan lebih baik.

Di rumah batik cap tersebut, tersedia berbagai macam motif sebanyak 500 cap yang berasal dari berbagai motif yang ada di Jawa Tengah. Diantaranya motif Pekalongan, Solo, Jepara dan lainnya.

Pekerja yang ada disini pun dibagi pada 2 lantai. Lantai bawah digunakan untuk bagian awal pembuatan batik seperti mencanting dan mewarna. Bagian ini dikerjakan oleh para wanita yang sebagian besar pekerjanya adalah ibu rumah tangga yang berdomisili di sekitar sana. Rata-rata mereka bekerja sudah belasan tahun.

Belajar dan berbagi info membatik dengan pekerja di rumah Batik Zend.(photo by Bule)
Belajar dan berbagi info membatik dengan pekerja di rumah Batik Zend.
(photo by Bule)

Disisi lain ada meja untuk menimbang obat yang dipakai saat pelorotan (proses melepas lilin dari kain dengan cara direbus kemudian dicuci-red). Di sebelahnya bagian pelorotan, pencucian dan penjemuran yang pengerjaannya dilakukan oleh para lelaki.

Pelorotan dan pencucian kain batik dilakukan di lantai bawah.
Pelorotan dan pencucian kain batik dilakukan di lantai bawah.
Batik cap dilakukan di lantai atas. Ada sekitar 500 motif batik cap yang tersedia disini.
Batik cap dilakukan di lantai atas. Ada sekitar 500 motif batik cap yang tersedia disini.

Lantai atas digunakan untuk proses pengecapan batik. Selain itu juga beberapa hasil akhir jadi dari proses pembuatan batik ada di lantai tersebut.

Beberapa hasil batik cap yang siap diwarnai(photo by Ejie)
Beberapa hasil batik cap yang siap diwarnai
(photo by Ejie)

Pembuatan batik cap untuk satu kain batik memakan waktu sekitar satu minggu dengan pengerjaan secara keseluruhan dari pembuatan hingga jadi mencakup waktu satu bulan untuk satu kain.

Batik Zend rumah kedua tak jauh dari rumah pertama merupakan tempat pembuatan batik tulis. Proses pembuatan batik tulis hampir sama. Bedanya hanya batik tersebut ditulis. Dan pembuatan satu kain batik tulis, waktunya lebih lama sekitar satu bulan. Makanya harga per kain jadinya bisa lebih mahal karena proses pembuatannya yang ditulis.

Hasil jadi batik tulis di rumah Batik Zend yang pengerjaannya lebih lama dari batik cap, siap didistribusikan ke rumah batik.(photo by Tides)
Hasil jadi batik tulis di rumah Batik Zend yang pengerjaannya lebih lama dari batik cap, siap didistribusikan ke rumah batik.
(photo by Tides)

Jenis kain yang biasa digunakan untuk batik adalah serat nanas, paris, dobi cina, fiskos, shiffon, sutera, krinkle dan  katun. Harga per kain batik ditentukan oleh jenis kain. Semakin terkenal dan mempunyai nilai sejarah yang bagus motif polanya, maka semakin mahal  pula harga jualnya.

 ***

to be continue 🙂

#cerita seru lainnya tentang sunset jingga dan perjumpaan yang hanya sejam 😦 di chekpoint 3, Batang. Ikuti terus ya… 😀

Terima kasih untuk Novy yang bersedia menerima kami menginap di rumahnya, juga untuk Mas Achwan, CP yang bersahabat :)(photo by Bule)
Terima kasih untuk Novy yang bersedia menerima kami menginap di rumahnya, juga untuk Mas Achwan, CP yang bersahabat 🙂
(photo by Bule)
Iklan

5 tanggapan untuk “Ransel Wisata Menuju 4 Kota [Episode 2, Pekalongan]”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s